Love You, Boss! !

Love You, Boss! !
Part 34 _ Berbahagialah..


...Jangan berandai-andai...


...dengan segala asumsi mu sendiri....


...Carilah kebenarannya....


...Walau pahit kenyataannya....


...Setidaknya kau tak kan...


...mati penasaran....


...-...


Sudah satu jam Indira duduk di kafe seberang rumah sakit.


Ia terus memutar-mutar cangkir kopi yang ada dihadapannya.


Fikirannya tengah terbang mengikuti arah angin yang berhembus.


Terlalu banyak pertanyaan dalam benaknya, membuat nya penat.


Ia ambil earphone di dalam tas nya dan menyambungkannya pada handphone miliknya yang ia alihkan ke mode pesawat agar tak ada telpon yang masuk.


Saat ini fikirannya sedang bercabang. Ia belum siap mendengar kenyataannya.


Mendengarkan murottal di saat banyaknya hal yang mengganggu fikiran dan ditemani secangkir kopi hitam sedikit meringankan beban di otaknya yang kini tengah bekerja keras memecahkan teka teki.


Yaa... Indira sangat terganggu dengan adegan yang baru saja dilihatnya. Walau tadinya ia merasa baik-baik saja, namun semakin lama hal itu justru membuatnya gusar sendiri.


Ia memilih menenangkan diri. Mencoba berfikir positif.


Indira memejamkan matanya sesekali mencoba mencerna setiap kata dan kalimat.


Suara sang pelantun kitab suci yang ia dengar benar-benar merdu dan mulai menetralisir segala aura negatif dalam dirinya.


Sedikit demi sedikit ia mampu mengendalikan fikirannya.


'Tak bisa! Tidak seperti ini.


Aku gak boleh seperti ini.


Aku harus tahu apa yang sebetulnya terjadi.


No su'udzhon like this...


Ya Allohh.. Aku serahkan segalanya padaMu. Jika memang dia bukan untukku, aku ikhlas.


Aku yakin pilihanMu lah yang paling terbaik diantara yang terbaik.'


Gumam Indira dalam hatinya.


Indira membuka matanya. Ia memutuskan sambungan earphone.


Dan mengalihkan kembali menjadi normal. Seketika laporan telepon dan inbox pesan dibanjiri oleh beberapa nama.


Dan yang paling banyak meneleponnya adalah Pras. Yahh dalam kurun waktu satu menit, Pras telah mencoba menghubunginya sebanyak 4 kali. Dan ada banyak pesan juga yang Pras kirim kepadanya.


'Kamu dimana?


Kok hp nya dimatiin?


Sayang?


Dimana?


Ada apa, yang?


Sayang.... Kamu dimana?


Indiraaaa... Akuu cari kamu di rumah sakit gak ada. Kamu dimana?


Indiraaa... Angkat teleponnya.


Ayoo kek sayang...


Kamu dimana?


Indira, angkat telponnya. Ini perintah!


Indiraaaaa..


Sayang please..


Kamu harus tahu yang sebenarnya..


Kita harus bicara.


Indira, please..'


Pesan dari Pras yang cukup banyak yang dikirim dalam rentang waktu satu jam.


Pesan terakhirnya dikirim dua puluh menit yang lalu.


Indira menyunggingkan bibirnya.


Indira mencoba mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan Pras. Tapi ia bingung akan membalas pesannya seperti apa.


Dihapus, diketik lagi. Dihapus lagii dan diketik lagi baru kemudian di kirim.


Dan,


Tingg.... Suara pesan masuk dalam ponsel. Tapi bukan dari ponsel Indira. Suaranya dari arah belakang Indira. Indira menoleh dan alangkah kagetnya ia melihat seseorang di balik tubuhnya yang sedang menatap nya dengan senyuman terbaik milik nya.


"Hai.."


"Disini rupanya..." Pras tersenyum lembut.


"Mass... " Indira berdiri menghadap Pras.


"Maaf aku tadi langsung pergi dan gak bilang dulu."


"It's okay, sayang." Pras tersenyum. Ia tahu, Indira sepertinya melihat ia memeluk Delia tadi.


"Kita perlu bicara, sayang."


"Hmm iya Mas."


Pras menarik kursi untuk Indira.


Dan ia duduk berhadapan dengan Indira. Pras meletakkan Handphone nya diatas meja dan ia menarik nafas nya dalam.


