
Flashback off..
Indira berjalan tak tentu arah. Ia tak tahu arah tujuannya.
Ia hanya mengikuti langkah kakinya yang terus menyusuri jalanan di tengah ibukota.
Terlihat sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilat berjalan mundur kearahnya. Dan berhenti tepat di sampingnya.
"Indira...." Teriak sang empunya mobil dari dalam kendaraan nya.
Indira yang merasa dipanggil pun segera menoleh kearah asal suara.
"Kak Danu..." ucapnya pelan.
Danu pun segera turun dari dalam mobil nya.
Ia menghampiri Indira yang sedang berdiri menatap nya.
"Kenapa kamu berjalan sendirian ditengah hari seperti ini?" tanya Danu menatap Indira yang terlihat sangat kepayahan, dengan wajah dipenuhi gemerlap air bening yang memantulkan cahaya matahari.
"Ehmmm.. Aku..." Indira bingung hendak menjawab apa. Karena ia pun sendiri tidak tahu alasan nya kenapa ia berjalan kaki menyusuri trotoar seperti itu.
"Sudahlah.. Ayo ikut dengan ku! Kamu harus segera diberi makan, jika tidak, sepertinya kamu akan segera pingsan dan tergeletak dipinggir jalan." Sindir Danu. Ia membuka pintu mobilnya dan menarik tangan Indira kemudian menyuruh nya untuk masuk.
Indira yang sudah kepayahanpun akhirnya segera masuk kedalam mobil Danu. Karena ia tak tahu arah tujuannya.
Danu pun tersenyum. Ia tak menyangka kali ini Indira tak menolak ajakan nya untuk pergi bersama walau hanya berdua saja.
Danu pun segera masuk kedalam mobilnya dan segera melajukan kendaraannya dengan cepat.
Danu menatap Indira sesekali.
"Kenapa denganmu Indira? Kenapa kau terlihat sangat tidak bersemangat sekali? Berbeda dengan mu yang seperti biasa selalu terlihat ceria!" tanya Danu di sela perjalanannya.
Indira yang ditanya hanya menoleh tersenyum.
'Entahlah.. Aku pun tak tahu kenapa hatiku begitu sakit melihat itu semua.' batin Indira.
"Baiklah jika kau tidak mau menjawabnya. Tidurlah, kau terlihat sangat lelah." Titah Danu lembut.
Indira yang sangat kelelahan pun akhirnya benar-benar tidur.
Danu pun tersenyum menatap wajah polos Indira.
Ia kembali menatap jalanan. Dan memacu kendaraannya melewati jalur tol dengan cepat menuju keluar kota.
'Begitu lama aku ingin menghabiskan waktuku hanya bersamamu. Tapi kau selalu menolaknya, Indira. Aku ingin kau tahu, aku sangat menginginkanmu menjadi milikku.' batin Danu dan ia kembali tersenyum menatap Indira yang tertidur pulas.
Rambut Indira menghalangi wajah polosnya, membuatnya semakin cantik.
Danu menyibak rambut yang menghalangi wajah Indira dengan lembut.
'Kau akan menjadi milikku, Indira. Hanya milikku.'
Setengah jam kemudian, mobil Danu berhenti disebuah villa didaerah Bogor Selatan.
Ia turun dari mobilnya dan membangunkan Indira.
Indira yang masih linglung sebangun dari tidurnya hanya mengikuti langkah Danu menuju kedalam villa.
Ia berfikir mereka berada dirumah Danu dan masih di Ibukota.
"Ayo, silahkan duduk Indira."
titah Danu lembut.
"Terimakasih, Kak." Indira tersenyum dan duduk disofa tengah ruangan.
Danu pergi kearah dapur. Ia membuat minuman untuk mereka berdua.
Indira mengamati sekitar.
'Terasa sangat asri. Segar sekali.' batin Indira.
Tak lama, Danu kembali keruangan tengah dengan membawa dua gelas orange juice.
"Ayo diminum, Indira." Danu meletakkan gelas orange juice dimeja hadapan Indira.
