
Indira mengakhiri teleponnya.
Ia kembali menghampiri Pras dan duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursi Pras.
Wajahnya terlihat sedikit bahagia.
Pras menatapnya tajam.
Entah mengapa rasa ingin tahunya saat ini besar sekali pada Indira.
'Siapa Danu?
Apa harus aku tanyakan padanya?' batin Pras yang sedang berfikir.
'Tidak, tidak boleh! Aku tidak boleh terlalu posesif padanya. Biarkan saja dulu. Siapa tahu dia yang akan lebih dulu bicara padaku.' batinnya lagi seraya menggelengkan kepalanya pelan.
Indira yang melihat ekspresi dan tingkahnya, segera menegurnya.
"Kenapa, Tuan? Apa kopi nya tidak enak?" tanya Indira khawatir. Pasalnya, ini kali pertama ia membuat kopi, dan kopi pertama nya itu dibuat untuk seorang direktur lagi.
"Hmmm.. Tidak.. Kopi buatanmu enak, hanya kurang manis sedikit." Ucap Pras jujur.
"Ohhh.. Kurang manis! Seharusnya anda minum kopinya sambil melihat kearahkuu.. Pasti akan lebih terasa manis." Sahut Indira tersenyum.
"Benarkah? Mana bisa? Mengapa?" Tanya Pras heran.
"Iyaaa.. Kan aku manis! Jadi kopimu akan terasa lebih manis saat diminum sambil melihat kearahkuu.. Hahahaha..." Indira tertawa bergurau.
"Iyaaa, benar sepertinya. Kau memang manis! Apa kau lupa, aku juga pernah merasakannya walau sekilas." Ucap Pras jahil sambil memegang ujung bibirnya.
Blusssshhhhh....
Wajah Indira memerah.
Ia tahu betul maksud dari perkataan Pras.
Ia tak percaya Pras akan menyinggungnya perihal pertemuan pertama mereka di dalam lift hotel tempo hari itu.
Pengalaman pertama baginya yang membuat nya merasa menyesal telah mengejar lelaki yang menurutnya tak punya hati itu.
Yaahh itulah kesan pertama dirinya pada seorang Pras.
Pras tersenyum menang melihat ekspresi Indira yang terkejut dan tersipu.
Ia betul-betul merasa senang telah mengerjai Indira dengan tingkah dan ucapannya.
Tak berapa lama, Daniel yang diminta untuk membeli makan malam untuk mereka berempat, kini kembali dengan beberapa box dinner dari sebuah restoran.
"Niel, lama sekali kau ini. Pergi mencari makan atau mencari jodoh?" Tanya Pras.
"Sepertinya keduanya, Pak! Seperti pepatah mengatakan, sambil menyelam minum air!" jawab Daniel tersenyum.
"Engap dong! Hahaha.." sahut Indira tertawa.
Daniel dan Pras mengernyitkan dahinya bersamaan menatap heran kearah Indira.
"Ohh iyaa ya.. Betul juga!" Sahut Daniel menganggukkan kepalanya seraya berfikir kemudian tertawa.
Pras hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya menanggapi ocehan Indira.
"Sudah, ayo kita makan. Panggil teman mu Indira!" titah Pras halus.
"Baik, tuan!" Indira segera masuk ke dalam rumah untuk memanggil Lani agar ikut bergabung makan malam bersama.
-
Tak terasa Indira telah memasuki bulan kedua berada di Jakarta dan menjalani pekerjaannya di kantor barunya itu sebagai sekretaris Direktur Utama.
Selama itu pula, ia ikut mendampingi Pras yang sedang mempelajari ilmu agama.
Pras mengalami perubahan yang sangat signifikan dalam keseharian dan juga karakter pribadinya setelah memperdalam ilmu agama nya.
Ia lebih menjadi pribadi yang lembut dan sangat perhatian dengan hal yang berada disekitarnya.
Pribadi yang sangat bertentangan dengan dirinya dulu.
Masa lalu yang pahit membuat nya menjadi pribadi yang keras dan cuek dengan sekitarnya, namun kini hati Pras melunak karena terlalu sering disiram oleh benih-benih kasih sayang dari Yang Maha Kuasa.
Indira merasa kagum dan bangga pada Pras karena mau memperbaiki diri nya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Entah apapun alasan yang membuatnya ingin berubah, tapi Indira menjadi sedikit tersentuh dengan kesungguhan Pras dalam menjalani setiap sesi pertemuannya bersama pak Nur.
'Mungkin gak siiihh tuan Pras memang serius dengan ucapannya sebulan yang lalu saat bicara ingin menikahi gue?' batin Indira sambil membereskan meja kerja nya.
'Ahh gak mungkinn dehh kayaknya. Dia kan gak ungkit-ungkit lagi masalah itu.' Indira menggelengkan kepalanya sambil menyunggingkan bibirnya.
Setelah selesai dengan meja kerjanya dan monolognya sendiri, Indira bergegas meninggalkan kantornya.
Saat keluar dari pintu kantornya, Indira dikagetkan dengan sebuah mobil yang berhenti tiba-tiba di hadapan nya.
tiiinnn.... tiiinnnn...
Suara klakson mobil dihadapannya.
Indira mengernyitkan dahinya.
'Siapa?' batinnya mencari tahu orang yang berada didalam mobil.
Kaca mobilpun perlahan turun dan terlihat seorang pria berkacamata hitam didalam mobil menatap kearahnya tersenyum.
"Ayo!" ucap sang pria kemudian.
Indira hanya tertegun ditempatnya.
Melihat ekspresi Indira yang terlihat tak mengenalinya, sang pria pun membuka kacamata yang menempel di hidung mancungnya.
Dan kini Indira dapat dengan jelas melihat wajah sang pria.
"Kauu...." gumam Indira.