
Matahari dengan malu telah menampakan dirinya, jam menunjukan pukul 5:30 pagi. Arsa menikmati udara pagi dengan secangkir cokelat panas di teras samping. Hingga ia mendengar suara berisik tapi masih pelan dari dapur, Arsa kepo akan hal itu. Ya, ia fikir itu Laura. Karena ia tak tega membangunkan Laura sepagi ini. Jadi sekalian mengejutkan akan hadirnya tanpa Laura tahu.
Tapi saat Arsa memasuki ruang tengah ia tak mendapati siapapun. Yang terlihat hanya pintu belakang yang tertutup sendiri. Arsa pun langsung cepat melihat dari jendela depan siapa yang keluar lewat pintu belakang. Ternyata Nana yang pergi sepagi ini. Dengan menggunakan stelan baju yang cerah. Berlari kecil, hingga rambut yang sepinggang terurai mengikuti gerak lincah Nana.
"Mau kemana Si Aneh itu sepagi ini ?" Gumam Arsa.
Senyum tipis tampak di bibir Arsa, tapi ia buru-buru menarik senyum itu karena jantungnya mulai berdetak cepat.
"Neng Nana akhir-akhir ini suka berangkat sepagi ini ke toko." Sahut seseorang yang ikut melihat pergerakan Nana dari balik jendela.
Arsa tak menyadari itu, " Toko ? Toko apaan ?" Tanyanya sekali lagi.
"Loh, Aden selama ini nggak tahu ?" Heran seseorang itu.
Arsa mengernyitkan dahinya, ia berfikir sejenak. Mengolah obrolan barusan, ia tahu hanya dirinya saja di sini. Tidak ada yang lain, berartikan ? "HAH !!!" Kaget bukan main ketika Arsa melihat ke sisinya adalah " Mbok Imah, sejak kapan Mbok disini ?" Tanya Arsa yang sesekali mengelus dadanya akibat jantungnya berdetak cepat lebih dari sebelumnya.
Mbok Imah tersenyum memperlihat gigi-giginya yang tak lengkap lagi.
\=\=\=
"Pagi !" Teriak Nana bahagia, setelah memasuki toko cokelatnya.
Padahal orang pertama yang datang hanya dirinya. Toko masih lah sepi dari pengunjung dan karyawannya.
Sebelum beraktifitas seperi biasanya, Nana akan makan sarapannya yang ia bawa dari rumah. Sebelum itu Nana membuat secangkir cokelat panas, aroma yang membangunkan setiap saraf sensitif telah menyerbak keseluruh ruangan. Kemudian Nana mengeluarkan kotak bekal makanannya dari tas, membukanya. Ada dua slice roti panganggang isi pisang cokelat keju kesukaannya tentu ia buat dari jari-jari lihainya. Ia nikmati dengan secangkir cokelat panas.
Tak lama pintu terbuka, siapa yang datang ternyata dua pegawainya Riska dan Tedjo."Pagi Bu Boss !" Sapa mereka serentak membuat Nana yang mendengarnya langsung memerah.
"Apa sih ? Panggil Nana aja kenapa? "
"Ya faktanya Bu Boss adalah pemilik toko ini." Riska yang tengah memakai celemek kebanggaan Nana.
"Yup." Sahut Tedjo yang sedang menurunkan semua kursi dari atas meja.
Nana pun selesai menyantap sarapannya kemudian juga memakai celemek seperti mereka," Tapi enakan dipanggil nama tahu." Sungut Nana.
Mereka berdua terkekeh melihat ekspresi wajah Nana yang di buat jelek padahal jika di buat seperti itu semakin menggemaskan. Mereka fokus dengan pekerjaan masing-masing. Menyiapkan segala hal, membuat kue secepat mungkin karena dua jam lagi toko segera buka. Dan mereka para pelanggan sudah mengantri panjang di luar.
"Para pelanggan udah banyak di luar Na." Tedjo masuk kedalam ruangan eksekusi pembuatan cokelat-cokelat yang akan di eksekusi sesuai menu.
"Persiapan buat minum cokelat panas dan dingin udah di siapin kan ?" Tanya Nana yang jari-jarinya sibuk membuat adonan.
"Udah."
"Ya udah buka aja tokonya, kamu layanin mereka. Kalau ada yang tanya kue mungkin 30 menit baru selesai di masak." Nana terus fokus mengolah adonan.
"Oke." Tedjo langsung keluar dari pantry dan menuju pintu keluar untuk menaruh papan menu dan pertanda bahwa toko telah di buka di depan toko.
"Udah buka ya Mas ?" Tanya seseorang pelanggan.
