
Dengan langkah gontai, hampir ia ketuk pintu Nana.
"Aden!" Lirih Mbok Imah yang tiba-tiba sudah di belakangnya.
"Huh, Mbok ngagetin Arsa." Arsa mengelus dadanya yang tersentak akibat kemunculan Mbok Imah yang tiba-tiba.
Mbok Imah hanya menyengir, lalu mengisyaratkan untuk berbicara pelan. Arsa mengerutkan dahinya, Mbok Imah menarik lengan Arsa menuju dapur.
"Ada apa sih Mbok ?" Heran Arsa.
Mbok Imah bukannya menjawab malah memberikan tas kecil khusus menaruh makanan yang bersifat panasnya tahan lama.
"Neng Nana sedang istirahat Den. Jangan di ganggu dulu." Bohong Mbok Imah.
"Oh, emang nggak kerja dia Mbok ?" Tanya Arsa.
Mbok Imah kebingungan, pasalnya, walaupun tangan sedang terluka bukan berarti tidak berangkat kerja. Dan semakin bingung menjawab apa. Tidak mungkin ia jujur dengan insiden tadi pagi. Mungkin bisa membuat masalah yang baru buat Nana.
Arsa sedikit mulai curiga dengan mimik wajah Mbok Imah yang sedang memikirkan sesuatu. Ia bertanya tidak langsung di jawab. Malah diam berfikir entah itu apa ?
"Mbok ? Mbok gak apa-apa kan ?" Tanya Arsa. Membuat lamunan Mbok Imah buyar.
"Cepet anter buburnya ke Non Laura nanti keburu dingin loh." Mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh, iya, tapi kalau bisa mulai pagi untuk kebeberapa hari kedepan buatin bubur lagi ya Mbok." Sedikit ada rasa kesal di benak Mbok Imah, karena Laura lah yang mengadu masalah lusa kemarin sampai membuat Nana di siksa habis-habisan.
"Iya." Jawab Mbok Imah, kemudian Arasa pamit pergi ke rumah sakit.
"Gara-gara nek lampir ngadu ke buyutnya lampir. Neng Nana jadi di siksa sama buyutnya lampir." Kesal Mbok Imah.
\=\=\=
Suara tawa menggelegar ke seluruh ruangan rawat inap. Dengan menahan sakit di pipinya pun masih tertawa bahagia. Karena Laura mendapat beberapa video pendek dari managernya bernama Ina. Yaitu video Nana yang tengah di amuk oleh Nenek Areta dengan beringas.
Manager Ina tadi pagi di minta Laura untuk ambil beberapa pakaian ganti di rumah Arsa. Namun bukannya masuk dan menuju kamar Laura. Manager Ina mendapatkan tontonan yang menghibur mata.
Manager Ina terhenti langkahnya, mendengar suara Nenek Areta yang sedang menampar berulang kali untuk Nana. Sempat terkejut, namun pikirannya terbesit untuk memgabadikan adegan itu lalu akan mengirim potongan-potongan video itu ke Laura.
Setelah menonton dan mengambil gambar video seperlunya. Manager Ina mengurungkan niat untuk masuk. Keadaannya pun tidak memungkinkan untuk masuk dengan sesukannya. Dan baru sore ini ia mengirim video siksaan Nana ke Laura.
"Tsk, gak rugi juga punya kartu as seperti Nenek bandot kayak dia. Bisa di andelin juga nih orang." Ucap Laura dengan wajah menyeringai jahat.
"Seenggaknya tinggal beberapa persen lagi buat bisa milikin Arsa seutuhnya. Emang aku bisa punya hatinya, dan raganya. Tapi... statusnya belum." Seringai Laura merasa belum puas.
Setelah kejadian Nana dan Laura malam itu. Laura mengadu ke Nenek Areta. Karena Nenek Areta lah yang merestui hubungannya dengan Arsa. Sebenarnya Laura merasa kurang yakin jika mengadu je Nenek Areta. Laura bisa mendapatkan perlakuan yang ia inginkan.
Tapi tak di duga, Nenek Areta sudah melakukan nya di luar batas. Itu malah membuat Laura semakin puas. Ya walau nggak bisa balas dendam pribadi. Cukup puas ia tak perlu mengotori tangannya untuk Nana.
Cklek !
"Laura, ini bubur yang kamu minta." Arsa masuk ke dalam ruangan Laura tanpa permisi. Membuat Laura kelojotan dengan cepat ia kembalikan layar ponselnya ke layar utama.
"Arsa, kamu ngagetin aku aja." Manja Laura padahal jantungnya ingin pindah tempat.
