
'Kenapa kakak menangis dalam pelukan Mas Pras?
Ada hubungan apa sebetulnya Kakak dan Mas Pras?
Kenapa Kakak memanggil nama lama mas Pras?
Apakah mereka dulu sepasang kekasih?
Apakah aku akan menjadi penghalang untuk hubungan mereka?'
Indira menatap pilu adegan yang ada di hadapan matanya itu.
Begitu banyak pertanyaan muncul dalam benaknya.
Entah mengapa ada perasaan pedih dalam hati terdalamnya.
Apa rasa cinta itu telah tumbuh dalam hatinya?
Yah karena sejauh ini, Indira belum merasakan perasaan apapun pada Pras. Ia hanya baru merasa kagum atas pribadi Pras yang baru dan dengan kegigihan Pras untuk berubah mampu membuatnya yakin akan pinangan Pras.
Tanpa sadar, Indira memegang dada nya.
'Kenapa terasa perih...' gumamnya.
Ia lantas berbalik arah. Kembali menuju ke ruangan sang ibu.
-
Setelah kurang lebih tiga puluh menit Pras berbicara dengan Delia, kini mereka kembali ke ruangan sang ibu, ibu Nia.
"Bu, dimana Indira?" tanya Delia dengan mata dan hidung yang sedikit memerah.
"Tadi dia bilang ingin keluar sebentar membeli buah."
"Oh begitu."
Pras menghampiri bu Nia, ibu dari Delia dan Indira.
"Bu, mohon maaf atas ketidak nyamanan tadi." Pras mencium tangan bu Nia dengan takzim.
"Perkenalkan, saya Pras."
Bu Nia tersenyum kaku. Ia masih bingung dengan situasi nya saat ini.
Yah situasi kedua putri nya yang masih ganjal menurutnya.
'Bagaimana tidak, saat satu putrinya ingin memperkenalkan calon suami nya, disaat bersamaan putri nya yang lain menarik tangan calon suami putrinya. Bingung kan? Hehehe..'
"Hmmm.. Nak Pras, lalu kenapa tadi Delia memanggilmu dengan nama, Joe?"
Bu Nia bertanya dengan ragu. Yahh karena ini mengganggu fikiran nya sedari tadi sesaat mereka meninggalkan ruangannya. Ia dapat melihat jelas kegusaran Indira, walau Indira sangat berusaha menutupi nya. Namun yah perasaan seorang ibu sangatlah peka terhadap kedua putrinya.
"Nama saya Joevandi Prasetya, Bu. Joe adalah nama panggilan kecil saya." Jelas Pras jujur.
Bu Nia mengangguk kecil,
Pandangannya kini beralih pada Delia.
"Delia, apa yang sebenarnya terjadi antara kalian?"
Delia yang duduk disamping Ibunya pun menghela nafas panjang.
"Hmmm.. Jadi begini Bu, Joe, atau Pras yang akan dikenalkan oleh Indira pada kita itu adalah teman ku dulu. Dia lelaki yang aku ceritakan dulu Bu. Lelaki yang berhasil membantuku kabur dari rumah kakek." jelas Delia.
Sang ibu pun mengingat jelas lima tahun yang lalu, saat putrinya itu pertama kali bertemu kembali dengannya sejak usianya tujuh tahun.
Mereka terpisahkan karena keegoisan sang kakek yang tidak mau menerima putra nya menikah dengan wanita biasa.
"Hmmm.. Jadi kau yang membantu putriku, Nak Pras?" tanya bu Nia dengan lembut dan nada menyimpan haru.
"Begitulah, Bu. Bantuan yang tidak seberapa." Pras tersenyum kecil.
"Lalu, apa sebetulnya yang belum terselesaikan diantara kalian, Delia?" Cecar bu Nia yang sangat penasaran dengan cerita sesungguhnya.
"Kami hanya berteman, Bu. Murni hanya sebatas teman. Yang itu, tadi aku hanya meminta penjelasan pada nya, mengapa ia meninggalkanku dirumah saudaranya sendiri."
jawab Delia mantap.
Bu Nia menarik nafasnya panjang. Ia merasa lega dengan penjelasan Delia. Karena ia yakin bahwa putrinya itu tidak akan mampu membohonginya.
"Betul kan begitu, Pras?" tanya Delia pada Pras dengan nada penuh penekanan di akhir kalimatnya.
Pras dengan cepat mengangguk, mengiyakan pertanyaan Delia.
"Baiklah kalau begitu, ibu percaya pada kalian berdua." bu Nia tersenyum. Pras dan Delia pun ikut tersenyum lega.
"Hmm.. Lalu, hubungan apa yang kau miliki dengan Indira, nak Pras?" tanya bu Nia kemudian.
"Hmmm.. Begini Bu, maksud saya datang kemari bersama Indira itu, tidak lain untuk meminta restu dari ibu dan Kakaknya yang ternyata adalah Delia." Pras tersenyum geli, mengingat pertemuannya dengan Delia lima tahun silam.
"Saya meminta restu dari ibu dan Delia. Untuk mempersunting Indira secepat mungkin." lanjut Pras.
"Loh kenapa harus secepat mungkin?" tanya bu Ani heran.
"Karena saya sudah mantap dengan Indira, dan saya tidak mau merasa menyesal kembali dikemudian hari karena kehilangan orang yang tepat untuk saya, hanya karena saya bermain-main dengan waktu." jawab Pras yakin.
Bu Ani mengangguk.
"Hmm.. Lalu bagaimana dengan orangtua mu? Kau seorang dari yang berada, sedangkan Indira hanyalah wanita biasa, yang juga dari keluarga yang biasa saja." Bu Ani mulai ber kaca-kaca.
"Ibu gak mau, kedua putri ibu mengalami kejadian serupa dengan ibu." imbuhnya.
"Kebetulan Indira sudah dekat dengan ibu saya." jawab Pras cepat.
"Ayah mu?"
"Ayah saya telah meninggal tujuh tahun yang lalu." Pras dengan suara yang melemah.
"Maafkan kami." ucap bu Ani merasa bersalah.
"Tak apa, Bu."
Ada keheningan setelah itu.
Bu Nia seolah sedang berfikir.
"Baiklah nak Pras. Jika memang kau serius dengan perkataanmu, kapan sekiranya kalian akan menikah?" tanya nya kemudian.
Membuat Pras sedikit terkejut.
"Jika ibu dan Delia telah merestui hubungan kami, esok pun saya siap!" ucapnya mantap.
Kini Delia dan bu Nia yang dibuat terkejut oleh ucapan Pras.
"Hei, Joe! Jangan bercanda! Pernikahan itu bukan lelucon!" sergah Delia.
"Aku tidak sedang bercanda, Delia. I'm serious!"
"Tetap saja, menikah itu butuh segala hal yang perlu disiapkan."
"Gampang. Untuk masalah persiapan pernikahan, tinggal ku hentakkan jari ku, Delia." Ucap Pras tersenyum penuh bangga.
Delia hanya menyunggingkan bibirnya.
Bu Ani tersenyum penuh arti melihat Pras yang sangat bersemangat. Namun kemudian mimik wajahnya berubah serius.
"Kau sepertinya sudah sangat yakin dengan Indira. Apa Indira sama denganmu? Apa ia sudah yakin denganmu?"
🍁🍁🍁
...'Pernikahan bukan hanya menyatukan sepasang kekasih,...
...tapi juga menyatukan dua keluarga.'...