
Pras dan Indira berjalan beriringan memasuki tempat resepsi pernikahan mereka.
Di samping karpet merah telah berdiri berjajar para bridesmaid yang siap menaburkan bunga kearah mereka berdua.
Dibelakang para bridesmaid sudah ramai para tamu undangan yang sudah siap-siap dengan gadget nya untuk mengabadikan moment tersebut.
Selangkah demi selangkah mereka berjalan dengan penuh rasa bahagia yang terpancar dari senyuman mengembang di wajah keduanya.
Indira merangkul tangan Pras.
Pras menggenggamnya.
"Love you, My wife." Bisik Pras disela-sela langkahnya tersenyum penuh arti.
Indira tersenyum.
"Love you too, Boss!" sahutnya.
Pras langsung menoleh kearahnya. Ia tersenyum geli mendengar istrinya memanggilnya Boss disaat seperti ini..
"Oppppsss.. My husband..." Indira tersenyum jahil.
"Awass ya kamuu.. Nanti malem siap-siap terima pembalasanku." Pras pun tersenyum jahil. Sambil mengelus lembut tangan Indira yang merangkul lengannya. Seolah tak mau kalah dengan sang istri.
Wajah Indira pun langsung memerah mendengar ucapan Pras. Seketika badannya meremang. Seolah bayangan malam pertama seketika memenuhi kepalanya.
Pras seketika tersenyum riang melihat perubahan mimik wajah sang istri yang sepertinya terpengaruh dengan ucapannya.
"Bercanda, sayang!"
Bisiknya kemudian, ia tak mau melihat istrinya terus membayangkan hal yang tidak seharusnya ia bayangkan.
Indira pun tersenyum lega.
Mereka kembali melemparkan senyuman kebahagiaan kepada para tamu undangan yang antusias menantikan kehadiran mereka disana yang saat ini sebagai ratu dan raja sehari.
Musik romantis mengiringi setiap langkah mereka hingga sampai di atas kursi pelaminan.
Mereka berdua duduk diatas pelaminan dan bersiap menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.
Satu persatu para tamu undangan menaiki panggung pelaminan.
Kerabat, saudara, teman, kolega hingga para sahabat semua datang untuk ikut mendoakam dan memberikan restu pada Pras dan Indira.
"Joeeee.... "
Suara teriakan seorang wanita modis yang tampil memukau bak seorang model ternama.
Wanita tadi setengah berlari menghampiri Pras dan Indira setelah mengantri dengan para tamu lainnya untuk mendapat giliran bersalaman dengan kedua pengantin.
Pras pun menoleh kearahnya dan terkejut bukan main.
Ia tersenyum riang serentak membuka kedua tangannya dan
Bruuuukkk..
Wanita tadi dengan cepat berada dipelukannya.
Keduanya saling berpelukan bak saling melepas rindu.
Indira yang melihatnya pun terheran-heran. Pasalnya ia tak mengenali sosok wanita itu. Apalagi bertemu. Melihat wajahnya pun baru pertama kali.
"Gueee kangenn Joe..." teriak si wanita karena beradu dengan musik pengiring acara.
"Sama... Gue juga kangen." balas Pras.
"Lu tega yaa langkahin guee..."
"Abis lu gak ngundang-ngundang. Ya udah gue duluan deh yang ngundang lu.." canda Pras.
Disambut tawa renyah oleh Pras dan temannya itu.
Indira yang mendengar nya pun ikut tersenyum.
Dibawah pelaminan, Daniel memberi kode pada Pras untuk menyudahi pelukannya dengan si wanita yang tak lain adalah Nida. Sahabat lama Pras yang telah lama tak berjumpa.
Pras pun tak menyangka sahabatnya itu dapat hadir di acara resepsi pernikahan nya. Nida yang memang bekerja sebagai seorang model ternama di kota Paris, hadir dengan penampilan yang sangat memukau.
Walau dengan dress sederhana, namun aura model papan atas nya tetap melekat padanya. Tak sedikit yang tahu dan mengenal nya sebagai model, meminta untuk berswafoto dengannya.
Pras mengerti kode yang diberikan Daniel. Ia dengan segera melepaskan pelukannya dengan Nida.
Pras menoleh kepada Indira.
"Oh iyaa.. Sampe lupa. Sayang.. Kenalin ini Nida, sahabatku yang paling juara. Dan Nda, kenalin ini Indira, wanita yang telah membuka pintu hati gue yang tertutup selama beberapa tahun ini." Pras merangkul Indira dan tersenyum hangat kearahnya.
Nida tersenyum haru. Ia tahu bagaimana perjuangan Pras untuk dapat terlepas dari belenggu cinta nya pada Zika, wanita yang sangat dicintai Pras dan sekaligus sahabatnya juga.
"Hai Indira.. Selamat yaa.. Dan terimakasih udah mau jadi pendamping sahabatku yang cukup gila ini.." Nida tertawa.
Indira tersenyum,
"Hai juga Kak.. Terimakasih sudah datang."
"Ohhh Noo.. Don't call me like that, beibb.. Just call me Nida or Ndaa" Nida histeris.
(Oh Tidak.. Jangan panggil aku begitu, sayang. Cukup panggil Nida atau Ndaa.)
Pras tertawa.
