Banned

Banned
Debat Kecil Di Pagi Hari


Pagi ini seperti biasa. Arsa akan membantu Nana untuk membersihkan diri dan berganti kemeja Arsa. Ya masih sama, berdiri di depan cermin. Arsa berdiri di belakang Nana, dengan mata sudah tertutup dengan kain hitam yang awalnya hanya ikat pinggang untuk pemanis dress Nana. Sebelum itu Arsa akan membantu Nana bergosok gigi.


Ini bukan yang pertama kalinya Nana meminta bantuan ke Arsa. Tapi entah kenapa sekarang ia merasa tak nyaman. Di tambah detakan jantungnya naik satu tingkat. Memory kemarin pagi masih tergambar jelas di kepalanya. Apalagi melihat Arsa ia seperti membayangkannya kembali.


"Kenapa? Kok gugup gitu? " Ucap Arsa yang mulai membuka kancing kemeja yang di kenakan Nana.


"Eh! Gak ada." Elak Nana.


"Bohong."


"Gak aku gak gugup."


"Kelihatan pipinya merah."


"Arsa." Malu Nana ia melampiaskan rasa kesalnya dengan menyikut bagian perut Arsa.


"Arghh!" Arsa sampai sedikit terhuyung kebelakang, sembari memegang perutnya yang terasa ngilu.


"Kamu tuh ngintip ya?"


"Arghh!" Rintih Arsa kesakitan kemudian ia berdiri tegap, " Ngintip darimana? Mata ku ketutup gini." Bohong Arsa.


Nana yang sudah membalikan badannya menghadap Arsa. Matanya menatap lekat kain hitam yang di baliknya ada mata Arsa yang ia tengah juga menatap Nana. Eh? Arsa jadi salah tingkah.


"Udah sini aku lepasin kancing bajunya." Tangan Arsa menjulur ke arah dada Nana ingin meraih kancing kemeja Nana. Tapi dengan sigap Nana menghindari.


"Ayo buru, yang lain pada nungguin kita loh." Ucap Arsa yang pura-pura tangannya meraba di udara. Ia tahu Nana menghindar, kesempatan Arsa untuk berakting seolah dirinya memang tidak melihat.


"Aku gak mau ganti baju sama kamu. Tolong panggil Nabila aja ke sini. Biar dia yang bantu aku." Ucap Nana ketus.


Arsa menaikan alisnya sebelah, "Sejak kapan akrab? " Arsa tahu Nabila selalu cuek dan bersikap dingin dengan Nana. Ya dia kaget dengan ucapan Nana barusan. Mana mungkin Nabila mau di suruh untuk Nana.


"Emang kenapa? " Tanya balik Nana.


"Iya mana mungkin Nabila mau. Kamu juga tahu sikap Nabila kayak apa sama kamu." Gak percaya Arsa.


"Maksud kamu? " Pura-pura tidak tahu.


"Iya maksud aku, aku gak nyangka aja Nabila bisa berubah secepatnya itu." Ujar Arsa yang tak mempercayai.


"Aku juga sama, aku mana percaya seorang Nabila bisa bersikap baik sama aku. Apalagi sama kakaknya." Sindir Nana.


"Maksud kamu?"


"Maksud aku, kamu itu persis kayak Nabila. Gak ada angin gak ada hujan kamu juga tiba-tiba bisa baik sama aku. Kan gak nyangka." Jawaban yang tepat sekali. Tepat menusuk di ulu hati Arsa.


"Maksud kamu, kamu gak percaya sama kebaikan aku selama ini? " Tanyanya kesal.


"Bisa... Bisa di bilang begitu." Ah, otak Nana sedang di mode refresh kenapa juga ia harus berkata demikian.


Arsa mengeratkan jemarinya, hembusan nafasnya terdengar kesal. Kepalanya memanas.


"Ya dong." Santai Nana dengan wajah tenang.


Arsa langsung mendorong tubuh mungil Nana dan menghimpitnya ke dinding. Mengunci tubuh Nana yang mungil dengan kedua tangan tertahan di dinding. Nana tersentak, aksi Arsa terjadi begitu saja. Nana hanya menatap kain hitam yang masih menutup kedua mata Arsa. Salivanya terasa sulit tertelan, jantungnya berdetak tak santai.


Arsa memiringkan kepalanya, bibir mereka saling bersentuh sesaat. Hanya kecupan sekilas tanpa nafsu. Mata Nana langsung melotot ketika ciuman itu berlangsung. Hingga Arsa menjauhi kepalanya. Nana mengerjap kaget. Ia masih mematung, diam menatap Arsa dengan diam. Saking seperti mimpi, di pikirnya kejadian kemarin hanya kecelakan.


