
Indira terdiam mendengar ucapan Pras.
"Kenapa? Kau tidak suka?" tanya Pras.
Indira menggelengkan kepalanya pelan.
"Rasanya aneh saja mendengar nya.." gumam Indira yang hampir tak terdengar oleh Pras.
Pras tersenyum.
Ia kembali mengusap kepala Indira lembut.
"Sudahlah. Kau harus terbiasa mendengar nya mulai saat ini." Pras menarik tangan Indira lembut. Seraya mengajak nya berjalan.
Indira pun berjalan mengikuti langkah kaki Pras yang panjang.
Mereka pergi meninggalkan restoran dan menuju ke rumah dinas Indira.
Hanya dua puluh menit, mereka telah tiba di kediaman Indira.
Pras hanya mengantar nya hingga depan gerbang.
"Apa kau tidak mampir duluuuu..... Masss?" tanya Indira kaku sesaat ketika akan membuka pintu mobil.
Pras tersenyum bahagia mendengar panggilan baru yang ia dapatkan dari Indira.
Suara Indira yang dulu biasa saja, kini terdengar sangat merdu saat memanggil nya dengan sebutan Mas.
Entah kenapa terdengar begitu mesra ditelinga nya.
"Tidak perlu, sayang. Aku tidak akan mengganggumu untuk beristirahat."
Indira tersipu malu mendengar Pras memanggilnya sayang.
Membuat Pras semakin ingin menggodanya.
"Baiklah kalau begitu, aku pamit dulu." ucap Indira.
"Baiklah, sayang. Istirahat yang cukup yak? Nanti pagi akan aku jemput. Kita akan terbang pukul 8." Pras tersenyum jahil.
Indira tersenyum getir.
Entah kenapa mendengar Pras memanggilnya dengan panggilan itu membuatnya malu bukan main.
Pras kemudian berlalu dari hadapan Indira.
Indira memandang mobil Pras yang semakin kian menjauh.
'Semoga ini menjadi takdir baik untukku.' batin Indira tersenyum penuh makna.
Indira masuk menuju kedalam rumah.
Baru sampai di depan teras, ia sudah disambut oleh sahabatnya, Lani.
Lani yang khawatir akan keadaan nya, terus saja meneleponnya dari tadi siang.
Ponsel Indira yang masih di silent pun semakin menambah kegusaran Lani.
Ia terus menunggu Indira di depan rumah.
Bak sebuah alat pelicin pakaian yang mondar mandir kesana kemari dengan wajah gusarnya.
Kini, ia mendapati orang yang ia tunggu sejak tadi sore sepulang dari kantor hingga kini pukul sepuluh malam berada tepat dihadapannya.
Wajahnya gusarnya berubah menjadi amarah saat melihat sahabatnya itu pulang dengan wajah cengegesan bak tidak pernah terjadi apa-apa.
"Lanii?" ucap Indira saat melihat Lani yang sedang menatapnya tajam.
"Lagi apa lu disini? Sudah malam, Lu masih saja diluar. Ayo masuk!" tanya Indira biasa saja.
"Indiraaaaa.... Luuu... Lagi apa gue disini? Lagi nunggu tukang bakso!" Jawab Lani kesal. Ia berjalan kedalam meninggalkan Indira yang masih bengong menatap punggung Lani.
"Tukang bakso? Jam segini? Emang masih ada yak yang lewat?" gumam Indira, melihat jam ditangannya dan melihat kearah depan gerbang secara bergantian.
Indira pun mengangkat bahunya dan segera masuk ke dalam rumah menyusul Lani.
"Gak nyadar ya Lu? Caba aja lu liat berapa panggilan gue yang lu abaikan.." Ucap Lani malas.
"Benarkah?" Tanya Indira heran. Ia lupa mengecek ponselnya sejak tadi siang.
Indira segera mengeluarkan ponselnya.
Dan benar saja, ia dapati 86 panggilan tak terjawab dan 24 pesan Whattsup dari Lani.
Indira tersenyum kecut.
Lani segera memalingkan wajahnya.
Selain panggilan dn pesan dari Lani, ada pula dari Pras dan Daniel.
Indira baru menyadari tingkah bodohnya saat ini.
Ia segera menghampiri Lani.
"Lann.. Maafin gue yak.. Gue gak tahu kalo lu nelpon, karena ponsel masih gue senyapkan saat masih dikantor. Maafin gue yakk?" bujuk Indira menyesal.
"Lu tahu sekhawatir apa gue sama lu? Fikiran gue kacau.. Saat pak Pras datang ke kantor cariin lu. Gue gak tahu lu ada dimana sama siapa.." jelas Lani dengan mata yang mulai memerah.
Indira memeluk sahabatnya itu.
"Maafin gue Lan.. Gue pun gak tahu harus darimana ceritainnya sama lu." ucap Indira melepaskan pelukannya.
Lani menatapnya, menunggu nya siap bercerita.
"Ceritanya panjang, Lan..." Indira menarik nafasnya dalam dan mulai menceritakan kejadian hari ini dari mulai dia mendapati Pras dan Tania didalam ruangan kantor milik Pras hingga ia pergi bersama Danu dan kejadian yang hampir naas baginya itu pun terjadi.
Lani mendengarkan nya penuh amarah.
"Kurang ajar tuh si Danu! Gue bilang apa, dari dulu jangan pernah mau diajak berduaan doang sama dia." Ucap Lani penuh amarah.
"Iyaa.. Gue gak tahu lagi harus pergi kemana, jadi gue ikut aja sama dia tanpa punya fikiran negatif sama dia."
"Untung pak Pras tepat waktu. Kalo gak? Lu habis sekarang!" Lani menatap pilu Indira.
"Eittt.. Tadi lu bilang dibawa sama pak Pras ke cottage? Trus lu gak diapa-apain kan ma si boss?" Tanya Lani lagi penasaran. Lani memeriksa seluruh tubuh Indira.
"Gakkk Lan.. Gue gak kenapa-napa." jelas Indira meyakinkan.
Mata Lani tertuju pada tangan kiri Indira.
Diangkatnya tangan Indira.
"Ini apa?" tanya nya heran.
"Iniiiiii..." Indira yang bingung mengatakannya hanya bisa menatapnya dengan tersenyum penuh makna.
"Jangan bilang kalo lu ma si Boss?" tebak Lani.
Indira menggangukkan kepalanya pelan dan menunduk malu.
"Serius?"
"Iyaa... Tadi sebelum pulang, dia ngajak gue ke resto dan secara resmi lamar gue." jelas Indira tersenyum membayangkan kejadian tadi saat di hadapan lampu spesial yang khusus dibuatkan untuknya.
"Dan lu jawab, iya?" tanya Lani.
"Hmmm.. Masa iya gue jawab nggak? Sekarang dia udah memenuhi segala kriteria calon imam buat gue. Mau cari yang gimana lagi gue? Mumpung ada yang mau ma gue dan serius pula." ucap Indira tersenyum mengedipkan matanya sebelah kearah Lani.
Lani pun tersenyum dan memeluk sahabatnya itu.
"Selamat yahh Beiibb.. Akhirnya lu akan memasuki masa-masa melepas masa lajang. Semoga si Boss benar-benar serius dengan perasaannya itu."
"Amiinnn.." ucap mereka serentak.
"Terus kapan rencananya lu kenalin sama ibu?" tanya Lani melepaskan pelukannya.
"Besok!" ucap Indira santai.
"Apa? Besokk?"