"Udah Mba, silahkan masuk." Tedjo mempersilahkan pelanggan untuk masuk, rata-rata para mahasiswa karena toko cukup dekat dengan kampus hanya berseberangan saja.
Tedjo diakhiri dengan kesibukaan, melayani para pelanggan setia dengan ramah dan tak lupa tersenyum manis karena Tedjo lumayanlah ada manis-manisnya.
"Meja 09." Teriak Tedjo, hingga pelanggan yang duduk di meja 09 pun beranjak dari duduknya untuk mengambil pesanan berupa cake cokelat.
Nana sengaja menerapkan sistem kemandirian dari toko atau cafe miliknya. Jadi antara para pegawainya dan pelanggan mempunyai batasan. Maksudnya batasan, pegawainya berdiam diri di tempat seharusnya, dan para pelanggan bisa pesan , dan mengambil pesanannya. Kecuali tempat sehabis pelanggan mereka. Pastinya pegawainya yang membersihkannya. Agak ribet emang, tapi ini ciri khas toko milik Nana.
"Arghh, leganya." Helaan nafas Nana sembari duduk di kursi, dengan memijat lengannya sendiri.
Tedjo dan Riska pun demikian merasa puas dengan hasil kerja mereka hari ini. Semakin hari semakin ramai dan jam tutup pun bertambah semakin larut. Mereka sehabis membereskan pantry dan meja-meja yang perlu di bersihkan. Agar pagi-pagi bisa langsung beraksi.
"Gimana hari ini ?" Tanya Nana ke kedua pegawainya.
"Mantep." Jawab Tedjo memberikan tiga jempolnya sekaligus, dua ibu jari tangan, dan satu ibu jari kaki yang tak terlihat karena Tedjo menggunakan sepatu. Membuat Nana dan Riska tertawa karena ulahnya.
"Bener-bener ramai dari yang sebelumnya." Riska pun memberikan jawaban yang memuaskan bagi Nana.
"Nyangka nggak sih bisa serame ini ?" Tiba-tiba Tedjo berbicara memancing setiap gambar kenangan dulu susah payahnya Nana merintis usaha ini yang dari sendiri menjadi mampu memiliki pegawai seaktif mereka.
"Gue sih gak nyangka, dulu sepi banget. Yang ada Nana suka yang gak laku suka di kasih ke anak jalanan. Sekarang lihat, orang sampai pulang tanpa bawa apa-apa." Ujar Riska, Nana tersenyum mendengar bahwa Riska mengingat betul kerja keras Nana selama ini.
*Yang belum basi ya, dikira nanti yang basi di kasih😁.
"Iya juga ya, mungkin karena lo ikhlas kasih itu cake-cake ke orang yang lebih membutuhkan." Tambah Tedjo menatap Nana.
"Udah-udah, toko sejauh ini bisa serame ini juga karena kalian pada. Kalian yang udah setia sama gue. Kerja keras juga" Nana merangkul mereka berdua, karena Nana beruntung bisa punya mereka.
"Gimana kalau gue traktir makan enak ?" Mengingat Karyawannya yang sudah setia dengannya.
"Serius? " Wajah antusias mereka terlihat jelas, Nana bahagia masih di kasih orang-orang yang peduli dengannya.
"Seriuslah, ayo kita pergi sekarang. Lo pada mau makan apa ? Gue yang bayar."
"Asik !!!" Kompak mereka berdua dengan wajah yang sangat senang akan di traktir oleh Boss Wanita mereka.
Akhirnya mereka memilih makanan Jepang. Tak jauh dari toko mereka ada restoran Jepang yang menyuguhkan menu-menu terbaik mereka dan harganya pun cukup menguras kantong. Nana tak memperdulikan itu, sekali-kali membahagiankan bawahan enggak ada masalah. Uang bisa dicari.
Mereka datang dan memilih meja di dekat dinding kaca tebal menyuguhkan jalan besar yang banyak kendaraan berlalu lalang. Dan mereka pesan sesuai keinginan mereka.
"Inget nggak waktu itu ?" Riska mulai membuka pembicaraan, Tedjo dan Nana melihat ke arah Riska dengan serius.
"Waktu itu Tedjo-" Riska mulai bercerita.
"Ris!" Panggil Tedjo yang tiba-tiba menyenggol lengan Riska dengan tatapan Tedjo terarah di salah satu meja pengunjung di depannya.
Riska berdehem kemudian ia ikut melihat tatapan Tedjo. Alis Riska menaik sebelah, ia menunggu Tedjo bicara sembari melihat tatapan Tedjo terus menerus ke arah salah satu meja pengunjung.
