
Cklek!
Arsa menoleh arah pintu, dan cepat-cepat menyeka air matanya. Ternyata Mbok Imah datang membawa baju ganti Nana selama di rumah sakit. Dan menyiapkan beberapa stel baju untuk Arsa. Mbok tersenyum ke arah Arsa, dan menaruh tasnya di meja.
"Aden, Aden makan dulu gih. Biar Mbok yang gantian jaga di sini." Mbok Imah seperti Ibu sendiri bagi Arsa, wajar Mbok Imah tak sungkan kepadanya.
Arsa tak menjawab, matanya terus terjaga ke arah seorang gadis terbaring lemah di sana. Sesekali ia usap pergelangan tangan Nana dengan lembut.
"Aden, kalau Aden gak makan. Kalau sakit, terus yang gantian jaga Mbok di sini siapa? " Mbok Imah hanya khawatir dengan keadaan Arsa sekarang.
Arsa tersentak, " Iya kalau aku gak makan, siapa yang bakal jaga Nana disini." Arsa mengangguk kemudian berdiri.
Mbok Nana tersenyum, tak lama dering ponsel Arsa bunyi. Arsa merogoh saku celananya. Dan menampilkan nama Laura di layar ponselnya. Arsa mendengus melihat siaoa yang nelfon. Seperti tak ada gairah untuk menerima panggilan yang mengusiknya sekarang. Ia milih mengabaikannya.
"Mbok Arsa pergi sebentar, tolong jaga Nana. Kalau ada apa-apa telfon Arsa, dan cepat panggil dokter atau perawat ya Mbok." Pesan Arsa sebelum pergi meninggalkan Nana bersama Mbok Imah.
Mbok Imah hanya mengangguk dan tersenyum.
"Sayang kamu di mana sih ?" Suara manja Laura di seberang sana.
Arsa memutar bola mata jengah mendengar suara Arsa. Mendengarnya mengingat kejadian yang memilukan yang menimpa Nana. Arsa sedang marah karena Laura bertindak berlebihan.
"Sayang kamu masih di sana kan ?" Suara Laura mengejutkan Arsa.
"Iya nanti kalau pekerjaan aku udah beres aku jenguk kamu." Lalu Arsa memutuskan telfon sepihak.
Membuat Laura di sana mendengkus kesan.
\=\=\=
20 menit Arsa pergi, ia kembali ke rumah sakit. Orang sekitar menatap Arsa dengan tatapan aneh. Arsa tak peduli dengan tatapan orang kini. Karena penampilannya sungguh bukan Arsa. Rambut tak tertata rapih, kemeja hitam yang acak-acakan, wajah yang tak segar, sungguh tak ada gairah untuk sekedar mengganti baju atau membersihkan diri.
Arsa sudah tak mood dengan penampilannya kini. Padahal Arsa adalah orang fashionable banget. Apapun jika ia keluar yang dia perhatikan ujung kepala sampai ujung kaki. Ia tak mau kesan orang pertama kali adalah orang yang tak displin. Baginya penampilan adalah nomer satu.
Tapi sekarang berbanding terbalik ketika Nana tak sadarkan diri akibatnya. Mungkin bisa dikatakan begitu. Jika dirinya tak menegur Laura, dan Laura tak berlebihan dalam bertindak, dan Laura tak mengadu ke Nenek Areta. Mungkin saja tak terjadi apa-apa dengan Nana sekarang.
Arsa kembali ke ruang rawat dimana Nana di sana. Ketika ia membuka handle pintu, dan membuka sebagian pintu. Yang ia lihat sungguh membuat matanya terbelalak lebar.
Arsa terkejut menatap ke arah seorang wanita yang tak asing baginya, " Mama !"
Mama Tamara yang menoleh berdirinya Arsa dengan mata yang sudah basah mungkin menangis melihat keadaan tragis Nana sekarang. Terlihat di bola mata sang Mama sedang menahan marah. Arsa sampai takut menatapnya.
Mbok Imah pun menoleh, Mbok Imah yang berdiri menutupi baringnya Nana. Yang Memberi ruang sedikit agar Nana terlihat. Tapi Arsa lebih kaget, sosok yang ia nanti, sosok yang ia sebut dalam doanya, sosok yang membuat setiap detik penuh dengan rasa khawatir, sosok yang membuat dirinya menangis berhari-hari, sosok yang membuat hatinya patah berkeping-keping.
