Love You, Boss! !

Love You, Boss! !
Part 15 _ You'll be mine!


'Kak Danuuu...' gumam Indira.


Danu pun turun dari mobilnya.


Ia menghampiri Indira yang masih tertegun ditempatnya.


"Haii.. Indira.. Maaf, aku baru sempat mampir ke kantormu. Terlalu banyak pekerjaan yang menumpuk dimeja kerja ku." Ucap Danu membukakan pintu untuk Indira.


"Ohh tidak apa-apa Kak. Aku mengerti dengan semua itu. Maafkan aku juga yang belum sempat mampir ke kantor Kakak." jawab Indira tulus.


"Lalu sekarang kita mau kemana?" tanya Indira heran sebelum melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil Danu.


"Aku ingin mengajakmu makan malam bersama." Danu menghentakkan kepala nya kearah mobilnya.


"Hanya kita? Berdua?" tanya Indira lagi.


"Hanya kita." jawab Danu cepat.


Indira tampak berfikir sejenak.


"Hmmm.. Maaff Kak.. Sepertinya aku tidak bisa." tolak Indira dengan halus.


"Loohh kenapa?" Danu heran.


"Hmmm... Akuu sudah ada janji." ucap Indira mencari alasan. Ia tak ingin merusak prinsipnya.


"Ayooolahh Indiraaa.. Sejak dulu, kau selalu saja menolak saat ku ajak kau pergi. Ada apa? Apa kau membencikuu? Ada apa dengan ku?" Ucap Danu yang terlihat sedikit kesal karena lagi-lagi mendapatkan penolakan dari Indira.


"Maaff Kak.. Aku tidak membencimuu, tidak sama sekali. Hanyaaa sajaaaa... Akkkuuu memang sudahhh punya janji dengan seseorang." jawab Indira yang terlihat gugup karena ia bingung mencari alasan kembali.


"Hmmm... Jika benar begituu.. Bolehkah aku tahu, siapa yang telah membuat janji denganmu?" selidik Danu yang melihat gerak-gerik Indira yang terlihat gugup.


'Adduuhh kenapa Kak Danu menjadi seperti posesif begini..'


batin Indira.


"Hmmmm.. Ituuu.. Anuuuu....... Akkuuu..." Indira gelagapan.


"Indiraaa!" panggil seseorang dari arah belakang Indira secara tiba-tiba.


Indira punn menoleh kearah asal suara.


Pras dengan gagahnya berjalan menghampiri Indira dan Danu.


"Iyaa Tuan..." Sahut Indira yang merasa namanya dipanggil.


"Kamuu sedang apa disini? Bukankah seharusnya kamu sudah berada ditempat saat ini?" tanya Pras datar.


Indira yang ditanya pun bingung harus menjawab apa, karena ia pun tidak tahu maksud dari pertanyaan Pras itu apa.


"Mmhhhh.. Anuuu Tuaann..."


"Klienku baru saja menelepon menanyakan keberadaanmu! Kenapa kau masih disini. Ayoo berangkat! Aku tidak mau citra perusahaanku hancur hanya karena sekretaris ku yang tidak tepat waktu." ucap Pras tegas.


Diwaktu bersamaan, Daniel datang didepan pintu kantor mereka dengan mobil mewah milik Pras.


Ia turun dan segera membukakan pintu untuk Pras.


"Mari Tuan, silakan." Ucap Daniel, Pras pun segera masuk.


"Silakan, Nona." Kali ini ia membukakan pintu untuk Indira.


"Hmmmm... Baikk.." sahut Indira tersenyum getir.


"Hmm..." Danu menganggukkan kepalanya pelan.


Indira masuk kedalam mobil Pras.


Pras tersenyum penuh arti.


Daniel melajukan mobilnya meninggalkan area kantor.


Danu masih terpaku ditempatnya. Ia menatap mobil yang membawa Indira dengan tatapan penuh tanya.


'Siapa dia?


Mengapa auranya begitu kuat, hingga aku tak bisa berkata-kata.' batin Danu.


-


Indira hanya diam mematung dalam mobil.


Pras yang duduk disebelahnya pun demikian. Ia lebih memilih sibuk dengan ponsel pintarnya. Melihat indeks saham miliknya.


Indira menatap jalanan yang padat di jam balik kantor seperti ini.


Ia kembali memikirkan perihal Danu tadi.


Ia betul-betul tidak enak hati dengan Danu.


Memang semasa kuliah dulu, ia terlalu sering menolak ajakan Danu jika diajak pergi bersama.


Indira baru mengiyakannya jika mereka pergi bersama dengan teman-teman yang lainnya.


"Siapa lelaki tadi, Indira?" tanya Pras tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


Indira langsung menoleh kearahnya.


"Hmmm.. Dia seniorku saat kuliah dulu, Tuan." jawab Indira jujur.


"Ohh hanya senior, aku kira dia pacarmu! Melihat kau pergi bersamaku, kelihatannya dia sangat kecewa dan marah." Pras menyunggingkan bibirnya mengingat ekspresi lelaki tadi.


"Bukan, Tuan. Akuu...." Indira hendak mengatakan bahwa ia tidak pernah mempunyai pacar, tapi ia urungkan niatnya. Ia tidak mau diejek oleh tuannya itu.


Daniel yang mendengarkan percakapan mereka hanya tersenyum.


'Sejak kapan Pak Pras menjadi orang yang peka terhadap ekspresi wajah seseorang...' batin Daniel bergumam.


"Jangan bilang kau belum pernah memiliki pacar, Indira?" Pras mengalihkan pandangannya kali ini. Ia menatap Indira, meminta jawaban.


Dengan berat hati, Indira menggelengkan kepalanya.


"Hahahhahahahaa....."


Jawaban Indira membuat Pras tertawa.


"Baruu kutemui di zaman modern seperti ini, seorang gadis yang selama hidupnya ia belum pernah memiliki pacar. Hahahaaaa..." Ucap Pras masih dengan tawanya yang mengejek.


Indira menundukkan kepalanya.


Pras mengatur nafasnya kembali.


Tiba-tiba Pras mengusap kelapanya kasar.


"Good Girl! You'll be mine!"