
Setelah selesai mengganti baju, Indira yang kelelahan kini tertidur pulas dikasurnya dalam cottage.
Pras menghampirinya. Ia rebahkan tubuhnya dikasur yang sama dengan Indira.
Dihadapkan nya tubuhnya pada tubuh Indira yang tertidur pulas.
Pras menatap dalam wajah Indira yang polos tanpa make up.
"Cantik." gumam Pras.
"Maafkan aku, jika saja aku datang terlambat. Aku akan hancur! Maaf!" gumamnya lagi.
"Aku akan segera membuatmu menjadi milikku selamanya."
-
Pukul setengah enam sore.
Indira yang kini telah bangun, mulai mendapati kesadarannya.
Ia menatap sekeliling nya.
"Dimana aku?" gumamnya.
Ia mencoba bangun dari posisi tidurnya dengan perlahan.
Dirasakannya kepalanya sangat berat.
"Kepalaku pusing sekali." Ia memegang kepala. Dan sedikit menjambak rambutnya sendiri.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka.
"Sudah bangun?" tanya Pras menghampiri Indira.
"Tuan, apa yang terjadi padaku? Kenapa kepalaku sangat pusing rasanya?" Tanya Indira.
"Mungkin itu salah satu efek samping dari obat yang kau minum!" jawab Pras.
"Obat? Kapan aku minum obat?"
"Hmmmm... Sudahlah. Aku malas menjelaskannya. Yang jelas, jangan sekali-kali kau bertemu dengan bajingan itu. Apalagi hanya sendiri saja!" ucap Pras tegas.
"Bajingan siapa?" gumam Indira, ia mencoba mengingat kejadian sebelum ia tidur.
Ia mengingat bahwa Pras memukul Danu di kediamannya.
"Kak Danu? Bukankah seharusnya kau yang bertemu dia untuk meminta maaf?" ucap Indira pelan.
"Aku? Hahahaa.. Seharusnya dia lah yang bersujud padaku memohon ampun. Karena berani membawa dan berniat meniduri calon istriku!" Pras menatap Indira tajam.
"Appppaaa maksud mu, Tuannn?" Indira terkejut dengan ucapan Pras.
"Yak!!! Dia bajingan yang telah membawamu jauh dari ibu kota dan berencana meniduri mu dengan sengaja memasukkan obat perangsang pada minumanmu. Apa kau sadar? Dia manusia bejad!!"
Indira mencoba mencerna setiap ucapan Pras.
Lalu bisa menerimanya, karena semua ucapannya masuk akal.
'Ternyata itu perbuatannya....' batin Indira.
Indira menitikkan airmatanya.
"Hei.. Kau jangan menangis. Yang penting sekarang kau selamat dari niat busuknya. Andai saja aku terlambat datang, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri." ucap Pras yang melemah pada kalimat terakhirnya.
"Terimakasih, Tuan." ucap Indira tulus.
"Untuk apa kau berterima kasih? Sudah menjadi keharusan untuk ku menjaga calon istri ku sendiri." Jawab Pras congkak.
"Cihhhh.. Istri? Bukankah calon istrimu itu wanita yang tadi berada diruangan mu? Bahkan tidak segannya kalian bemesraan di kantor. Membuatku jijik melihatnya!"
Indira berdecak kesal kembali mengingat kelakuan sang Boss tadi siang di ruangannya yang secara tidak langsung menjadi penyebab tragedi hari ini.
Mendengar ocehan Indira, membuat Pras tertawa.
"Hahahaaaa... Kau pasti cemburi yah melihat adegan mesra itu? Sampai kau pergi meninggalkan kantor dan membolos kerja?" ucap Pras percaya diri.
"Apa? Aku? Cemburu? Tidak sama sekali." sanggah Indira mengerucutkan bibirnya.
"Jika tidak cemburu, lalu kenapa kau pergi meninggalkan kantor dan malah berjalan menyusuri trotoar dengan wajah yang kesal?" tanya Pras yang kini membuat Indira melotot tak percaya.
'Kenapa ia bisa tahu aku berjalan tadi siang? Apa dia memata-mataiku?' gumam Indira dalam hatinya.
"Hmmmm.. Aaaa kuu haaa nya sedang bosan saja dengan suasana kantor yang membuat gerah dan panas. Jadi aku mencoba mencari udara segar diluar kantor." jawab Indira sekenanya.
"Benarkah? Bukankah dikantor lebih dingin daripada diluar kantor. Kau berjalan dibawah terik matahari langsung, Indiraaaa..." Pras tersenyum jahil.
Indira terdiam, memang nyatanya ia berjalan saat matahari tepat berada diatas ubun-ubunnya. Ia tak dapat lagi menyangkal perkataan Pras yang memang dengan sengaja ingin menyudutkannya.
"Ahhh... Sudahlah jika anda memang tak mempercayainya. Terserah anda, tuan. Itu hak anda untuk percaya atau tidak." ucap Indira ketus.
Ia masih kesal betul melihat adegan mesra boss nya dengan seorang wanita tadi siang saat dikantor. Entahlah kenapa ia merasa sangat begitu kesal.
"Yasudah.. Sekarang kau bersiap-siap. Setelah selesai sholat maghrib kita kembali ke Jakarta. Ada tempat yang harus kita kunjungi." Ucap Pras melemah.
"Hmm.. Baik, Tuan."
"Tapiii, apa kau memang sudah merasa lebih baik? Bukankah kau tadi bilang masih pusing?" Pras duduk disamping Indira.
"Hmm sekarang sudah lebih baik, tuan." Indira tersenyum.
"Benarkah? Jika kau masih merasa pusing tak apa, kita bisa bermalam disini. Dan esok kita baru kembali ke Jakarta."
"Tidak usah, Tuan. Aku sudah baik-baik saja." Indira meyakinkan.
"Benarkah?" tanya Pras lagi, pasalnya ia masih melihat wajah Indira yang sedikit agak pucat.
"Iyaaa.. Aku baik-baik saja. Percayalah padaku."
"Yasudah, Baiklah! Kau beristirahatlah lagi." Pras bangkit dari duduknya dan mengusap kepala Indira sekilas.
Indira tersenyum.
Pras keluar dari kamarnya.