"Hmmm... Gini sayang, Mas tahu kamu akan bertanya tanya ada hubungan apa antara mas dan Delia. Dan disini, mas akan ceritakan dari awal bertemu dengan Delia sampai kami berpisah lima tahun yang lalu itu." Pras menatap dalam Indira.


Indira mengangguk tersenyum.


Ia senang, bahwa Pras dengan suka rela akan menceritakan kisahnya dengan Delia tanpa ia minta terlebih dahulu.


"Hmmm Okeee... Lima tahun yang laluu...."


Pras mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Delia, hingga pertemuannya yang terakhir dengan Delia.


Indira menarik nafasnya lega.


Cerita Pras benar-benar menjawab segala pertanyaan yang ada dalam benaknya sejak tadi.


"Begitulah sayang, pertemuan singkat kami. Namun walau singkat, pertemanan kami sangat mendalam. Karena saat itu kami benar-benar sedang hancur dipermainkan oleh takdir. Bertemunya kami merupakan sebuah takdir baik setelah takdir buruk yang menimpa kami. Karena kami bisa saling menghilangkan segala rasa sedih kami saat bersama. Delia yang sangat cuek membuat kekonyolanku juga muncul kembali." Jelas Pras.


"Hmm... Begituu.." Indira mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan seolah sedang berfikir.


"Yah begitulah. Semua mas sudah jelaskan secara detail, tanpa ada yang disembunyikan."


"Hmm aku bertanya boleh mas?"


Indira ragu-ragu.


"Silakan."


"Apa mas benar-benar tidak menyimpan perasaan sama kak Delia?"


"Tidak. Mas menganggap Delia hanya sebagai teman." jawab Pras mantap.


"Namun apakah kak Delia juga sama seperti Mas? Apa dia tidak menyimpan rasa sama Mas?"


"Hmmm.. Seperti nya tidak."


"Mas yakin?"


"Of course!"


"Aku sih gak yakin mas.."


"Kenapa?"


"Karena mustahil jika ada wanita dan pria yang berteman tanpa ada rasa cinta didalamnya." Jelas Indira.


Pras terdiam.


"Pasti ada cinta diantara keduanya yang menyebabkan perasaan keduanya semakin intens dalam berteman. Karena pada dasarnya, Cinta itu adalah teman."


Pras masih terdiam. Ia seolah de javu ke masalalu. Yah ia pernah punya teman yang menjelma menjadi seseorang yang sangat ia cintai.


"Entahlah sayang. Aku tak tahu." ucapnya kemudian.


"Kalau begitu, Mass. Maaf. Aku rasa, aku harus menunda dulu keputusan kita untuk menikah, sebelum aku tahu bagaimana perasaan kak Delia sama kamu."


"Kok begitu sayang?"


"Aku gak mau jika harus bahagia diatas penderitaan orang lain. Apalagi saudariku sendiri. Tolong mengerti, Mas."


Pras terdiam kembali.


"Biarkan aku berfikir dulu, Mas. Maaf."


"Baiklah sayang. Jika itu mau mu. Jangan terlalu lama kau buat aku menunggu."


Indira menganggukkan kepalanya.


-


"Apa kau benar-benar tidak menyukai mas Pras, Kak?"


"Huuhhhh.. Hal konyol itu sudah aku dengar tiga kali Indira. Ku mohon jangan tanyakan lagi padaku. Dia bukanlah seleraku. Dia hanya seorang teman lamaku, Indira. Please..." Delia dengan nada malasnya.


"Oke Kak.. Aku tidak mau membuat kesalahan dikemudian hari, nanti."


"Sudahlah, jika kau ingin menikah, menikah saja. Toh aku dan ibu sudah merestui kalian. Jangan menganggapku sebagai kerikil yang menghalangi perjalanan kalian."


"Kak.. Bukan begituuu.. Aku hanya tidak ingin melukai perasaan kakak.. Aku tidak mau karena ini. Hubungan kita jadi merenggang." Indira memeluk salah satu lengan Delia manja.


"Sudahlah adikkuuu.. Jangan lebay seperti itu. Kakak sungguh tidak apa-apa. Seperti perkataanku. Jika kau mau menikah terlebih dahulu, kakak ikhlas, asal kau memberiku uang pelangkah yanv besar." Delia tersenyum jail.


"Isssyy isyy isssy.. Kakak ku sungguh matreee!" Indira berdecak lidah dan kemudian memeluk kakaknya.


"Terimakasih, Kak."


"Kembali kasih, Indira. Berbahagialah." Delia membalas pelukan Indira.


Matanya memerah menahan tangis.


🍁🍁🍁