"Woy ! Kesambet lu, yak?" Riska menyenggol kembali lengan Tedjo, membuat buyar tatapan Tedjo.
"Apaan sih Ris ?" Tedjo belum berubah menatap meja pengunjung yang di meja itu di tempati dua wanita dewasa.
"Lu tadi manggil Gue. Giliran Gue panggil balik Lo nya malah sewot. Ih bener-bener lu yak." Riska kesal merasa di candain. " Tuh liur ampe banjir, jorok!"
Tedjo menyadarinya langsung mengusap ujung bibirnya. "Mana ada." Kilah Tedjo memang tak ada apapun yang mengalir di bibirnya.
Nana keluar dari pantry membawa nampan berisi beberapa macam cake cokelat buatannya. "Riska, tolongin gue." Riska menerima nampan itu kemudian membawanya di bagian etalase untuk menaruh cake-cake itu semua.
Nana hampir masuk kembali, namun langkahnya terhenti sejenak melihat Tedjo asik dengan dunianya alias melamun. Nana mengurung niat untuk kembali ke pantry. Ia penasaran mendekati Tedjo yang diam seperti patung. Nana melihat arah mata Tedjo yang fokus di titik sebuah meja pengunjung terdapat dua wanita dewasa.
Riska selesai kemudian ingin masuk ke pantry namun di colek oleh Nana. Nana memberi tatapan seperti bertanya ada apa dengan Tedjo kepada Riska. Riska paham kemudian ikut mensejajarkan diri di sisi Nana. Riska mengambil nafas panjang lalu dibuang sembarangan.
"Lo liat pelanggan setia kita di meja 05, yang pakai baju biru tua." Nana mendengar dengan serius penjelasaan Riska hanya manggut-manggut.
"Udah beberapa kali wanita itu dateng, dan setiap dateng sikap Tedjo akan bersikap kayak gini. Kayak mayat hidup, matung tanpa gerak. Di tiup angin paling melayang noh, bocah." Jelas Riska, Nana yang mendengar pun terkekeh.
Nana dan Riska pun ikut menatap ke arah meja itu. Sama seperti Tedjo diam tanpa suara. Hanya memperhatikan gerak gerik mereka. Dua wanita itu tak ada berbicara sepatah kata pun . Hanya fokus di ponsel mereka masing-masing. Tak lama kedua pelanggan itu berdiri, berjalan menuju meja kasir tepat mereka bertiga berdiri. Dua pegawai dan satu pemilik toko.
"Berapa Mas ?" Tanya salah satu wanita itu kepada Tedjo.
Suaranya sedikit janggal bagi yang menyadarinya. Nana dan Riska langsung tatapan mata. Seolah kedua mata mereka bertanya ada yang aneh. Namun mereka kembali melihat Tedjo bersikap sumringah
Tedjo memberikan struk-nya kepada dua wanita itu. Kedua wanita itu sama-sama melihat nominalnya. Kemudian salah satunya mencari sesuatu di tas miliknya mungkin dompet atau uang.
Tedjo terus menatap wanita berbaju biru tua dengan senyum menggoda. Membuat wanita itu tersipu malu. " Apa sih Mas liat saya segitunya ?" Ujar wanita itu dengan malu-malu.
"Cantik." Sebuah satu kalimat yang terlontar begitu saja dari mulut Tedjo. Membuat si wanita itu memerah sepertinya, karena yang melihat tidak tahu warna malu wajah mereka. Make up yang sangat tebal tertoreh di wajah keduannya.
"Akh, Masnya gombal." Wanita itu memukul Tedjo tapi tak mengenai Tedjo." Tapi makasih loh."
"Buat apa ?" Tanya Tedjo semangat ketika wanita itu membalas obrolan awal yang singkat.
"Buat pujiannya." Malu-malunya.
"Sama-sama. Tapi selain kata cantik ada kepanjangannya." Tedjo semakin liar dengan rayuannya. Membuat Nana dan Riska pura-pura sibuk dengan sesuatu di tempat mereka berdiri. Padahal hanya ingin menguping.
"Apaan ?" Tanya wanita itu dengan suara mendayu genit.
"Cantik itu kamu."
"Itu bukan kepanjangan kali Mas." Wanita itu heran dengan ucapan Tedjo tadi, tapi tertawa juga.
"Bukan karena itu ungkapan." Wanita itu tersipu malu mendengar penuturan Tedjo. Sedangkan Nana dan Riska menelan salu5va mereka bersamaan. Merayu tapi ada suasana mengganjal.
Wanita satunya masih sibuk dengan mencari sesuatu di tasnya. "Jangan bilang loh ya." Wanita berbaju biru tua itu memberikan tatapan tajam kepada temannya. Melihat temannya sedang mencari sesuatu, tapi wanita berbaju tua itu seolah paham.
