
Daniel menghentikan mobilnya di depan area kantor IL, Corp.
Mereka berjalan menuju ke lantai paling atas, menuju keruangan CEO milik Pras.
Indira pun mau tidak mau mengikuti mereka dibelakang.
Banyak pasang mata yang menatap mereka. Karena ini hari pertama Indira bekerja sebagai Sekretaris pak Pras.
Banyak para pegawai wanita yang iri dengan Indira. Yang dapat dengan cepat menduduki jabatan yang paling strategis, dan yang paling dekat dengan sang CEO di perusahaan tersebut.
Indira memasang senyum terbaiknya pada semua pegawai yang mereka lewati.
Pras yang melihat nya sekilas dari pantulan kaca dinding kantor pun menegurnya.
"Biasa saja kali.. Tidak usah terlalu lebar senyumnya. Tak enak dipandang!" Ejek Pras melambatkan langkah kakinya. Seolah ingin menyelaraskan langkahnya dengan Indira yang berjalan dibelakang mereka.
Indira yang merasa tersindir pun segera membela diri.
"Senyum itu adalah sedekah yang paling murah, Tuan." Sahutnya dan kembali tersenyum.
Pras yang mendengarnya pun hanya menyunggingkan bibirnya.
Hanya Daniel yang tersenyum penuh arti, mendengar dan melihat tingkah para manusia di sekitarnya itu.
-
Mereka telah sampai di ruangan Pras.
Indira berdiri di depan meja Pras.
Daniel menyerahkan sebuah map pada Pras.
"Ini adalah kontrak kerja mu."
Pras menyerahkan surat itu pada Indira.
"Kau telah menandatanganinya kemarin. Dan diatas materai pula. Kau bisa dituntut atas pelanggaran kontrak kerjamu itu! Dan kau juga harus membayar penalti padaku. Apa kau benar-benar akan tetap melanggarnya?" tanya Pras.
Indira tampak berfikir keras.
"Jika pekerjaan ku termasuk hal-hal yang tidak lumrah dilakukan oleh ku sebagai asisten pribadi anda seperti saat tadi di appartment, saya menolaknya dengan segala hormat." tegas Indira.
"Alasannya?"
"Seperti yang saya katakan tadi, anda bukan Mahram saya. Jadi saya ingin membatasi diri saya agar tidak terlalu dekat dengan anda." Indira memberi alasan.
"Karena yang saya tahu, jika laki-laki dan wanita yang bukan mahram berada disatu ruangan yang sama, maka yang ketiga nya adalah setan." lanjut Indira.
Membuat Pras dan Daniel melotot.
Lalu kemudian Pras tertawa.
Indira yang ditatap tajam pun langsung bingung. Ia bingung harus menjelaskan dengan cara seperti apa pada tuannya itu.
"Bukann! Bukan begituuu tuan. Bukan itu maksud saya." sahut Indira.
Pras mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
"Lalu?"
"Akuu hanya ingin menjaga kehormatan ku, dan menjalankan segala yang diperintah kan oleh agamaku."
Pras menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak ingin membuat semua ibadahku menjadi sia-sia karena pekerjaan ku sehari-hari yang mengharuskanku berduaan dengan anda yang bukan mahramku."
"Kau sedari tadi menyebut-nyebut kata mahram. Aku tidak mengerti. Bisakah kau jelaskan dulu apa arti kata mahram itu?"
Pras meminta penjelasan.
"Begini tuan... Setahu ku, mahram itu adalah lelaki yang haram dinikahi oleh seorang wanita kerena keterkaitan hubungan darah dan nasab. Misalnya ayah, kakak lekaki, dan adik lelaki, paman dari ibu atau ayah, kakek dari ibu atau ayah.. Begitu." jelas Indira.
"Lalu.. Hubungannya denganku apa?"
"Nahh ituu masalahnya.. Karena anda bukan mahram ku. Jadi aku tidak boleh bepergian dan berduaan saja denganmu. Apalagi di appartment mu yang tiada satu orang pun diantara kita."
"Kenapa kokk berasa ribet sekali yakk Niel. Aku tidak mengerti. Kenapa ini semakin sulit dipahami dibanding dengan rumus matematika." Pras memegang dagu nya menatap Daniel yang terlihat sama bingung nya.
Daniel pun menganggukkan kepalanya menatap Pras.
"Hmmm....." Indira menghela nafasnya panjang.
"Begini tuan. Lebih simple nya, seorang wanita muslimah itu dilarang bepergian dan berduaan dengan lelaki yang bukan keluarga atau tidak ada keterikatan darah dengan nya. Karena jika itu terjadi, maka bisa jadi menimbulkan fitnah dan kemungkinan besarnya adalah menjadi dosa besar." Jelas Indira.
"Lalu apa yang harus dilakukan olehku agar kau berada didekatku dan dapat mengerjakan pekerjaan mu yang memenuhi segala kebutuhan ku itu?" tanya Pras kemudian dengan wajah serius.
Indira dan Daniel tampak berfikir.
"Maka anda harus memiliki keterikatan darah dengannya, Pak?" ucap Daniel kemudian.
"Iyaaa... Apa yang harus dilakukan olehku, Danieeellll?" Tanya Pras lagi jengkel.
"Anda harus menikahinya, Pak!" sahut Daniel cepat.
Pras menganggukkan kepalanya.
"Oke, Aku akan menikahi nya kalau begitu." ucap Pras datar.
"Apa?"
Indira melotot tak percaya apa yang diucapkan oleh Pras.