
"Indira, sedang apa kau disini?" tanya Danu yang merupakan kakak kelasnya dulu saat kuliah.
"Aku dimutasi oleh perusahaanku bekerja. Jadi sekarang aku tinggal disini untuk sementara waktu." jawab Indira.
"Ohh begitu. Kau memang bekerja dimana saat ini?" tanya nya lagi.
"Di perusahaan asuransi Kak."
"Ehmmm...." Lani berdeham keras. Ia kesal, seolah diabaikan.
"Ehhh.. Iya.. Sampai lupa aku, Kak kenalkan ini temanku, Lani." Indira tersenyum dan merasa tak enak hati pada Lani.
"Ohh iya. Danu. Maaf atas ketidaknyamanan tadi." ucap Danu ramah.
"Tak apa." Lani tersenyum getir.
Lani mengerjapkan matanya kearah Indira. Seolah memberi isyarat untuk segera melanjutkan kegiatan mereka.
Indira pun mengerti maksud isyaratnya.
"Hmmm.. Baiklah Kak. Aku minta maaf, sepertinya harus segera pergi. Masih banyak yang belum dibeli." Pamit Indira.
"Baiklah. Ohh iya. Bolehkah aku meminta nomor ponselmu Indira?" pinta Danu menyerahkan ponselnya.
"Hmm.. Boleh Kak." Indira mengambil ponsel Danu dan segera mengetikkan nomor ponselnya.
"Terimakasih. Nanti kuhubungi." Danu tersenyum.
"Baik Kak.. Assalamualaikum.." Indira membalas senyuman Danu.
"Waalaikumsalam..."
Indira pergi bersama Lani melanjutkan mencari segala kebutuhan mereka dirumah.
Danu menatap dalam punggung Indira.
-
Esok hari di IL, Corp.
"Pak, anda sudah bisa memulai kajian ilmu agama nanti sore. Orang yang akan mengajari anda, akan berada di appartment anda tepat pukul empat." ucap Daniel.
"Baik. Terimakasih, Niel. Apa kau tidak tertarik untuk ikut belajar bersamaku?" tanya Pras.
Daniel menjawabnya dengan menyunggingkan bibirnya bersamaan dengan mengangkat kedua bahunya.
"Yaa sudahlah kalau begitu."
Daniel berlalu dari ruangan Pras.
'Semoga keputusan ku tepat. Dan semoga ia adalah orang yang tepat.' batin Pras menatap langit dari jendela ruangan nya.
Pras menekan tombol panggil kepada Indira.
Tak lama Indira masuk keruangannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Indira sopan.
"Nanti sore saya akan memulai kajian rohani di appartment. Apa kau bisa menemaniku?"
"Hmmm.. Di appartment yak, Pak?"
"Kenapa? Apa kau tidak bisa?"
"Hmm.. Bagaimana kalau di mess saya saja Pak. Terasnya agak luas. Jadi saya dan teman saya juga bisa ikut hadir disana. Dan mungkin Pak Daniel juga bisa ikut." Indira mengusulkan.
"Ohh kalau begitu baiklah. Dirumah mu saja." Pras menyetujui usul Indira.
"Eitttss.. Mess ku, Pak. Bukan rumah ku. Lebih tepatnya rumah anda." Indira tersenyum.
"Terserah kau saja!" Pras pun tersenyum.
Indira pun pamit keluar dari ruangan Pras.
Pras memanggil Daniel keruangannya kembali.
"Niel, tolong alihkan kajian rohani nya menjadi ke mess milik Indira. Sore ini."
"Lohhh kenapa, Pak?" Daniel heran.
"Sudah jangan banyak bertanya. Lakukan saja."
"Siap, Pak!"
"Satu lagi, kau harus ikut hadir disana bersamaku." Tegas Pras.
"Karena ini perintah!" Ucap Pras lagi lebih tegas.
Membuat Daniel menundukkan kepalanya.
"Baiklah, Pak! Apa ada lagi yang anda butuhkan?" Tanya Daniel lemah.
"Cukup!"
"Baiklah kalau begitu. saya keluar dahulu." Pamit Daniel.
-
Selepas kembali dari kantor, Pras dan Daniel segera menuju ke kediaman Indira dan Lani.