Sekarang bukan kecelakaan. Ini bukti? Tapi bukti macam apa?


Arsa tersenyum menyeringai melihat Nana terpaku sesaat. Arsa berbalik badan, dan melangkah pergi. Tadi sebelum Arsa berbalik badan. Arsa membisikan sesuatu di telinganya. "Ini Morning Kiss."


Saat jalan ia lepas penutup matanya. Sebelum ia benar-benar menghilang di balik pintu, ia sempat berkata, "Aku panggil Bila sekarang." Teriaknya.


Nana mendengar itu langsung menyadarkan diri. Menyentuh bibirnya yang barusan Arsa cium. Masih ada getaran tak biasa di dada. Mengingat kejadian barusan membuat kakinya terasa lemas. Apalagi Arsa berbisik dengan sensual. Membuat bulu kuduknya berdiri. Nana tidak tahu harus bersikap seperti apa. Apakah dia harus marah atau senang?


Ia akui ada rasa senang. Senang awal langkah Arsa mau membuka diri. Tidak seperti Arsa yang dulu. Dan Nana juga tak inginkan itu. Tak ingin Arsa kembali seperti dulu setelah kesembuhannya. Tak bersama tidak apa, yang penting Arsa tak memendam rasa benci terhadap dirinya.


"Kak aku masuk ya." Bila mendorong pintu kamar mandi dan masuklah gadis cantik berambut pendek di sana.


Nana langsung menyadari dan melempar senyum ke arah gadis itu. Bila berjalan melangkah mendekati Kakak iparnya dengan di tangan membawa kemeja. Ya Nana selama di apartemen, Arsa selalu menggantikan baju dengan kemeja miliknya. Tanpa di pilih, bahkan kemeja yang ia sangat sukai ia kenakan di tubuh Nana. Saat Nana tanya kenapa Arsa melakukan ini. Dia hanya berkata ia suka aroma tubuh Nana. Arsa ingin semua baju kemeja miliknya harus di kenakan Nana setiap hari. Entah kebiasaan aneh Arsa datang semenjak kapan?


"Kenapa bengong?" Tanya Bila yang sudah membantu Nana berganti pakaian.


"Hah! Gak bengong kok." Elak Nana kemudian memasukan tangannya ke lubang lengan kemeja Arsa.


Nana malu ia tengah memikirkan hal-hal yang tak terduga selama dirinya dengan Arsa. Terbilang banyk hal-hal manis yang terjadi.


"Gimana tidur pertama kali sama suami sendiri? " Tanya Bila dengan tangannya menyisir rambut panjang sebahu Nana dengan pelan.


Sekarang Nana tengah duduk di depan cermin. Menatap wajah gadis yang sedikit mirip dengan wajah Arsa di pantulan cermin. Nana yang mendengar pertanyaan aneh membuat Nana memicingkan matanya tanda heran. Bagaimana Bila bisa tahu jika dirinya dan Arsa baru tidur untuk pertama kalinya di kamar dan seranjang pula.


"Aneh ya, aku tanya beginian." Tukas Bila, dari raut wajah Nana mudah di tebak.


"Ya, iyalah aneh." Tergelak Nana, ini pembicaraan yang sangat aneh bukan.


Nana dan Arsa menikah selama satu tahun. Dan sekarang bisa-bisanya Nabila bertanya kepadanya tentang ini. Jika memang Nabila tahu hubungan Nana dan Arsa tidak pernah baik. Jelas, semua orang tahu itu. Bahkan Mama dan Papa mereka juga tahu mereka tidur di ruangan berbeda.


"Iya sih aneh, buat kakak. Tapi kalau aku serius tahu." Ledeknya.


"Apaan sih Bil, udah argh jangan di bahas." Malu Nana.


"Apa sempet ini? " Menumpuk kedua telapak tangan Bila sebagai isyrat.


Nana tak semunafik itu tak tahu apa yang di maksud sang adik ipar. Ia menatap di pantulan tersebut dengan tersipu malu.


"Udah Bila gak usah di bahas. Kita keluar yuk yang lain udah nungguin loh." Skeptis Nana kemudian berlalu pergi meninggalkan kamar mandi dengan pipi bersemu.


"Kak ceritain dulu." Pekik Nabila tapi tak di hiraukannya oleh sang kakak ipar.


🍫🍫🍫