Banned

Banned
Choco Shop


Di sebuah toko mini berpapan nama Choco Shop yang bernuansa serba cokelat dari cat dinding hingga dekor yang menampilkan kentalnya nuansa berbau cokelat . Di setiap etalase tertata rapih replika menu-menu andalan . Dan setiap orang yang akan masuk akan mencium aroma kuat cokelat bertebaran di seluruh ruangan.


Pengunjung tak pernah sepi dari pagi hingga malam. Membuat para pekerja di sibukan oleh antrian panjang. Aroma manis dan khas cokelat dari Choco Shop mengundang banyak orang untuk sekedar ingin tahu apa rasa istimewa cokelat mereka.


Yang dari luar saja sudah tercium dan membuat saliva menelan beberapa kali.


"Nana, aku pulang duluan ya." Riska adalah salah satu pekerjanya.


Nana yang juga bersiap ingin pulang "Oke" Balas singkat Nana.


"Gue juga ya." Di susul Tedjo melambaikan tangan kemudian keluar dari toko.


Nana pun tersenyum, kemudian mengikuti langkah Tedjo. Nana keluar dari toko kemudian mengunci pintu toko. Nana pulang agak larut di karenakan toko semakin ramai dan semakin larut pula jam tutup toko. Membuat Nana harus telat pulang.


Nana berjalan menyusuri trotoar dengan hati gembira. Dalam hatinya bersenandung bahagia di wakilkan oleh wajahnya yang berseri. Malam itu terlalu dingin untuk tubuh mungil Nana Alina. Tapi Nana malah menikmati setiap hembusan angin. Dan selalu memanjatkan kata syukur.


Sebenarnya hanya membutuhkan 15 menit waktu tempuh dari rumah tinggalnya ke toko. Tapi ia habiskan 30 menit hanya untuk menikmati susana malam berbintang dengan berjalan kaki.


Dari luar sudah terdengar kebisingan suara musik dan tawa mereka dari dalam rumah. Entah ber-volume berapa sound musik yang di nyalakan hingga terdengar dari luar padahal rumah yang di tinggalinnya sudah terbilang kedap suara.


"Apa telinga mereka budek ?" Kesal Nana memilih masuk lewat pintu belakang.


" Aku yakin besok aku di tegur lagi sama tetangga." Racau Nana kesal.


Semenjak Nek Lampir datang ke rumah. Seminggu yang lalu. Ia selalu di tegur oleh tetangga karena rumah yang di tinggali Nana selalu ramai dan berisik. Nana hanya mengangguk saja ketika para tetangga menegurnya. Sebenarnya bisa saja Nana memberitahukan kepada Nek Lampir. Tapi ia hanya malas saja menghadapi Nek Lampir. Lebih baik mengahadapi celoteh para tetangga.


Padahal Nana menepati kamar yang cukup luas di lantai atas. Sebelum Nek Lampir mngusik kehidupannya. Tapi kini ia mengalah menempati kamar yang sederhana di dekat area dapur. Rumah yang Nana tinggali cukup besar. Satu rumah memiliki lima kamar. Dua kamar terdapat di lantai atas. Dan yang satu kamar tamu terletak di lantai bawah. Dan dua kamar berukuran kecil di dekat dapur.


Ketika ia pulang, ia hanya perlu masuk lewat pintu belakang. Semenjak Nek Lampir membawa teman-temannya masuk ke rumah hampir setiap hari hanya untuk berpesta ria.


Ia melihat segerombolan anak muda di ruang tengah. Tercium aroma alkohol yang kuat di seluruh ruangan. Mereka menikmati party mini dengan minuman keras dan musik kencang setiap hari ketika Arsa tidak ada di rumah.


Nana masuk dengan menutup telinganya. Dan memasuki kamarnya yang tak jauh dari pintu belakang. Menjatuhkan tasnya di kursi, ia pun ikut menjatuhkan diri ke ranjang miliknya.


Helaan nafas panjang dan membuangnya sembarang. Nana seperti frustasi dengan keadaan di rumah sekarang. Membuat ia tak betah tinggal di sebuah lembah neraka baginya. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya.


Nana Alina menikah ketika ia lulus kuliah. Usia pernikahan mereka telah menginjak satu tahun lamanya. Nana menikah bukan karena perjodohan ataupun permintaan kedua orang tuanya. Namun dirinya sendirilah yang menjadi sebuah balasan budi untuk Om Adi dan Tante Tamara. Ya Nana terbiasa memanggil mereka dengan sebutan Mama dan Papa.


Nana menikah dengan anak dari Om Adi dan Tante Tamara, eh Papa Adi dan Mama Tamara yaitu Arsa Genendra anak pertama pewaris kekekayaan milik keluaraganya. Arsa sangat membenci Nana dari Nana masuk ke daftar keluarga mereka saat itu. Sifat, perlakuan, perkataan, tatapan Arsa kepada Nana sangat beda. Ada sebuah kebencian yang mendalam entah itu apa. Ditambah dengan hubungan pernikahan kami yang semakin Arsa membenci dirinya.


Sudah banyak kata-kata tidak baik dari Arsa. Membuat Nana takut berada di dekat Arsa walau satu detik lamanya.


Kenapa bukan karena perjodohan. Karena Nana sendirilah yang memberikan raganya untuk mereka. Ketika Mama Tamara dan Papa Adi memiliki masalah. Nana sendiri juga tidak tahu betul apa masalahnya. Nana hanya tahu raut wajah mereka yang kalang kabut dan risau di saat itu.