"Baik Kak. Terimakasih."
Indira segera mengambil gelas miliknya dan segera meminum nya hampir habis. Ia betul-betul dahaga.
"Gimana? Seger?" tanya Danu tersenyum melihat ekspresi wajah Indira yang langsung sumringah.
"Hmmm.. Banget, Kak!" Indira tersenyum menganggukkan kepalanya.
Danu tertawa menyindir Indira yang tertidur dengan pulasnya.
"Heheh.. Maaf Kak. Aku capek banget tadi. Jadi pules banget yak tidurnya?" Indira pun tertawa malu.
Danu menganggukkan kepalanya tersenyum.
Ting.. Tong...
Suara bel berbunyi.
"Tunggu sebentar yah? Itu pasti kurir yang mengantar makanannya." Ucap Danu menaruh gelas yang dipegangnya dan beranjak bangun menuju kearah pintu.
Indira hanya menganggukkan kepalanya.
Ting.. Tong.. Ting.. Tong..
Bel kembali berbunyi.
"Iya.. Tunggu sebentar." Sahut Danu.
Dan dengan segera ia membuka pintu nya.
Danu kaget melihat seseorang dihadapannya.
Buggghhhhhh...
Sebuah pukulan hebat mendarat disalah satu pipi Danu dan membuatnya tersungkur ke dalam sudut ruangan hingga membuat sebuah guci terjatuh dan membuat kebisingan.
Indira yang mendengar nya pun terkejut dan segera berlari keasal suara.
Melihat Danu tersungkur di lantai, Indira kaget bukan kepalang.
"Astagfirulloh.. Kak.." Indira segera menghampiri Danu. Saat akan duduk menghampiri Danu.
Ia segera ditarik oleh seseorang.
Indira pun terkejut melihat orang yang menarik tangannya.
"Kauu...? Kenapa ada disini? Kenapa Kau melakukan ini tuan?" tanya Indira terkejut pada orang tersebut yang ternyata adalah Pras.
"Sudah jangan banyak bicara. Tak usah kau pedulikan bajingan itu!" teriak Pras.
"Tapii.. Tuan.. Kenapa kau begitu?" Indira menghempaskan tangan Pras dan kembali menoleh pada Danu yang sedang memegangi wajahnya dan sudut bibirnya yang berdarah.
"Indira! Ayo kita pergi." Teriak Pras.
"Tidak. Tuan saja yang pergi. Aku tidak mau!" tolak Indira menatap tajam Pras penuh dengan amarah.
"Kauu.." Geram Pras.
Dengan cepat, ia memikul tubuh Indira bak seorang penculik.
Daniel yang sedari tadi berdiri dibelakang bossnya pun segera masuk dan mengambil tas juga ponsel milik Indira di ruang tengah villa tersebut.
Indira yang terkejut pun dengan segera menghentak-hentakkan kakinya yang dikunci oleh tangan kekar Pras.
Dan tangannya pun tak diam terus menerus memukul tubuh Pras.
Pras segera membawa tubuh Indira ke dalam mobil.
"Diam. Kau yang membuatku berbuat seperti ini." Gertak Pras.
Sorot mata Pras sangat terlihat penuh amarah.
Indira yang ditatap tajam hanya bisa menatapnya tajam kembali.
"Tapi kenapa Kau melakukan itu pada Kak Danu? Ia tak bersalah apapun!" ucap Indira sama kerasnya.
"Cihhhh.. Masih saja kau panggil bajingan itu dengan sebutan Kak!" Pras menggerutu kesal.
Daniel masuk kedalam mobil dan menyerahkan tas juga ponsel milik Indira.
"Berangkat, Pak?" tanya Daniel.
"Iya. Kembali ke Jakarta!" jawab Pras tegas tanpa mengalihkan tatapan tajamnya pada Indira.
"Jakarta?" tanya Indira heran.
Pras enggan menjawab pertanyaan Indira.
Pras mengalihkan pandangannya dan memilih menatap jalanan.
'Jakarta? Lalu, aku ada dimana sekarang?' batin Indira bertanya-tanya.