Pras yang baru saja menginjakkan kakinya disana, segera berdecak kagum pada Daniel yang memilihkan rumah sederhana namun sedap dipandang untuk ditinggali oleh Indira dan temannya itu.
"Hebat kau, Niel."
"Apanya yang hebat, Pak?" tanya Daniel heran.
"Selera mu memilih rumah ini. Sederhana tapi sedap dipandang mata." Puji Pras melihat sekeliling.
"Hmmm.. Begitukah, Pak? Aku pun jatuh cinta pada pandangan pertama, Pak!"
"Wajar saja. Rumah ini memiliki halaman yang luas dan asri. Rumah sederhana dengan gaya jaman dulu. Model rumah betawi di tengah kota, membuat rumah ini menjadi antik." Ucap Pras takjub.
"Hmmm.. Setuju, Pak!"
"Bayar saja. Lunasi. Jangan kau kontrak. Aku ingin memilikinya." ucap Pras kemudian.
"Tapii yang punya mematok harga tinggi, Pak!"
"Tak masalah. Yang penting aku dapat memilikinya." Pras penuh penekanan.
"Baiklah, Pak!"
Daniel pun menganggukkan kepalanya, menanggapi perkataan terakhir dari tuannya.
Sejarah masa lalu, telah mengajarkan sesuatu pada diri seorang Pras.
Bahwa jika menginginkan sesuatu, jika sesuatu itu patut diperjuangkan, maka berjuanglah tanpa lelah hingga kau mendapatkan apa yang kau ingin.
Karena kau benar-benar akan menyesal jika pada akhirnya kau tidak dapat memiliki sesuatu yang berharga itu karena telah dimiliki oleh orang lain, hanya karena kau yang terlalu bermain-main dengan waktu.
Yahhh.. Karena waktu enggan menunggu mu!
-
Pras telah berada diteras rumah Indira bersama Daniel, Indira juga Lani.
Mereka tengah mendengarkan penjelasan Pak Nursyid, seorang ustadz dari sebuah pondok pesantren di kawasan tersebut.
Beliau memulai kajian rohani kali ini dengan materi Tauhid.
"Yakinlah, yakinkan diri kita bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita itu sudah menjadi takdir Alloh SWT. Juga semua hal yang ada didunia ini baik yang berada dilangit dan di bumi, semua adalah ciptaan Nya."
"Ciptaan Ia yang Maha Esa, Maha Tunggal!" ucap Pak Nur.
Semua mendengarkan dengan seksama.
Daniel yang terlihat biasa saja pun kini terlihat agak antusias setelah mendengarkan materi yang diberikan oleh pak Nur.
Pras pun sangat terlihat serius sekali.
Ia merasa hatinya telah diguyur oleh hujan yang kini membasahi separuh jiwanya yang dulu kering keronta sebab terlalu lama tak disiram oleh kajian rohani seperti ini.
Rasanya, seakan telah mati karena terlalu sibuk dengan dunia nya yang sangat menjanjikan segala hal.
Pak Nur menutup kajian ilmu nya, dengan memberikan tugas pada Pras dan Daniel yang harus menghafal bacaan doa wudlu juga dengan gerakannya yang memang terlihat sangat polos sekali dalam masalah peribadahan.
Pras yang telah lama tidak melakukannya, kini mengulang berkali-kali semua gerakan dan doanya, macam anak SD.
Pras meminta bantuan kepada Indira. Ia benar-benar lupa akan praktik wudlu tersebut. Pasalnya, sebangunnya dari koma tujuh tahun yang lalu, Ia belum pernah sekalipun melakukannya lagi.
"Hadeuuuhh.. Di KTP ajaa tertera agama dengan jelas, pada kenyataan nya masih buram. Bahkan buta!" gumam Indira pelan.
"Apa katamu?" Tanya Pras yanh seolah mendengar Indira mengucapkan sesuatu.
Indira yang kaget pun langsung menggelengkan kepalanya.
"Hmmmm.. Tidakk, Pak! Saya tidak mengatakan apa-apa!" ucap Indira gelagapan.
"Ohhh.. Untungg saja dia tak mendengar." Batin Indira tersenyum.