
"Apa? Besok?" tanya Lani kaget.
Indira menganggukkan kepalanya pelan.
"Lu yakin? Besok?"
"Hmmm... Jam 8 gue terbang ke Surabaya." Indira meyakinkan Lani.
"Ohhhh.. Ya ammpuuunnn.. Kenapa hari ini gue dapet banyak surprise siihh dari luu? Selamat yak Beibb.. Gue percaya dehh sama si Boss.. Gue yakin dia orang yang tepat buat lu." Lani kembali memeluk Indira.
Ia merasa bahagia betul, mendengar dan mendapati kenyataan bahwa Indira telah dilamar oleh Pras yang sejauh ini terlihat serius dengan ucapannya yang ingin segera menghalalkan Indira.
"Terimakasih, Lan."
"Gue doain biar ibu bisa merestui hubungan kalian. Dan hubungan kalian bisa secepatnya disahkan di mata hukum dan agama."
"Amiinn.." ucap mereka serentak.
"Thanks Beibbb.. Your my the best..." sahut Indira tersenyum bahagia.
Lani melepaskan pelukannya pada Indira.
"Okkkee.. Karena besok lu harus take off jam 8, maka sekarang lu harus segera istirahat dengan nyenyak. Yakk Beibb?" sahut Lani memegang kedua pundak Indira.
Indira tersenyum.
"Bentarr dehh..." rengek Indira yang masih ingin mengobrol dengan Lani.
Lani mendorong tubuh Indira menuju pintu kamar Indira.
"Gakkk.. Gak ada. Pokoknya sekarang lu harus masuk ke kamar dan tidur..."
"Okeee.. Okee... Nyonya! Saya akan melakukan perintah anda sekarang." Ucap Indira membalikkan tubuhnya menghadap Lani.
"Permisi, Nyonyaaa..." Lanjutnya.
"Good job, Girl!" ucap Lani tersenyum dengan tangan bersedekap di dada.
"Byee..." sahut Indira menutup pintu kamarnya perlahan.
"Byeee.. Have a nice dream Beeibb.." sahut Lani dibalik pintu.
Indira pun tersenyum melihat kelakuan jahil sahabatnya itu.
Ia kemudian berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selepas membersihkan dirinya, kini ia segera menuju ke ranjang tidur miliknya selama dua bulan ini.
Ia membaringkan tubuhnya diatas kasur.
"Hari yang melelahkan...." gumamnya.
Saat akan memejamkan matanya, ia teringat akan ponselnya yang masih dalan keadaan senyap.
Ia bangkit lagi dari ranjangnya dan menuju ke lemari buffet didepan ranjangnya.
Diraihnya ponsel dari dalam tasnya.
Ia buka ponselnya dan ternyata sudah ada beberapa pesan masuk dari Pras.
'Sudah tidur?'
'Sudah yaa?'
'Ya sudah.. Semoga tidur mu berkualitas..'
Indira tersenyum membaca pesan dari Pras lima belas menit yang lalu itu.
Pras berubah seketika sejak tadi kembali dari cottage.
Untuk ukuran seseorang yang cuek dan dingin sepertinya, menjadi aneh rasanya melihatnya berubah seperti itu, walau dalam hati nya Indira merasa senang mendapati perhatian penuh dari Pras.
Merasa menjadi seseorang yang spesial dalam hidup seorang pria.
"Belum, Mas. Baru akan terbang ke alam mimpi."
Indira membalas pesan Pras.
Tak berapa lama, ponsel Indira pun berdering.
"Mau apa lagi dia menelepon?" gumam Indira.
Indira menekan tombol jawab di ponselnya yang terus berbunyi dan bergetar, karena baru saja ia alihkan ke mode normal.
"Assalamualaikum..." ucapnya.
"Waalaikumsalam.. Kenapa kau belum tidur? Kan aku sudah bilang untuk kau segera beristirahat." sahut Pras kemudian di seberang sana.
"Tadi aku mengobrol dulu dengan Lani. Ia sangat khawatir denganku. Dan baru saja aku akan memejamkam mata, kau malah menelponku, mass." Indira membela diri.
Pras tersenyum.
"Ya sudah. Cepat kau tidur sekarang... Jangan sampai terlambat besok yak. Aku akan menjemputmu pukul tujuh."
"Baikk tuann.. Ehhh.. Mass.." Indira mengerucutkan bibirnya.
"Sayang... Jangan salah lagi memanggilku.." Ucap Pras lembut.
"Iyaa.. Habisnya ucapanmuu membuatkuu merasa di kantor.."
"Iyaa.. Akuu lupa.. Sudah, sekarang kau istirahat yak. Mimpikan aku. Jangan lelaki lain.. Ini perintah.." Pras tersenyum.
"Baikk, Mas! Siap laksanakan.." Indira pun tersenyum.
Mereka mengakhiri panggilan teleponnya.
Indira merapikan posisi tidurnya.
Dan Indira pun segera terlelap dalam tidurnya.
_
Pacific Place Residence.
Pras merebahkan tubuhnya diatas kasur setelah mengakhiri sambungan telepon nya.
"Melelahkan..."
Pras menatap langit-langit kamar apartemen nya.
"Takkan kubiarkan kau lepas begitu saja." gumamnya geram.
Sekilas wajah Indira melintas dalam benaknya.
Ia pun tersenyum.
"Semoga ini menjadi awal bahagiaku.
Tak kan ku sia-siakan dirinya.
Aku yakin dengan sungguh, ia orang yang tepat untukku jadikan Ratu dikerajaanku."
Pras tersenyum.
Ia kemudian memejamkan matanya.
Mencoba berdamai dengan malam yang selalu menusuknya dan menghentakkannya dalam keheningan.