"Kalau boleh tahu namanya siapa ?" Tedjo memberanikan diri untuk kembali bertanya ke arah wanita yang tadi ia rayu dengan kata maut. Dan menyodorkan tangannya ke arah wanita itu.
"Maria, Mas." Jawabnya malu-malu.
"Tedjo." Senang terlihat di wajah Tedjo mendengar nama wanita tersebut.
"Nggak ada." Teman wanita itu memasang wajah bersalah, membuat wanita berbaju biru tua bernama Maria itu memasang wajah mengeras seperti marah dengan temannya barusan. Wajah Maria sebelumnya tak terlihat, seperti mempunyai wajah dua sisi.
Mendengkus Maria dengan mencari sesuatu di tas miliknya. Dompet yang ia keluarkan, menarik beberapa lembar uang berwarna biru seperti warna bajunya.
"Lo ya, kemana-mana Gue yang bayar. Banyak alesan, dompet ketinggalanlah, hilanglah. Gue tuh males kalo lo yang ngajak Gue pergi. Ujung-ujungnya Gue yang bayar kan. Lo tuh kebangetan tahu gak." Maria marah kepada temannya dengan rentetan kata-kata kesal.
Nana, Riska, dan Tedjo melotot selebar-lebarnya kedua mata mereka. Tak luput kedua telinga mereka yang benar-benar mendengar jelas bentuk suara sepertinya wanita yang bernama maria. Suara Maria terdengar seperti lelaki macho. Besar, berat dan serak. Bukan suara sebelum ia marah kepada temannya. Tedjo menelan salivanya dan tak berkedip sama sekali. Sampai Maria menyodorkan uang cash pas kepadanya.
Tedjo hanya melongo mungkin shock karena kenyataanya tak seindah bayangannya. Ia melihat kepergian Maria dan temannya pergi menjauh dan keluar dari toko. Sebelum pergi Maria berucap terimakasih dengan suara awal mereka saling merayu dan memberikan flay kiss kepadanya. Setelahnya Tedjo bergidik entah apa yang di bayangkan di otaknya.
"Pisang ketemu pisang nih." Ledek Nana dengan tertawa terbahak-bahak kemudian di susul Riska.
"Saking kelamaan jomblo, jadi gak bisa bedaiin mana wanita tulen sama wanita jadi-jadian." Sambung Riska ikut meledek Tedjo.
Tadinya mereka ingin tertawa tapi takut orangnya tersinggung. Jadi mereka tahan sebisa mungkin. Perut mereka sampai kram, mengeluarkan air mata ketika Nana ketawa. Tertawa lepas setelah wanita jadi-jadian telah pergi.
"Djo, nggak minta nomer hapenya sekalian." Timpal Riska yang memegang perutnya efek tertawa berlebihan.
"Apasih kalian ?" Tedjo malu setengah abad, ia memasang wajah masam karena kejadian tadi.
"Gue kasih tahu ya Jo, namanya tuh tadi belum rampung di sebut." Nana menepuk bahu Tedjo, di susul Riska yang ikut mensejajarkan mereka berdua dengan tawa yang tertahan.
"Kenapa tuh ?" Sahut Riska.
Nana mengatur nafas yang tersengal akibat tertawa berlebih," Namanya tuh-" Riska masih di mode menanti jawabannya, Tedjo seperti terlanjur malas untuk mendengar." MariaNTO !" Teriak Nana di barengi suara tawa renyah.
"NANA!" Teriak Tedjo karena malu, dan Tedjo beralih pergi ke dalam pantry guna menghindari ejekan kedua wanita yang sedang kerasukan alias tertawa tak henti-henti.
Mereka masih tertawa jika ingat kejadian yang memalukan untuk Tedjo. Namun menyenangkan untuk Riska dan Nana. Lalu menunggu pesanan mereka , mereka masih berbincang di selangi tawa renyah dari mereka. Sebenarnya restoran sedang hening sebelumnya, tapi setelah mereka masuk berubah menjadi pasar penuh kebisingan. Tapi sekali- sekali suara mereka pelankan karena tahu diri.
Pesanan datang mereka menyantap dengan lahap. Sesekali berbincang ringan. Namun ada yang mengganggu pemandangan Nana. Ia melihat seseorang memperhatikan dirinya. Seperti mencuri-curi, ketika Nana sadar lelaki itu seolah-olah tak sedang memandang dirinya. Karena tak terlihat jelas, wajah orang itu tertutup tubuh lawan duduknya di depannya. Jadi Nana tak bisa memastikan itu siapa.
\=\=\=