Love You, Boss! !

Love You, Boss! !
Part 8 _ Mahram?


...Hai Wanita,...


...Emasmu adalah...


...Agamamu.....


...Perhiasanmu adalah...


...Budi Pekertimu.....


...Dan...


...Hartamu adalah...


...Sopan Santunmu.....


...-...


Indira terus menutup kedua matanya.


Ia berdiri terdiam mematung.


Seolah sedang berfikir.


"Ayo, cepat! Siapkan pakaianku." Sahut Pras yang melihat Indira masih terdiam di tempatnya.


Tiba-tiba dengan cepat, Indira membalikkan badannya membelakangi Pras.


"Maaf, tuan. Jika memang menyiapkan segala kebutuhan tuan itu seperti ini, saya kira saya tidak bisa melakukannya." ucap Indira tegas.


"Lohh kenapa? Bukankah kau sudah menandatangani kontrak dengan ku?" ucap Pras heran.


"Iya tuan, tapi pada saat itu anda tidak memberitahukanku akan spesifikasi pekerjaan yang harus saya lakukan untuk anda."


Pras menyunggingkan bibirnya.


"Apa kau tau, jika kau melanggar isi perjanjian dalam kontrak tersebut kau akan dikenakan penalti atas kontrak tersebut?"


"Hmm.. Yaa, aku tau tuan."


"Lalu, apa kau masih ingin melanggarnya dan membayar penalti itu kepadaku?"


"Hmm.. Akuu mungkin akan melanggar itu. Tapi untuk membayar penalti nya, mungkin aku akan menyicilnya. Tapi akan aku usahakan secepat mungkin ku lunasi." ucap Indira tegas.


"Hmmm.. Bagaimana jika aku melaporkanmu pada pihak yang berwajib? Atas tindakanmu tempo hari didalam lift hotel!".


Ancam Pras.


Pras merasa sangat heran, kenapa tiba-tiba Indira menolak pekerjaan darinya sebagai asisten pribadi nya.


"Laporkan saja aku tuan. Aku tidak apa-apa." Ucap Indira tenang.


"Hmmm.. Baiklah kalau begitu. Tapi, bolehkah aku tahu apa alasan mu menolak pekerjaan ini?" Pras melemah. Ia mencoba mengalah dengan sikap tegas Indira. Ia berjalan kearah lemari pakaiannya dan mengambil pakaian nya kemudian memakainya satu persatu.


Indira terdiam.


"Aku, takut jika terus berada didekat anda. Dan melakukan pekerjaan ini didalam appartment anda yang tidak ada lagi orang. Hanya aku dan anda.


Aku, takut jika aku terus dikungkung oleh dosa yang tiada terasa olehku.


Berdua didalam satu ruangan dengan pria yang bukan mahramku. Aku takut tuhanku akan marah padaku dan menghukumku." Jelas Indira.


"Mahram? Tuhan?" gumam Pras.


Indira menganggukkan kepalanya.


Indira tampak terdiam berfikir.


"Jangan bilang kalau anda tidak percaya Tuhan?" Sahut Indira kaget. Kembali menengokkan kepalanya kebelakang.


"Aaaaaa...." Teriaknya lagi saat melihat Pras yang kini telah memakai celana dan masih bertelanjang dada.


Indira segera berlari keluar kamar Pras.


Pras terdiam.


"Aku punya Tuhan. Dan aku percaya atas KuasaNya.


Bahkan jika tanpa KuasaNya, aku takkan dapat kembali bangun dari mimpi panjangku.


Ia kemudian segera memakai pakaiannya. Dan segera menyusul Indira yang telah meninggalkannya keluar appartment.


-


Indira memutuskan untuk kembali ke hotel.


Ia menyusuri jalan menuju halte bus di depan gedung appartment mewah itu.


Pras yang mengejarnya mengurungkan niatnya untuk memanggil Indira.


Ia memilih mengikuti Indira tepat dibelakangnya.


"Ya Allohh.. Maafkan hamba. Kemarin, bibirku yang ternoda, kini mataku juga ikut ternoda." gumamnya hampir tak terdengar oleh Pras.


Pras yang mendengar nya hanya menyunggingkan bibirnya.


"Gilaa yakk Pak Pras. Gue juga kan manusia biasa. Tingkat keimanan gue belum maksimal. Gue takut jika akhirnya gue terbuai oleh pemandangan itu yang akan gue lihat setiap hari."


gumamnya lagi agak meninggi.


Pras memicingkan matanya tajam kearah Indira.


"Terus sekarang nasib gue gimana dong? Gue udah gak punya pekerjaan lagi. Belum lagi gue harus bayar penalti sama pak Pras. Apa emang gue yakin sama keputusan gue ini?" gumamnya lagi.


Pras tersenyum mendengar ocehan Indira yang mulai labil.


"Nggakkkk! Gue yakin, keputusan yang gue ambil ini adalah keputusan yang paling tepat." Sahutnya kemudian setengah berteriak.


"Ya Alloh.. Hamba yakin ini keputusan yang tepat buat hamba. Namun hamba mohon bimbingan dan petunjukMu atas keputusan yang telah hamba ambil ini. Semoga hamba istiqomah dengan ini. Semoga Engkau dapa mempermudah segala urusan hamba, Aminn.."


Indira mengusapkan kedua tangannya pada wajahnya, seraya mengakhiri doa nya.


"Amiiinn..." Pras refleks ikut mengucapkannya, sesaat Indira telah menyelesaikan doanya.


Ucapan Pras yang tiba-tiba, membuat Indira menoleh ke belakangnya juga secara tiba-tiba.


"Andaa?" ucap Indira terkaget.


"Hmmm.. Ini Saya! Mari ikut saya dulu!" Pras menggenggam tangan Indira menuju mobilnya yang dikendarai oleh Daniel yang mengikuti mereka di belakang sedari tadi.


"Maaf tuan. Tolong lepaskan tangan saya!" rengek Indira.


"Kamu jangan membantah! Ayo ikut dulu." Pras tak mau kalah.


"Baik. Saya ikut. Asal lepas dulu tangan saya. Anda tidak mengerti juga, anda ini bukan mahram saya! Jangan asal pegang! Enak aja!" Indira menghempaskan tangan Pras keras.


"Hmmm Mahram lagi.. Mahram lagi." gumam Pras.


"Kemarin bibir, tadi mata, sekarang tangan. Ya Alloh.. Ampuni hamba..." gumam Indira masuk kedalam mobil pras di kursi belakang.


Pras pun akan masuk di kursi belakang di samping Indira.


"Eittssss... Tuan, anda mau kemana?" tanya Indira sambil mengacungkan jari manisnya kearah Pras dan mengoyangkannya kearah kanan dan kiri.


"Saya? Mau masuklah.." ucap Pras heran.


"Saya bilang, anda bukan mahram saya. Jadi kita harus jaga jarak!" Indira membela diri.


"Lalu? Saya harus duduk Dimana?" Pras kembali bertanya.


"Didepan kan bisa..." Indira mengoceh.


Daniel yang mendengar percakapan tuannya dengan asisten pribadi barunya pun hanya terlihat tersenyum menahan tawa.


"What? No!" tolak Pras.


"Kenapa?"


"You over there!" titah Pras pada Indira.


Indira pun turun kembali dan menuju kursi penumpang disebelah Daniel yang mengemudi.


Pras menggelengkan kepalanya.


"Ayo berangkat, Niel!" titah Pras sesaat setelah ia dan Indira masuk kedalam mobil miliknya.