Ada perasaan gemuruh di dalam hati nya. Melihat sembulan pucuk kepala sang istri di antara Mama dan Mbok Imah. Hatinya lega selega leganya. Gimana kemarin ia takut kehilangan sosok yang dulu tak pernah ia anggap sama sekali. Frustasi dan merasa bersalah.
"Nana!" Kaki terasa lemas, paru-paru seolah terhimpit. Sesak rasanya.
Nana memunculkan dirinya dari balik tubuh Mbok Imah. Agar bisa melihat jelas siapa di sana.
Flashback end
Setelah kepergian Arsa 30 menit yang lalu. Ketika Mbok Nana sedang mengelap wajah Nana menggunakan handuk kecil. Tiba-tiba ada seorang wanita menyerobot masuk kedalam ruang rawat Nana. Wanita itu terlihat matanya sembab.
"Nyonya ?" Kejut Mbok Imah yang berulang kali mengerjap mata.
Setahu Mbok Imah, Mama Tamara sedang ada urusan di Jepang. Hampir seminggu lamanya Papa Adi dan Mama Tamara di sana. Dan dengar-dengar mereka datang kesana untuk menghadiri wisuda anak perempuan keduanya. Sungguh membuat terkejut Mbok Imah melihat kedatangan Mama Tamara.
"Nana! " Mama Tamara berhamburan masuk memeluk Nana dengan pelan. Menangkup wajah yang pucat. Terbaring seperti mayat hidup.
Tangisan Mama Tamara pecah melihat balutan perban di tangan kiri Nana. Matanya tak henti mengusap air mata yang luruh bergantian guna memperjelas pandangannya di setiap luka yang terpampang dengan jelas. Di area wajah yang mulai memudar, dan kedua telapak tangannya penuh luka seperti sayatan.
"Nana, maafin Mama." Suara bergetar terdengar, kini Mama Tamara menatap sedih kearah wajah ayu yang penuh teduh.
Mama Tamara membelai lembut puncak kepala Nana. Ia mencium kening menantunya dengan penuh cinta.
Mbok Imah hanya terdiam, mengikuti suasana. Mbok Imah merasakan pedihnya yang teramat Mama Tamara. Mama Tamara begitu menyayangi Nana seperti anak kandung sendiri. Lebih dan lebih.
Bagaimana bisa gadis yang baik dan begitu patuh bisa mengalami masalah mental. Hanya kata maaf keluar dari bibir Mama Tamara yang begitu memilukan.
Mama Tamara sebelum masuk ke ruangan rawat inap Nana. Ia terlebih dahulu bertemu dengan Dokter. Mama Tamara ingin kejelasan dari yang ahlinya. Sampai ia terpukul mendengar Nana memiliki gelaja gangguan mental. Walau belum parah baru awalan. Tapi itu menyakitkan bagi Mama Tamara.
"Mbok bagaimana ini bisa terjadi ?" Hanya itu yang Mama Tamara layangkan pertama kali.
Mbok Nana menceritakan kejadiannya dengan ringkas dengan jelas kepada Tamara. Tamara tak sanggup mendengarnya, ia berulang kali membekam bibirnya tak percaya, air matanya seluruh deras. Sesekali ia melihat ke arah Nana. Tangisannya semakin terisak.
Tamara sampai tak bisa menompang tubuhnya. Ia terhuyung, dan memijat pelipisnya. Mbok Imah membantu Tamara duduk di sofa. Dan memberikan botol air mineral.
Tamara masih membayangi gimana penderitanya Nana waktu itu. Netra hitam mengkilat itu menyembunyikan kesedihan yang teramat sangat. Hatinya terpukul.
Mbok Imah duduk di sisi Tamara dengan memberikan dukungan energi baik.
Jentik jemari Nana bergerak, ia mencoba membuka mata. Yang pertama kali ia dengar suara tangisan tapi entah siapa, dan suara Mbok Imah yang akrab di telinganya. Kemudian ia membuka matanya perlahan, tubuhnya sekarang mulai merasakan kaku dan sakit. Bola mata cokelat terang melihat seluruh atap langit. Merasa dirinya di tempat yang asing. Mencoba mengingat apa yang terjadi.