"Berlebihan." Ledek Arsa yang kemudian membuka apa yang ia bawa tadi dari rumah.
"Ini dimakan mumpung masih hangat." Arsa memberikan mangkuknya ke Laura.
Laura menggeleng kepala, memasang wajah cemberut. "Kenapa? Kan udah aku bawain." Kata Arsa yang akan duduk di kursi.
"Suapin." Malu Laura.
(Nyesek woy😳)
\=\=\=
Di sisi lain.
Nana menyandarkan kepalanya di dinding. Dengan telaten Mbok Imah menyuapi Nana dengan semangkuk bubur yang ia buat lebih tadi. Makan saja harus perlu bantuan. Tiba-tiba air mata Nana luruh seketika. Cepat-cepat ia seka air matanya menggunakan lengan tangannya.
"Kenapa Neng ?" Tanya Mbok yang khawatir.
"Buburnya gak enak ?" Tambah Mbok Imah, namun Nana tertawa kecil mendengar pertanyaan aneh dari Mbok Imah. Buburnya tentu enak, apalagi buatan Mbok Imah.
"Mbok nih, buburnya enak kok." Jelas Nana memandang wajah Mbok Imah dengan sayup.
"Lah, terus ?" Bingung Mbok.
"Hidup Nana yang gak enak, Mbok." Air mata terus luruh dengan deras, terasa memanas menghayati emosi hidupnya.
"Makasih Mbok, kalau enggak ada Mbok. Gimana nasib Nana sekarang ? "Ucap Nana tulus.
Mbok Imah pun ikut suasana Nana. Karena Mbok Imah lah saksi hidup Nana yang begitu liku-liku dan terjal. Mbok Imah ikut menangis, bagaimana perjuangannya yang membangun mental Nana di kala itu.
Mungkin jika bukan karena Mbok Imah, Nana tidak bisa bertahan hidup sampai sekarang.
"Makasih yang tak terhingga buat Mbok. Mbok kayak orang tua pengganti buat Nana. Di berbagai keadaan Nana. Mbok selalu ada buat Nana. Dan Nana belum bisa balas apa-apa. Alasan Nana hidup hanyalah untuk Mbok. Makasih Mbok." Peluk Nana, Nana menangis terisak-isak.
"Cup-Cup, Mbok gak merasa terbebani. Mbok malah bahagia bisa merawat Neng Nana dari kecil sampai sekarang." Sambut hangat Mbok Imah, pelukan Mbok Imah masih sama seperti dulu. Hangat dan menenangkan bagi Nana.
"Udah jangan nangis lagi." Mbok Imah melepaskan pelukan mereka.
"Mbok selalu ada buat Neng, sekalipun dunia nggak berpihak sama Neng Nana. Mbok selalu ada buat Neng, kapanpun." Mbok Imah menangkup wajah Nana dan menghapus air mata Nana dengan lembut.
"Tapi Mbok, Nana minta maaf kalau nanti Nana ada buat salah. Apapun itu Mbok jangan nangis." Ucap Nana dengan suara yabg menyisakan tangisnya.
Deg !
Mbok Imah langsung melepas tangannya, dengan wajah menegang. Mbok Imah seperti dejavu saja dengan situasi ini. Ia berusaha mengingat tentang apa dan apa. Namun karena faktor usia, Mbok Imah tak ingat apapun.
"Udahlah jangan di bahas lagi, makan lagi ya." Mbok Imah menjauhkan pikirannya yang entah itu apa.
Nana mengangguk, dan menerima suapan demi suapan dari Mbok Imah.
"Neng, apa nggak kita ke rumah sakit. Lihat lukanya parah, kalau nggak sama yang ahlinya gak bakal sembuh." Mbok Imah masih saja khawatir.
"Nggak apa-apa Mbok. Seminggu paling lama udah sembuh." Nana menatap luka di area tangannya dengan tersenyum menyedihkan.
"Tapi-" Kalimat Mbok Imah menggantung.
"Tapi apa ?" Tanya Nana menunggu kelanjutan kalimatnya.
"Tapi, kalau Aden Arsa keras kepala ingin liat Neng gimana ? " Tersentak Nana dibuatnya.
"Maksud Mbok apa ?" Bingung Nana, karena Arsa orang kedua setelah Nenek Areta yang membenci dirinya. Seperti Indonesia akan turun salju saja yang artinya mustahil seorang Arsa yang membencinya, mendarah daging masih peduli dengannya.
"Tadi, Aden Arsa mau lihat keadaan Neng. Tapi cepat-cepat Mbok cegah." Kata Mbok Imah.
"Arsa ?" Lirih Nana yang masih tidak percaya.
\=\=\=