
Nana sudah malu tak tahan melihat drama yang Arsa buat di depannya. Arsa memperagakan dirinya persisi seperti kemarin. Membuat Nana malu saja. Ending-nya Arsa berlarian kecil di tempat seperti waktu Nana berlari ke arah kamar. Dan di tambah bagian Arsa seolah ia bingung dan menatap gelas yang ia pegang.
"See? Kayak gitu. Inget kan? " Arsa kembali duduk di sofa.
Nana frustasi, ia tutup wajahnya yang sedang memerah karena malu.
"Tuh gak mau jelasin juga. Aku adegan lagi nih gimana dua hari kamu ngambek gak jelas." Ancam Arsa yang baru ingin beranjak dari duduknya.
"Oke, aku jelasin." Jawab cepat Nana keburu Arsa beradegan berlebihan.
Arsa tersenyum tipis, ia kembali duduk di sisi Nana. Kemudian menaruh gelasnya di meja. Dengan kepala bersandar di sandaran sofa yang empuk.
"Aku gak marah, tapi-"
"Tapi apa? " Penasaran kata lanjutan.
"Mm, a-aku, aku sebenarnya malu." Lanjut Nana ragu-ragu, dengan kata malu sangat pelan.
"Hah apa? " Arsa tak mendengar kata terkahir, kata yang membuatnya paham.
"Aku sebenarnya malu." Tunduk malu Nana, dan kata malu semakin tak terdengar di telinga Arsa.
Menjadikan Arsa bangkit dari sandarannya, dan mendekati Nana.
"Apa aku gak denger?"
"Aku sebenarnya malu."
"Malu? Malu kenapa?" Bingung Arsa.
"Malu sama gelas, gelas lebih cantik daripada kamu." Lucu Arsa.
"Bukan gitu."
"Lah terus apa? Ngomong tuh jangan berbelit-belit napa? Langsung ke intinya." Kesal Arsa.
"Kalau gak aku adeganin loh." Ancam Arsa.
"Iya-iya." Nana malu sebenarnya mau mengatakan kejujurannya.
"Aku malu karena sebenarnya kita tuh secara gak langsung ciuman di gelas yang sama." Ucap Nana dengan cepat dan lantang.
Arsa hanya menganga menatap ekspresi dan ucapan Nana barusan.
Hah? Gimana ceritanya kita bisa ciuman? Kapan?
Ada rasa lega bercampur malu. Nana memberanikan diri bersitatap dengan Arsa. Pipinya sudah memerah sekali, dengan cepat Nana mengalihkan pandangannya. Sedangkan Arsa melongo entah mau jawab apa. Membuat pikirannya melayang ke lusa kemarin. Ia mengingat bagian mana dan kapan Arsa mencium Nana. Tunggu!
Nana malu sekali sudah berkata aneh. Di tambah Arsa hanya diam. "Ugh! Kenapa aku harus berkata seperti itu. Aku bisa cari alasan lain."
Arsa menggaruk tekuk nya yang tidak gatal. Maksudnya Nana berciuman secara tidak langsung melewati gelas gitu. Apa bisa di sebut ciuman langsung? Tolong Arsa tuh polos sekali.
Ya Arsa hanya menganggap angin lalu atau lelucon. Benar saja tak lama Arsa tergelak kencang. Tertawa terpingkal-pingkal. Hampir suaranya memenuhi ruangan apartemen.
Apanya yang lucu sih? Nana tambah malu di buatnya.
"Udah akh. Gini aja di bahas, aku mau masuk ke dalam." Nana ingin lari dari situasi aneh seperti ini.
"Tunggu!" Arsa menahan pergelangan tangan Nana. Langsung menariknya sampai Nana kembali terduduk.
"Ya, aku butuh penjelasaan lah." Ucap Arsa yang masih menyisakan suara tawanya.
"Penjelasaan apa lagi. Kan udah tadi." Rajuk Nana duduk membelakangi Arsa dengan bibir mengerucut.
Demi apa? Arsa masih tertawa. Membuat Nana semakin malas di dekatnya.
"Jangan marah dong, liat sini." Pinta Arsa mencoba menarik bahu Nana agar tubuh Nana berhadapan dengannya.
Dengan kasar, Nana menarik balik, "Bodo amat." Gerutu Nana.
"Udah aku mau masuk." Rengek Nana yang mulai beranjak.
"Tunggu!" Tahan Arsa menarik lengan Nana.
Arsa menarik bahu Nana, kini Nana tak menolak. Biar sekalian ia dipermalukan. Tanggung juga, sudah terlanjur.
Nana masih mencebik, dan tatapannya seperti malas menatap Arsa yang masih menahan tawanya.
Kedua tangan Arsa menangkup kedua bahu Nana. Sebelumnya ia mengontrol nafasnya agar ia tak ke-lepasan tertawa. Arsa tatap lamat-lamat netra cokelat milik Nana. Kali ini tatapan Arsa serius. Sekarang jantung Nana berpacu tak santai.
Ah, bagaimana ini?
"Nana." Panggil Arsa serius, membuat pipi an bersemu merah.
"Mm" dehem Nana.
"Kenapa kamu lucu banget sih? " Arsa mencubit kedua pipi Nana dengan gemas, di selengi tawa Arsa.
"Aw! " Adu Nana yang merasa sakit di bagian pipinya.
"Sakit Arsa." Kesal Nana mengusap pipinya sendiri yang sudah merah akibat cubit gemas Arsa.
"Habisnya kamu tuh lucu. Cuma gara-gara minum di gelas sama udah di bilang ciuman. Ada-ada aja kamu ini." Arsa terkekeh sampai mengusak puncak rambut Nana dengan gemas.
"Ya udah kalau gak percaya." Kesal Nana yang tangannya merapihkan rambut yang Arsa kacau.
"Aku kasih tahu ya." Arsa beringsut mendekati Nana.
Jarak mereka sangat dekat sampai Nana harus bergeser kebelakang hanya untuk menghindar dari Arsa.
"Namanya ciuman tuh gini." Arsa terus-terusan mendekati Nana sampai Nana tak bisa bergeser kebelakang sudah kepentok sisi ujung sofa.
Sedangkan Arsa asyik menyodorkan wajahnya sampai celah diantara mereka menipis.
Deg!
"Sialan! Arsa mau apa lagi?" Umpat Nana di hati ketika wajah mereka berdekatan.
Terasa dari nafas yang saling menderu, menerpa permukaan kulit wajah Nana. Dada Nana sudah naik turun, ia sampai sulit bernafas di buatnya. Rasanya Nana ingin menepis tubuh Arsa secepatnya. Tapi ia membeku seketika. Inginnya memberontak tapi tak bisa, di seolah tersihir tatapan Arsa.
Entah setan apa yang merasuki jiwa Arsa. Arsa benar-benar mencium bibir Nana. Bibir mereka saling bersentuhan. Mata Arsa memejam seperti tak sadarkan diri. Sedangkan Nana memebelalak an matanya. Seperti waktu terhenti sejenak. Detakan jantungnya bertalu-talu.
Entah dorongan apa lagi, membuat kecupan tanpa nafsu itu berganti nafsu yang membuncah. Perlahan mata Nana terpejam, ketika Arsa memulai ******* ringan bibir Nana.
🍫🍫🍫