
"Kekasihmu?" tanya Indira tak percaya.
Pras mengarahkan pandangannya kelaut.
"Yakk.. Dia kekasihku. Kami telah menjalin hubungan sejak tiga tahun lalu. Dulu dia temanku. Teman yang setia mendampingi ku saat kumulai kembali menata kehidupan yang amat kacau. Entah sejak kapan kami menjadi sepasang kekasih." jelas Pras masih memandang laut lepas.
Indira pun memandang kearah yang sama. Ia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Pras. Ia mencoba menerima dan percaya atas semua ucapan Pras.
"Walau semua tahu kami adalah kekasih, namun aku tidak pernah merasakan perasaan yang lebih terhadapnya. Rasa ku hanya sebatas teman. Dan lebih pada hutang budi."
"Kenapa?" tanya Indira.
"Entahlah. Namun hanya itu yang dapat aku katakan. Namun aku bersyukur dengan perasaan ku itu, karena saat mendapatinya bermain dibelakangku, membuatku tidak terlalu terluka. Karena aku tahu betul sifat dan prilakunya seperti itu." Ucap Pras sedikit menekankan dikalimat terakhir. Terdengar penuh amarah.
"Bukankah anda bilang tidak terlalu terluka? Tapi mendengar ucapan anda, sepertinya anda sangat marah, tuan?" Tanya Indira hati-hati.
"Yahh Kau benar! Aku sangat marah. Karena aku sangat tidak suka dibohongi." ucap Pras tegas.
Indira mengangguk pelan.
Pras berdiri dari duduknya.
"Sudahlah.. Masalah Tania sudah aku jelaskan. Sekarang giliran kau! Ikuti akuu...!" Pras mengajak Indira berjalan bersama.
Indira pun bangun dan mengikuti langkah Pras.
Mereka berjalan beriringan.
Pras sesekali menatap Indira disebelahnya yang sedang asyik menatap laut malam.
Hingga disatu step, mereka berhenti.
Takk.. Takkk.. Takkk...
Suara lampion yang menyala disisi kanan dan kiri kaki mereka.
Satu persatu lampion itu menyala hingga ke ujung.
Dan ketika tiba diujung, sebuah lampu menyala terang..
Bertuliskan,
"Will You Marry Me?"
Sontak membuat Indira menoleh dan menatap Pras yang berada disampingnya yang sudah memasang senyuman lebar diwajahnya.
"Yakk.. Sekarang giliranmu! Tidak usah kau tanya bagaimana bisa. Yang penting kau jawab saja," Pras terdiam sejenak.
Ia menarik nafas nya dalam. Lalu mengeluarkan nya perlahan.
"Indira, Will you marry me?"
Ucap Pras tulus, ia memasang senyuman nya yang paling manis.
Indira terdiam menatapnya. Seolah tak percaya,
Lalu ia tersenyum.
'Semoga keputusan ku adalah yang terbaik. Selanjutnya kuserahkan semuanya kepadaMu, ya Robb..' batin Indira.
Pras menatapnya penuh harap.
Indira masih tersenyum.
Indira pun mengambil nafas dan menghembuskannya pelan.
"Yes, I will." ucap Indira.
Ia tersenyum.
Pras pun tersenyum lebar.
"Yesss!" ucapnya pelan.
Pras mengeluarkan sebuah cincin dari kantong saku celananya.
Yakk, Karena ia tidak mengenakan baju kebesarannya. Dan hanya mengenakan kemeja yang dilinting hingga siku.
"May, I?" tanya Pras mengacungkan cincin yang dipegangnya kearah Indira, seraya meminta izin untuk mengenakan nya dijari manis Indira.
Indira pun mengangguk pelan.
Disematkannya cincin itu dijari manis Indira.
"Terimakasih, Indira." ucap Pras tulus menatap Indira.
Indira pun tersenyum haru, menatap cincin dijari manis tangan kirinya.
"Besok kita berangkat ke Surabaya." ucap Pras pelan.
"Apa? Secepat itu?" tanya Indira.
"Yak. Karena aku tidak ingin menunda-nunda niat baikku." Pras tersenyum.
Indira pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
'Aku senang, kau serius dengan ucapanmu.' batin Indira.
"Ayo. Kita pulang. Kau harus istirahat. Besok pagi-pagi kita berangkat."
"Baik, Tuan!" ucap Indira.
"Heyy.. Kau itu calon istriku. Kenapa kau masih saja memanggilku tuan?" interupsi Pras.
Indira yang mendapat interupsi hanya terdiam bingung.
"Hmm.. Lantas aku harus memanggil anda apa?"
"Kau bisa memanggilku dengan sesuatu yang lebih romantis.. Mungkin sayang, Baby, Honeyy atauu apalah.. Yang penting kau jangan panggil aku tuan."
Mendengar Pras menyebutkan nama panggilan yang dia inginkan, membuat Indira menggeridik geli. Bukan tipe nya sekali memanggil seseorang dengan sebutan yang seperti itu.
Melihat Indira terdiam berfikir, membuat Pras heran.
"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan nama yang pas dengan ku?" Tanya Pras penasaran.
"Hmm.. Kalau aku disuruh memanggil anda dengan yang tadi anda sebutkan, rasanya aku tidak bisa, tuan." ucap Indira jujur.
"Lohh.. Kenapa? Tuh kan tuan lagi!" Pras merengut.
"Bagaimana kalau Mas saja?" tanya Indira.
"Mas Pras!"
Pras yang mendengarnya tersenyum dan menyunggingkan bibirnya.
"Hmmm.. Boleh juga! Asal jangan abang! Nanti dikira aku jualan cilok!" Pras mengoceh.
"Hehehe.. Ya tidak begitu, tu... ehhh Mas!" ucap Indira tertawa kaku.
Pras pun tersenyum mengusap rambut Indira perlahan.
Melihat Indira yang tertawa, membuatnya semakin gemas pada calon istrinya itu.
"Sudah, ayo kita pulang sayang!" ucap Pras tiba-tiba.
Membuat Indira melotot.
"Kenapa? Kau merasa geli jika kau yang mengucapkannya bukan?" tanya Pras tersenyum jahil.
"Hmmm.." angguk Indira.
"Jadi seharusnya tidak ada masalah jika aku yang mengucapkannya kan?"
🍁🍁🍁
Haii kakak-kakak readers..
Mohon maaf jika Celz selalu telat update.
Semoga kalian mengerti..
Dikesempatan ini, Celz akan kasih kalian visual Pras alias Joe. Semoga sesuai dengan ekspektasi kalian yak..
Happy Reading!!
Salam hangat dari Celz...
...💗💗💗💗💗...