Love You, Boss! !

Love You, Boss! !
Part 21 _ Sakit....


Setelah menyelesaikan kisah pilu putranya pada Indira, Bu Rahma tersenyum seketika. Menatap putranya yang sedang berjalan kearahnya.


Pras tersenyum kearah ibundanya.


"Bu..." sapa Pras sesaat setelah sampai dimeja ibunya dan Indira.


Pras mencium tangan sang ibu dengan takzim.


Indira menatap Pras dalam yang kini juga tersenyum menyapanya.


'Tak kusangka tersimpan banyak duka di masalalu nya.' batin Indira.


"Duduk, sayang!" titah sang ibu.


Pras pun menarik kursi disebelah Indira.


"Kau sudah makan, Nak?" tanya sang ibu.


"Sudah, Bu. Sebelum kemari aku lunch dengan beberapa calon kolega perusahaan di sebuah restoran dekat sini. Jadi sekalian saja mampir kesini."


"Bagaimana kau bisa tahu kami sedang disini?" tanya lagi sang ibu.


"Tahulahh Bu.. Apa yang tidak ku ketahui?" Sahut Pras conggah.


Indira tersenyum melihat sikap sang Boss. Begitupun dengan sang Ibu Boss, ia hanya tersenyum sembari menyunggingkan bibirnya menanggapi celotehan sang anak.


"Ohh iya Indira. Kenapa ponselmu tidak aktif?" tanya Pras sambil menyedot minuman milik Indira.


Indira yang melihatnya pun sontak berteriak.


"Ehhh... Tuan. Itu milik saya." ujar Indira melotot.


"Ya Ampuuunn.. Pelit sekali kau ini.. Kau pelit pada Boss mu yang sudah menggajimu dengan bayaran yang mahal? Sungguh terlalu." ucap Pras menggelengkan kepalanya.


"Ehh.. Bukan begitu maksudku, Tuan. Hanya saja, itu bekas bibirku." ucap Indira pelan. Ia malu betul dengan sikapnya. Ia menunduk malu.


Pras tersenyum kecil melihat ekspresi Indira.


Bu Rahma hanya tersenyum melihat kelakuan jahil putranya pada sekretaris yang tengah dilamarnya itu.


Bu Rahma segera merapikan tasnya.


"Pras, ibu kembali ke mansion lebih dulu yak. Ingin segera beristirahat. Kau antarkan Indira pulang. Dan Indira, terimakasih yak hari ini telah menemani saya." Bu Rahma bangun dari duduknya.


"Hmm. Baiklah, Bu. Hati-hati dijalan." sahut Pras.


"Terimakasih kembali, Nyonya. Hati-hati dalam perjalanan anda." ucap Indira menyalami dan mencium tangan sang ibu Boss nya.


"Baik. Kalian juga hati-hati yak." Pras memeluk ibunya.


"Lanjutkan Joe. Dapatkan hatinya! Restu ku menyertaimu!" bisik bu Rahma ditelinga putranya dengan sebuah senyuman.


Pras pun tersenyum riang.


"Baik Bu. Pasti akan kudapatkan kali ini." jawab Pras pun berbisik.


Mereka melepaskan pelukan nya. dan Bu Rahma tersenyum kearah Indira.


Bu Rahma beranjak meninggalkan Pras dan Indira yang masih mematung ditempatnya menatap punggung sang ibu.


Indira pun duduk kembali.


"Baik, Indira. Apa kau sudah selesai?" Tanya Pras kemudian.


"Baik, ayo kita pulang!"


Mereka berjalan beriringan menuju basement hotel.


Terlihat ada seseorang yang menatap kebersamaan mereka dari kejauhan.


"Apa karena nya kau selalu menjauh dariku?" gumam seseorang itu.


Pras dan Indira telah sampai didepan mobil milik Pras. Mereka meninggalkan Mall tersebut sesaat setelah Pras menyalakan mesin mobilnya.


Dalam perjalanan. Pras menyindir Indira perihal lamarannya bulan lalu.


"Indira. Aku harap kau tidak akan melupakan hal penting yang telah aku ungkapkan kepadamu sebulan yang lalu." ucap Pras.


"Perihal apa, Tuan?" tanya Indora bingung.


"Hadeuuhh.." gumam Pras menepuk dahinya pelan.


Indira menatapnya bingung.


Pras memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan mereka saat ini. Ia lebih memilih untuk diam dan memilih waktu yang tepat nanti untuk mengulangi melamar Indira disaat yang tepat.


-


Esok hari di IL, Corp.


"Indira tolong carikan aku berkas satu tahun kebelakang. Tolong kau bawa kemari. Aku membutuhkannya sekarang." Ucap Pras pada Indira lewat sambungan telepon kantor.


"Baik, Tuan. Akan segera aku bawa ketempat anda." sahut Indira bersemangat.


Pras tersenyum kecil.


Ia menutup sambungan telepon nya.


Indira segera bangkit dari mejanya. Dan berjalan menuju gudang penyimpanan berkas.


Ia dengan cekatan memilah dan memilih berkas yang ia butuhkan.


Sekitar hampir satu jam berkutat dengan tumpukkan berkas, Indira kembali menuju ke ruangan Pras dengan membawa berkas yang diminta oleh sang Boss itu.


Ia berjalan cepat menuju ruangan Pras. Melihat pintu ruangan yang terbuka, Indira segera masuk keruangan Pras tanpa mengetuk pintu sang Boss nya itu.


Baru dua langkah masuk kedalam ruangan bossnya, Ia segera menghentikan langkah kakinya seketika.


Ia menatap Pras yang tengah memangku seorang wanita cantik. Dengan kedua lengan sang wanita melingkar di leher Pras.


Degggg...


Hati Indira terasa sesak seketika.


Ia melangkah mundur perlahan dengan hampir tanpa suara.


Setelah berada diluar ruangan, ia kembali ke meja nya dan meletakkan berkas yang diminta Pras dimejanya.


Ia mengambil tas miliknya dan pergi meninggalkan kantor.


Ia berjalan gontai.


Entah apa yang ia rasa, tapi yang jelas. Melihat pemandangan tadi, berhasil membuat nya menjadi merasakan sakit yang luar biasa dalam hatinya.


"Apa yang sedang ia lakukan? Siapa wanita itu?" batin Indira.