
Ucapan dan tingkah Pras yang sekilas itu sontak membuat Indira menoleh kaget.
Namun Pras kembali fokus pada ponsel pintarnya, tanpa menghiraukan ekspresi Indira yang terkejut dengan tingkah dan ucapannya itu.
Indira menatapnya tajam. Namun Pras terus saja fokus dengan ponselnya.
Indira yang tak mendapat respon pun kembali memalingkan wajahnya kearah jendela mobil. Ia pasang wajah masamnya.
Pras tersenyum melihat Indira yang mengerucutkan bibirnya.
Entah mulai kapan, ia menjadi hobi menggoda Indira yang menurutnya barang antik dijaman serba modern ini.
Indira kembali terbang bersama fikirannya.
Dan tiba-tiba ia kembali menoleh pada Pras.
"Tuan, tadi anda bilang mau bertemu klien. Kenapa saya tidak tahu jadwalnya?"
tanya Indira heran.
Mendapat pertanyaan itu, Pras bingung. Dengan cepat ia berfikir untuk mencari alasan yang tepat.
Pasalnya ia memang sengaja ingin mengajak Indira pergi tadi saat melihatnya sedang berbicara dengan seorang lelaki yang tak dikenalnya. Ia merasa kan hawa panas dalam hatinya saat melihat Indira bersama lelaki tadi. Entah perasaan apa itu. Yang jelas ia merasa sangat tidak suka melihat mereka berdua.
"Hmmm.. Bukankah hari ini jadwal kita bertemu dengan Pak Harry dari Davids, Corp.?" tanya Pras.
Daniel tersenyum melihat Boss sekaligus sahabatnya itu berbohong lewat kaca spionnya. Ia tahu betul, kalau Pras sangat tidak berbakat dalam berbohong.
"Apaaa? Pak Harry? Bukankah jadwalnya akhir minggu depan yak?" Indira heran. Ia segera membuka ponselnya untuk melihat jadwal meeting Boss nya itu.
"Benarkah? Apa saya keliru?" Pras mengernyitkan dahinya menatap Indira yang fokus dengan ponselnya kemudian ia tersenyum.
"Benar, Tuan. Jadwalnya minggu depan." Indira menunjukkan ponselnya dan menyerahkan ponselnya pada Pras.
"Hmmm.. Benar! Saya keliru!" Ucap Pras menyunggingkan bibirnya.
Indira mengambil ponselnya kembali. Ia mengerucutkan bibirnya.
'Annnehhh...' batin Indira.
Pras tersenyum, ia bernafas lega melihat Indira percaya ucapannya.
Ia kembali fokus pada ponselnya.
Namun tak lama, Indira kembali menoleh kearahnya dan menatapnya tajam.
"Lalu, siapa yang tadi menelepon Anda dan menanyakan saya?" tanya Indira mengintimidasi tepat didepan wajah Pras.
Pras yang kaget pun mengusap dadanya.
Pras menunjuk dahi Indira dengan telunjuknya. Mendorongnya duduk kembali ketempatnya.
"Apa saya tadi mengatakan demikian?" Pras beralasan.
"Hadeeeeuuuhhhhh....." Indira menepuk jidatnya.
'Kenapa tiba-tiba dia jadi pikun seperti itu?' batinnya.
"Pak, kita sudah sampai." Ucap Daniel memecah kebingungan Indira dan Pras.
Yahh.. Pras yang bingung untuk menjawab pertanyaan Indira dan Indira yang bingung dengan sikap Pras yang pura-pura tidak mengingat perkataannya yang belum sampai tiga puluh menit ia ucapkan.
Indira yang tak tahu keberadaan nya saat ini, hanya mengikuti perintah sang empunya mobil untuk turun.
Indira mengamati sekelilingnya.
Ia tak menyangka berada disebuah mansion besar. Tidak! Sangat besar! Mansion yang sangat besar!
Ia kembali menatap jalan kebelakang mobil. Karena terlalu sibuk dengan percakapannya dengan sang Boss, ia sampai tidak menyadari bahwa tadi mereka melewati gerbang tinggi diujung jalan yang panjang ini.
Ia terus mengamati sekitarnya.
Indira sangat merasa takjub dengan mansion dihadapannya itu.
"Indira, ayoo!" Ajak Daniel.
Pras tersenyum melihat Indira yang terlihat sangat takjub itu.
"Ehhhh.. Baik." Indira dengan tergesa mengikuti Pras dan Daniel dibelakang.
Matanya terus saja berkeliling mengamati mansion.
'Mansion siapa ini, besar sekali....' batinnya.
Bruggggg.....
Indira menabrak tubuh Pras yang sedang berdiri membelakanginya.
Pras membalikkan badannya.
"Kauu iniii.. Selalu saja buat kegaduhan..." ucap Pras tersenyum geli, melihat Indira yang sedang mengusap keningnya.
"Maaf, tuan..." Gumam Indira.
"Sudah ayo duduk. Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu." ajak Pras.
"Tamuuu?" gumam Indira lagi heran.
Pras duduk di sofa ruang keluarga. Ia menyalakan televisi.
Datanglah seorang pelayan wanita yang setengah baya.
"Tuan, ini kopi anda!" ucap sang pelayan.
"Terimakasih..." sahut Pras tulus.
"Indira, kau kenapa? Kenapa matamu tidak bisa diam? Terus jelalatan seperti itu?" tanya Pras yang sedari tadi memperhatikan Indira yang tak bisa diam.
"Ehhh.. Baikk Tuan, saya hanya kagum melihat mansion besar ini. Bagaimana membangunnya yakk? Pasti membutuhkan banyak pekerja!" ucap Indira.
"Hahahhahahaaa... Kauu memikirkan cara membangunnya?" Pras tertawa.
Indira menganggukkan kepalanya.
"Ada-ada saja kau, Indira! Hal seperti itu kau fikirkan! Hahahahh..." Pras tak henti tertawa. Ia benar-benar tak mengerti jalan fikir seorang Indira.
"Joeeee....." suara seseorang dari arah pintu.
Pras yang merasa nama dulu nya dipanggil langsung menoleh kearah sumber suara.