
Rosemary sedang asik memandangi beberapa foto remaja semy dia lalu beralih mengambil foto semy yang sedang tersenyum sambil membawa piala juara 1 beladiri taekwondo
"itu adalah foto semy waktu usianya 17 tahun" bibi maya tiba tiba muncul dibelakang Rosemary
"oh.. begitu" Rosemary terkaget
bibi maya mendekati dan mengambil foto yang diletakkan Rosemary
"waktu SMP semy kerap jadi korban bully teman temannya" mata bibi maya menerawang "dia selalu pulang dalam keadaan babak belur meski begitu dia tidak pernah mengeluh padaku atau pada neneknya namun kami yang tau keadaannya sangat khawatir dan memindahkan sekolahnya" bibi maya mulai menitikkan air mata " tapi ironisnya di sekolah yang barupun dia tetap jadi sasaran bully mungkin karena dia penakut dan tidak bisa melawan makanya orang orang selalu saja mengganggunya, aku sering mendapatinya menangis dalam lemari namun saat aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi dia pasti akan menjawab tidak apa apa tidak ada yang perlu dikhawatirkan , aku pernah berniat pergi ke sekolah untuk protes dan mencari tau apa yang terjadi tapi semy melarangku sepertinya ada sesuatu hal yg dia takutkan" bibi maya terduduk mencoba mengendalikan emosinya Rosemary menghampiri dan mengusap tangan bibi maya "hingga suatu ketika dia dibully dengan sangat parah sehingga membuat dia dirawat di UGD dengan banyaknya luka sayatan di punggungnya" air mata bibi maya berjatuhan deras "setelah sembuh dia memutuskan berhenti sekolah karena trauma, dan orang orang yang membullynya hanya dapat tindakan hukum ringan karena mereka orang2 kaya, semy kemudian ikut dengan suamiku ke tempat latihan beladiri dia dilatih disana selama 4bulan dan saat dia kembali perubahan terjadi padanya dia tidak lagi terlihat ketakutan lalu dengan yakin dia bilang padaku ingin melanjutkan sekolah dan meski khawatir kami menurutinya karena dia memang butuh pendidikan dan setelah kembali bersekolah dia tetap saja selalu pulang dalam keadaan babak belur tapi kali ini aku tidak melihat ketakutan ataupun menemukan nya menangis" bibi maya menarik napas " setelah itu aku mendengar kalo dia melawan orang2 yang dulu membullynya sehingga orang2 itu tidak berani mengganggunya lagi"
Rosemary nampak tertegun mendengar cerita bibi may
"nak.. dia tidak peduli pada rasa sakitnya tapi dia akan sangat peduli pada rasa sakit orang orang yang disayanginya karna itu saat kamu bersamanya kamu tidak perlu khawatir karna dia pasti akan melindungimu bagaimanapun caranya" ucap bibi maya sambil mengelus rambut Rosemary
Rosemary tersenyum sambil menganggukkan kepala
tak lama kemudian terlihat semy dan pamannya kembali dari kebun sambil membawa sekarung jagung manis
waktu menunjukan pukul 03:30 semy akan mandi dulu sebelum jam 4 sore nanti pulang
@@@@@
saat semy dan Rosemary pamit untuk pulang tiba tiba hujan angin besar
semy dan Rosemary saling pandang
" kita kan naik mobil jadi tidak apa apa" ucap semy pada Rosemary
"sebaiknya kalian jangan pulang hujannya lebat sekali" ucap bibi maya
"kami naik mobil bi jadi jangan khawatir" jawab semy
"tetap saja setidaknya tunggu hujannya sampai tidak terlalu besar"
"iya sepertinya memang harus menunggu" ucap Rosemary karena mendengar suara petir besar dari luar
"duduklah bibi akan buatkan teh manis hangat" ucap bibi maya
semy dan Rosemary menurut
Rosemary mengecek ponselnya mengirim pesan pada Monalisa kalo dia akan pulang telat
"sebaiknya kalian menginap saja paman baru dapat kabar dari teman katanya petir besar tadi menumbangkan pohon beringin besar sehingga terjadi kemacetan di akses jalan satu-satunya itu" ucap paman yang tiba tiba muncul dari dapur
"bagaimana ini " Rosemary tampak bingung
"tumbangnya pohon itu juga memakan korban jiwa karna menimpa kendaraan yang berlalu-lalang dijalan itu" lanjut pamannya
@@@@
**********