
"Apa?" ucap Indira tak percaya atas apa yang diucapkan oleh Pras.
Pras tersenyum penuh arti.
"Pak, apa anda serius atas ucapan anda?" tanya Daniel yang sama terkejutnya.
"Kapan aku bercanda atas semua yang aku ucapkan?" Tanya Pras kembali dengan tegas.
Daniel yang mengerti pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Persiapkan segala sesuatu nya dengan segera, Niel." titah Pras.
"Baik, Pak." Daniel bersemangat.
Indira masih terdiam mematung. Ia masih belum bisa move on dari keterkejutannya.
Daann..
"Tunggu!" ucap Indira kemudian.
Pras dan Daniel menghentakkan kepalanya serentak kearah Indira. Seraya bertanya 'ada apa?'.
"Jika anda serius dengan ucapan anda, maka mengapa anda tidak bertanya terlebih dahulu padaku, bersediakah aku menikah dengan anda?" ucap Indira kemudian, karena merasa aneh dan janggal antara percakapan mereka.
Pras tertawa.
"Hahahha... Untuk apa aku bertanya, tohh kau juga pasti akan mengiyakan nya bukan?" Ucap Pras dengan percaya dirinya.
"Kata siapa? Jelas-jelas aku akan menolaknya!" tegas Indira mantap.
Jleeeeebbbbbb...
Seseuatu seolah telah menghantam dada Pras.
Kini Daniel yang menahan tawanya. Wajahnya merah padam.
Pras yang melihat ekspresi wajah Daniel pun tahu bahwa sekretaris nya itu sedang menahan tawanya.
"Nielll, apa kau sudah tidak ingin bekerja?" geram Pras.
"Hmm... Tidak, Pak!"
"Kalau begitu diam. Jangan pasang ekspresi seperti itu. Macam kepiting rebus saja kau!" ucap Pras.
"Baik, Pak." ucap Daniel yang masih mencoba menahan tawanya.
Daniel benar-benar tak menyangka, boss nya di tolak mentah-mentah oleh seorang wanita yang notabene nya hanya seorang pegawai biasa.
Karena berada di posisinya sekarang, Pras merupakan seorang calon suami idaman setiap wanita.
Dengan wajah tampan yang ia miliki, harta yang berlimpah pekerjaan yang mapan, membuat semua kriteria sebagai seorang suami idaman terpenuhi dengan sempurna.
Namun, alih-alih bahagia dan menerimanya. Indira malah menolaknya dengan tegas dan sepertinya serius.
"Apa tadi yang kau katakan?" tanya Pras kembali pada Indira.
"Aku menolak untuk menikah dengan anda!" ucap Indira tegas.
Pras mengernyitkan dahinya.
'Beraninya kau menolak lamaranku?' batin Pras menatap Indira.
"Karena anda tidak memenuhi kriteria calon suami untukku!" tegas Indira.
"Apa?" Tanya Pras terkejut.
Daniel pun sama terkejutnya. Ia benar-benar sangat ingin tertawa saat ini.
"Nona, Pak Pras ini adalah seorang CEO di perusahaan IL, Corp. Indonesia dan Singapore. Belum lagi, ia juga menjadi CEO di sebuah perusahaan pertambangan di Indonesia bagian Timur sana." ucap Daniel.
Pras tersenyum mendengar Daniel menjelaskan tentang dirinya pada Indira.
"Wajah pak Pras tidak kalah dengan para boyband asal Korea. Malah ia miliki wajah seperti pemain aktor hollywood." Lanjut Daniel.
Pras menyunggingkan bibirnya mendengar ucapan Daniel kali ini.
"Harta yang beliau miliki pun kini bertumpah ruah.
Lalu, point yang mana yang membuat pak Pras tidak memenuhi kriteria sebagai calon suami untuk anda?" tanya Daniel.
Pras menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan pertanyaan Daniel yang mewakili dirinya.
"Aku sangat setuju dengan ucapan pak Daniel. Dengan segala hormat, aku mengagumi mu Pak sebagai atasan dan pemilik perusahaan ini. Namun bagiku, harta itu nomor tiga. Dan wajah tampan itu merupakan bonus untukku." ucap Indira.
Pras mengernyitkan dahinya.
Ia sangat bingung menghadapi wanita ini.
Fikirannya tidak dapat diterka.
"Point yang pertama bagiku untuk mencari suami adalah agamanya!" Indira melanjutkan ucapannya.
"Point yang kedua adalah pendidikan keluarganya!"
Pras dan Daniel menyimak setiap ucapan Indira.
"Maksud anda?" Tanya Daniel.
"Aku ingin memiliki suami yang agamanya baik. Ibadahnya baik, ketaatan kepada tuhannya baik. Karena aku masih banyak membutuhkan bimbingan dari seorang imam untuk ku dan keluarga ku nanti." ucap Indira.
"Aku tidak ingin sembarangan memilih calon suami. Karena jika aku memilih nya karena harta, maka disaat ia tidak miliki harta, bisa jadi aku akan meninggalkannya. Juga jika aku menjadikan wajah tampan menjadi point utama, maka bisa jadi setelah ia tua nanti aku pun bisa saja meninggalkannya. Namun jika aku menjadikan agama menjadi point utama, maka aku yakin apapun yang akan aku hadapi nanti, aku akan tetap teguh bersama nya melewati setiap ujian dari yang Maha Kuasa."
Degggggggg......
Mata Pras memerah, basah.
'Sekali lagi, hatiku disentuh oleh seorang wanita.'
'Tak akan aku membiarkan nya lepas kali ini!'
batin Pras.