Ya akhirnya ia ingat dengan jelas. Air matanya mulai menggenangi ruang matanya. Ia hidup sudah menyusahkan orang lain, kenapa Tuhan masih menyelamatkan dirinya ? Pikir Nana.
"Mbok, Mbok Imah." Nama yang pertama kali ia sebut.
Tamara dan Mbok Imah terkejut mereka saling pandang.
"Mbok, Mbok Imah." Panggil lagi dengan suara serak.
Mata mereka bertemu dan bersamaan bola mata mereka melirik ke arah suara yang memanggil nama Mbok Imah. Mereka saling tersenyum, lalu bergegas menghampirinya.
Mata keduanya berbinar melihat Nana sadar dari komanya. Tamara dan Mbok Imah tersenyum lebar ke arah Nana. Nana membalas senyum mereka dengan sedikit memaksa.
Mata bermanik cokelat menatap ke seseorang selain Mbok Imah, "Mama kok bisa ada Mama di sini ?"
Mbok Imah pergi menemui Dokter Anita untuk memberitahu keadaan Nana. Dan Tamara tersenyum bahagia, tak henti-hentinya Tamara mencium kening Nana dengan lembut. Air matanya tak mau henti, awal menangis takut Nana kenapa-kenapa. Sekarang tangisannya berubah tangisan haru bahagia.
Nana menangkap tatapan Tamara yang penuh hangat. Nana tersenyum, ikut tersentuh perlakuan Mama mertuanya. Tak ada sepatah kata pun. Cukup mata mereka beradu sebagai perantara perasaan mereka masing-masing.
Tak lama Dokter Anita masuk dengan satu suster. Dan meminta Tamara dan Mbok Imah untuk keluar sebentar. Mereka pun mengangguk, dan keluar menanti Nana di periksa.
"Jangan terlalu stres ya, kalau ada unek-unek atau masalah kamu bisa bicara sama saya." Kata Dokter Anita ketika selesai memeriksa Nana.
Nana mengangguk paham. Kemudian Dokter Anita pamit undur diri. Tamara dan Mbok Imah menghampiri Dokter Anita ketika keluar dari raungan.
"Bagaimana Dok ?" Tanya Tamara khawatir, Dokter Anita tersenyum ramah.
Dokter Anita berkata, "Jangan khawatir ya, menantu Ibu keadanya mulai stabil. Untuk beberapa minggu mungkin sudah pulih sedia kala. Tapi saya mohon jangan membuat pasien merasa tertekan. Konflik, masalah apapun tolong di kesampingkan supaya tekanannya stabil. Tolong didampingi dengan penuh perhatian ya Bu."
Tamara mendengar setiap kalimat Dokter Anita penuh serius. Ia pun hanya mengangguk tanpa menyela bicaranya Dokter Anita.
"Dan pasien harus makan yang teratur, tolong makanan yang seperi telur, daging, atau ikan jangan di berikan dulu. Pasien juga harus istirahat tepat waktu, dan minum sesuai anjuran dokter." Begitulah akhir dari percakapan antara mereka.
Begitu usia bertemu Dokter Anita, Tamara dan Mbok Imah langsung tak sabar menemui Nana di dalam. Tamara tersenyum lebar ke arah Nana yang kini tengah berbaring menyandar.
Suster yang tadi pun selesai mengganti infus dan alat-alat yang membantu Nana selama koma pun di lepas. Dan suster itu izin pamit keluar setelah tugasnya selesai.
"Bagaimana keadaan mu, Nak ?" Tanya Tamara lembut.
"Udah baikan Ma." Balas Nana.
"Syukurlah." Lega Tamara yang mengecup kening Nana.
"Neng mau makan? " Tawar Mbok Imah.
"Nana belum mau makan Mbok." Tolak Nana.
"Eh harus makan biar cepet sehat. Tiga hari perut kosong loh Neng. Harus makan ya." Mbok Imah mulai dengan kebawelannya.
Nana menggeleng, "Nana mau minum cokelat panas Mbok." Memelas Nana.
Tamara dan Mbok Imah saling pandang.
Flashback End
🍫🍫🍫