Yang terbesit di fikiran Nana adalah dirinya memanglah harus membalas budi kebaikan keluarga Ganendra dalam hal apapun. Menurut Nana itu adalah kewajiban dan sumpahnya. Tak luput dari pernikahan yang di ajukan kedua orang tua Arsa.


Sungguh seperti Ayam Jantan Akan seperti Bertelur saja, fikir Nana. Mustahil dan tak akan mungkin. Tapi menyetujui adalah kebaktian nya kepada Keluarag Ganendra.


\=\=\=


Nana terbangun dari lelap tidurnya. Ia ketiduran sampai ia tak menyadari party mereka telah usai. Biasanya Nana paling susah tidur jika ada kebisingan. Tak jarang Nana akan bergadang karena susah tidur. Ya mungkin hari itu Nana lelah.


Kali ini Nana terbangun karena perutnya minta diisi. Nana melepaskan blazernya, kemudian keluar dari kamarnya. Niat hati menuju dapur, matanya tertuju ruangan tengah yang berantakan kemana-mana.


Banyak makanan ringan berhamburan di sekitarnya. Botol-botol yang berjatuhan dan tumpahan air membasahi karpet. Nana menatap kesal, menghela nafas panjang. Mau tak mau ia harus membereskan kekekacaun yang ada. Alasan terkuat adalah Nana tak suka mencium aroma alkohol yang begitu menyengat.


Sebenarnya ada Mbok Imah di rumah. Asisten rumah tangga Arsa dan Nana. Tapi sedikit meringankan tak masalah kan.


Dengan rasa lelah, ia bersihkan dengan telaten. Sampai ia tak menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikan dirinya. Arsa, Arsa terus memperhatikan gelagat Nana dengan saksama. Ada sedikit rasa kasihan yang menghinggapi dirinya. Ia melihat jelas wajah lelah Nana, tapi ia sempatkan membereskannya.


"Nana"Lirih Arsa, mendapatkan tubuh mungil Nana sedang berkutat di area ruang keluarga. Cukup lima menit Arsa puas menatapi Nana, dan ia memilih pergi ke lantai atas sebelum Nana menyadari kedatangannya.


"Apa mereka nggak bosen party tiap hari ?" Heran Nana dengan memindahkan botol alkohol ke dalam kardus dengan rasa jijik dan menutupi hidungnya karena tak suka dengan aroma yang menyengat,"Minuman kayak gini kan gak berfaedah. Heran gue sama orang yang doyan ama ginian ?"


30 menit ia kuras tenaganya untuk membersihakan sepetak ruangan namun terasa berpetak-petak jika dikerjakan sendiri." Akhirnya selesai juga." Bangga Nana melihat sekelilingnya, ia pun sempat menggantikan karpetnya dengan yang bersih.


Kemudian Nana kedapur untuk masak, perutnya sudah meronta-ronta untuk minta diisi.


\=\=\=


Arsa telah pulang dari dinasnya keluar kota untuk seminggu. Ia pulang malam itu sehari sebelum jadwal kepulangannya, tapi mendapati Nana sedang membereskan kekacauan yang telah dibuat oleh kekasihnya.


Arsa menyempatakan dirinya ke kamar kekasihnya Laura untuk sekedar mengecek keadaannya. Terlihat Aura tengah tidur dengan lelapnya setelah menghabiskan malam meriahnya. Sebelum Arsa pergi meninggalkan kamar Laura ia sempatkan mengecup kening Laura dengan lembut.


Setelahnya, Arsa pergi ke kamar miliknya yang hanya bersebelahan dengan kamar Nana sebelumnya yang sekarang di tempati oleh Laura. Arsa pun membersihkan dirinya dari kepenatan selama perjalanan pulang panjangnya. Tiba-tiba ia memikirkan wajah melas ayu Nana barusan.


Seminggu tak melihat Nana, merasa Nana terlihat dewasa dari sebelumnya. Di tambah Arsa tak pernah memperhatikan dengan betul tentang perubahan apa yang dimiliki Nana. Cantiknya pun semakin bertambah jika di akui.


"Kenapa gue mikirin Nana ?" Gerutu Arsa yang tiba-tiba mengingat Nana. Arsa cepat-cepat memutar keran shower, rintikan air membasahi seluruh tubuh lelaki itu.


15 menit sudah, Arsa turun guna mengambil soda dingin di kulkas. Langkah yang gontai menuruni anak tangga. Terdengar suara batuk di bawah tepatnya di dapur. Arsa mendengar itu, ia percepat langkahnya.


Namun tak mendapati siapa-siapa di bawah. Ia fikir tak maungkin Laura, Laura terkapar tak berdaya di kamarnya. Siapalagi kalau bukan Nana fikirnya.


Bola mata yang bermanik cokelat menelisik seluruh bersih ruangan. Ia hanya melihat bekas piring yang baru saja di pakai di meja makan. Arsa pun langsung melihat ke arah kamar Nana yang terlihat knop pintu bergerak perlahan. Ia menebak Nana menyadari kedatangannya barusan. Nana sengaja menghindar darinya.


Di balik kamar sederhana itu, ada nafas yang tersengal dengan jelas. Nana mengatur nafasnya, sesekali ia minum dari gelas yang ia bawa selesai makan barusan.


"Jantungan Ku, kapan Arsa datang ?" Nana masih di gelombang kepanikan tadi."Dia udah kayak pesulap Demian aja, mau hilang bilang, sekali datang gak bilang. Copot jantung ku!"