"Udah siii apa aja deh. Gitu aja kok ribet." Ujar Pras masih dengan tawanya.
"Ihhh gue berasa tua dong,"
"Udaahhh.. Nanti aja bahas itu nya. Noh lihat, dibelakang lu udah pada ngantri." Pras menghentakkan kepalanya kearah belakan Nida.
Membuat Nida sadar bahwa ulahnya kangen-kangenan dengan Pras membuat antrian panjang.
"Ohh Sorry..." ucapnya pada orang-orang dibelakangnya.
"Oke Indira, see you soon."
"Oke, kak.. Ehh mbaa Ehh.. " Indira gelagapan.
Pras tertawa melihat mimik wajah Nida yang merengut namun langsung kembali tersenyum dan berlalu dihadapan mereka untuk kembali turun dari pelaminan dengan di papah sang asisten.
Pras dan Indira kembali menyambut tamu mereka yang masih mengantre untuk memberi kan selamat juga doa restu.
Semua terlihat sangat bahagia.
Saat ini mata Pras tertuju pada dua orang Pria di ujung panggung pelaminan yang juga ikut mengantre.
Namun ia lebih mencari seseorang dibelakangnya.
Matanya terus mencari sambil sesekali tersenyum pada orang-orang yang bersalaman dengannya. Namun ia belum menemukan orang yang dicari.
Hingga akhirnya dua orang pria tadi pun berada tepat dihadapannya dengan senyuman manisnya.
"Selamat pak Pras!" Sahut sang pria tadi merangkul tangan Pras. Pras pun menyambut tangannya.
"Terimakasih pak Albi. Pak Zacky."
"Mohon maaf, Zika tidak dapat hadir karena sedang hamil besar." Albi seperti mengerti bahwa Pras menunggu nya.
"Ooohh.. Iyaa. Tak apa pak Albi. Sudah sangat cukup dengan kehadiran anda disini. Mohon doa restu nya." Pras menyembunyikan kekecewaan nya.
"InsyasAlloh pak. Zika pun menghaturkan salam dan selamat untuk pak Pras dan pasangan."
"Terimakasih, pak. Haturkan salam kembali, pak. Selamat menikmati hidangan yang ada." senyum Pras tulus.
Indira pun hanya tersenyum pada mereka.
Albi dan Zacky pun berlalu turun dari pelaminan.
'Tak datang rupanya ia.... ' batin Pras.
-
Acara telah selesai.
Semua para tamu undangan pun telah meninggalkan hotel.
Begitupun semua keluarga dan kerabat. Mereka telah kembali ke kamar hotel, bahkan ada yang langsung terbang ke Jakarta karena mengejar waktu untuk kembali bekerja esok harinya.
Pras dan Indira pun telah kembali ke kamar hotel mereka.
Pras sangat kelelahan, ia langsung melemparkan tubuhnya keatas sofa.
Begitupun Indira. Ia juga terlihat sangat lelah.
Indira duduk di sofa terpisah dengan Pras. Membuat Pras mengernyitkan dahinya lalu tersenyum jahil.
"Sayang! Kenapa disana?" tanya nya heran.
Indira yang ditanya pun terkejut dan salah tingkah.
"Memang keeenapa?"
"Kamu gimana sih, sayang? Kita kan sekarang sudah sah menjadi suami dan istri. Kok duduknya jauh-jauhan? Kayak yang lagi berantem aja.."
Indira tersenyum bingung.
"Siniii dong.." Pras menepuk sofa disebelahnya. Dan membentangkan kedua tangannya sambil tersenyum jahil.
Membuat Indira tersenyum getir. Indira pun menganggukkan kepalanya.
Ia pun bangkit dari duduknya dan beralih ke sofa sebelah Pras dengan perlahan karena masih menggunakan dress pengantinnya.
Pras menyambutnya dengan tersenyum lebar.
Ia merangkul Indira yang masih terlihat malu-malu.
Indira pun kini berada didalam pelukannya.
Pras menikmati pelukan hangat yang sudah lama ia nantikan.
Namun karena ini pertama kali untuk Indira, ia sangat gugup. Detak jantungnya sangat tidak beraturan.
Pras pun dapat merasakannya.
"Tenang saja sayang. Kita lakukan bertahap. Aku yakin ini kali pertama mu mendapat pelukan." Pras tersenyum jahil.
Indira pun mengangguk pelan.
"Darimana mas tahu?" Indira terheran dan melepaskan pelukan nya perlahan.
Pras tersenyum.
"Dari sini." Pras menyentuh dada Indira membuat jantung Indira semakin berdebar.
"Ada yang sedang dugem." Lanjut Pras.
Indira tersenyum malu.
"Sudah ahhh.. Sini. Aku masih ingin dipeluk." Pras kembali menarik Indira dalam pelukannya.
Indira pun mulai menikmati pelukan hangat Pras. Kini jantung Indira perlahan mulai stabil. Mereka saling berpelukan dan tanpa ada yang bersuara.
Setelah beberapa menit, Indira membuka mulutnya.
"Mas..."
"Hmmm.." Pras masih menutup matanya.
"Aku mau mandi boleh?"
"Tentu. Silakan sayang." Pras melepaskan pelukannya.
Indira pun berdiri dan melangkah pergi menuju kamar nya. Pras menatapnya tersenyum.
🍁🍁🍁