Love You, Boss! !

Love You, Boss! !
Part 36 _ Peliharalah Kami..


Rombongan keluarga Pras telah tiba di kediaman Indira.


Pras dan keluarga disambut baik oleh seluruh keluarga besar Indira dari pihak ibu. Karena dari pihak ayah tidak ada yang datang.


Yah hubungan antara sang ibu dengan keluarga pihak ayah memang tidak terlalu baik terkhusus sang kakek.


Apalagi setelah kepergian ayah Indira, sang kakek menuduh kepergian anaknya karena ulah ibu Nia, Ibu Indira. Tapi untuk masalah perwalian, adik dari sang ayah telah bersedia untuk menjadi wali nikah Indira. Namun, ia hanya bisa datang nanti pada acara digelar karena pekerjaan nya yang tak bisa ditunda saat ini.


Acara seserahan itu menjadi pertemuan pertama bagi kedua keluarga. Dan alhamdulillah kedua keluarga bisa menjalin silaturrohim dengan baik.


Ibu Nia menerima seserahan seperangkat alat sembahyang dari Ibu Rahma sebagai simbolis. Keduanya berpelukan tersenyum haru. Bahkan bu Rahma tak dapat menahan air mata dari kedua netra nya.


Ia tak menyangka putra nya yang dulu terbaring tak bergerak bak boneka hidup, kini bisa berada di titik ini. Berada di fase akan melepas masa lajangnya. Ia akan melepas putra kecilnya untuk belajar menjadi seorang imam untuk seorang wanita.


Pras membawa banyak seserahan. Mulai dari pakaian, tas, sepatu, perlengkapan mandi, skin care, make up, hingga berbagai macam kue dan sebagainya.


Setelah selesai acara, kini saatnya kedua belah pihak menikmati hidangan makanan yang telah disediakan oleh Indira.


Semua keluarga terlihat sangat bahagia. Mereka berbincang dan saling mengenal satu sama lain.


-


Wedding day...


Pras berdiri di depan jendela kamar hotelnya. Ia telah mengenakan setelan baju pengantin adat sunda. Dan untuk nanti acara resepsi mereka sepakat mengenakan adat jawa.


Pras menatap keluar jendela.


Entah apa yang ada dalam benaknya.


"Its begin, Pras. Hidup mu yang baru akan dimulai hari ini."


Suara lembut bu Rahma terdengar dibalik badannya.


"Yes, I know Mom.." Jawab Pras tanpa mengalihkan pandangannya kedepan.


"Hidup itu berputar bagai roda, Nak. Kadang kita berada di titik terendah dalam hidup, dan kadang pula kita berada di puncak.


Kau telah mengalami hal yang paling terendah dalam hidup, Nak. Bahkan hidupmu diujung tanduk. Dan kau bisa melewatinya.


Sekarang, kau sedang berada di fase memiliki segalanya. Tetaplah rendah hati, jangan merasa paling berjaya. Karena disaat Tuhanmu merasa kau sudah tak layak memiliki semuanya, dalam sekejap kau akan kehilangan apa yang ada dalam genggamanmu sekarang."


Pras menatap dalam ibunya.


"Hmmm.. Iya Bu. Akan aku ingat semua perkataanmu. Tetaplah disisiku, Bu. Walau aku sudah memiliki pendamping, namun kaulah pendamping terbaikku.."


Bu Rahma tersenyum tipis.


Matanya terus berkaca-kaca.


Hatinya terus bergejolak. Seolah mendiang suaminya turut hadir mendampingi mereka.


"Nak.. Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" ucapnya kemudian.


"Apa Bu? Tentu saja boleh."


Pras terheran.


"Tolong kau hadiahkan Alfatihah untuk mendiang ayahmu sekarang. Sebelum kau melangkah keluar dari kamar hotel.


Ibu merasa ayahmu seperti hadir disini bersama kita." Bu Rahma akhirnya meneteskan air mata yang telah dibendungnya sedari tadi.


Pras pun ikut meneteskan air matanya.


Sejujurnya, dalam lubuk hatinya yang terdalam. Ia pun sangat menginginkan kehadiran sang ayah disaat seperti ini. Yah, amarah nya yang dulu memenuhi hati nya, ternyata kalah besar dengan rasa rindu nya pada sang ayah.


Pras pun menganggukkan kepalanya pelan.


Dengan hikmat, ia bersama sang ibu menghaturkan sebuah suroh Alfatihah yang dikhususkan untuk sang ayah.


Selesai itu, mata Pras berbinar.


Seolah ada satu beban terlepas di pundaknya.


Pras semakin mantap dan penuh percaya diri.


Bu Rahma menggandeng tangan kanannya.


"Ayo Nak. Kita jemput takdir baikmu saat ini." Bu Rahma tersenyum.


Disambut senyum sumringah pula oleh Pras.


Disaat bersamaan, Daniel masuk keruangan hotel.


Pras mengangguk, ia genggam tangan ibu nya yang merangkul lengannya.


Dan melangkahkan kakinya beriringan dengan sang ibu.


-


Pras terlihat tenang berhadapan dengan wali nikah, yaitu paman dari Indira yang akan ber ijab qobul dengannya.


MC telah memulai rangkaian acara demi acara.


Kini saatnya lah acara inti. Akad nikah yang akan dipandu oleh seorang petugas pernikahan dari KUA kota Surabaya.


Kini wali nikah menjabat tangan Pras yang dingin.


Yahhhh. Pras sangat gugup.


Wajahnya sangat tegang.



Dan disaat wali nikah selesai mengucapkan ijab nya dengan bersamaan dihentakan tangannya, Pras langsung menyambut dengan mengucapkan qobulnya dalam satu tarikan nafas.


Para saksi berdiskusi sekejap, Pras menunggu harap-harap cemas hasil dari ijab qobulnya sah atau tidak. Dan...


"Sahhh!!!"


Ucap kedua saksi bersamaan.


"Alhamdulillah..." Ucap Pras dan diikuti oleh semua orang yang hadir di acara sakral itu.


Wajah Pras seketika berbinar. Ketegangan yang ia rasakan sejak duduk di meja akad kini mulai terurai seiring dilantukannya doa untuk kedua mempelai.


Semua orang tersenyum bahagia. Tak terkecuali sang ibu dari kedua mempelai. Bahkan ibu Pras sampai terisak menangis haru karena telah menyaksikan putra nya yang kini telah menjadi seorang imam untuk keluarga kecilnya.


Kini tiba saatnya mempelai wanita dihadirkan di dalam ruangan.


Sang MC meminta Pras menghadap berlawanan arah dengan kedatangan Indira.


Indira ditemani oleh Delia sang kakak mulai berjalan menyusuri karpet merah menuju meja akad.


Indira terlihat sangat cantik. Indira adalah wanita sederhana yang sangat jarang mengenakan make up berlebihan di wajahnya. Karenanya saat ini, ia sangat cantik, parasnya yang ayu semakin cantik dikala tersentuh make up natural namun tetap glowing.


Ditambah dengan kostum khas Sunda yang mengenakan kebaya berwarna senada dengan Pras. Dengan berbalut hijab dan siger diatas kepalanya, membuatnya bak seorang ratu kerajaan Sunda.


Yah sehari sebelum hari H, Indira mantap mengenakan hijab. Ia telah meminta izin pada Pras. Dan Pras sangat bahagia dengan niat baik Indira. Pras berharap Indira bisa tetap istiqomah untuk memakai hijabnya.


Kini, untuk pertama kalinya Pras akan melihat Indira mengenakan hijabnya.


Pras yang membelakangi Indira, kini diminta MC untuk berbalik menghadap Indira yang telah berada lima langkah dari tempatnya berdiri.


Pras dengan perlahan, dan hati yang berdebar hebat mulai menggerakkan badannya mengikuti arahan sang MC.


Deggg.. Degg...


Dan alangkah terkejutnya ia menlihat Indira yang kini telah sah menjadi istrinya, menjadi pendamping hidupnya dalam suka dan duka berdiri di hadapannya.


Indira yang saat ini sangatlah berbeda.


Indira terlihat lebih cantik, anggun, dan sangat ayu.


Pras tersenyum, matanya berkaca-kaca.


Indira pun tersenyum malu menatap nya.


Dan Pras tak kuasa menahan airmata nya.


Mereka berjalan saling menghampiri tanpa melepaskan pandangan satu sama lain.


Dan kini Pras dan Indira telah persis berhadapan. Dibelakang mereka riuh terdengar suara para tamu yang bersorak meneriaki mereka dengan senyum bahagia.


Pras mengulurkan tangan kanannya, dan disambut oleh Indira yang kemudian menunduk dihadapan Pras untuk mencium tangan Pras dengan takzim.


Pras memegang pucuk kepala Indira seraya mengucapkan doa,


"Ya Alloh.. Ya Robbi.. Peliharalah kami dalam keridhoan Mu.. Jagalah kami dalam ikatan kasih sayang Mu.. Tiada daya dan upaya melainkan dengan izin Mu..."



🍁🍁🍁