Love You, Boss! !

Love You, Boss! !
Part 32 _ Maaf!


"Joe.... ?" ucap sang kakak Indira dengan nada terkejut.


"Kaaauuu?" Pras pun tak kalah terkejutnya melihat wanita yang menjadi kakak dari Indira adalah sosok wanita di masa lalunya, Delia.


Yah.. Wanita di masa lalu yang dulu ia kenal lewat kejadian yang sangat tak terduga.


Pras dan Delia sama-sama terdiam.


Pras masih bingung dengan situasi nya kini.


Indira pun bingung dan tak menduga bahwa kakak dan calon suami nya telah saling mengenal. Bahkan Delia mengucapkan nama lama Pras.


"Mas Pras dan Kakak sudah saling kenal?" Indira terheran melihat keduanya.


"Hmmm... Tunggu sebentar! Dia lelaki yang akan kau kenalkan pada kami, Indira?" cecar Delia.


Indira mengangguk pelan.


Delia terdiam, ekspresi nya kini tak terbaca. Ia bingung untuk menjelaskan perasaannya saat ini.


Delia yang berdiam untuk beberapa saat, kini mulai bergerak berjalan cepat menuju Pras. Dan dengan cepat, ia mengambil tangan kanan Pras dan menuntunnya menuju pintu keluar.


"Tunggu sebentar, aku masih punya urusan yang belum selesai dengannya." ucapnya kemudian, sambil menatap kilas Indira dan sang ibu secara bergantian untuk kemudian segera berlalu dibalik pintu diikuti oleh Pras yang masih bingung dan hanya bisa pasrah tangan kanannya ditarik oleh Delia.


Pras menatap Indira, dan Indira pun menatapnya dengan sorot mata yang penuh dengan tanda tanya.


Bruk..


Pintu menutup sempurna.


Menyisakan Indira dan sang ibu yang kini saling menatap tak mengerti dengan keadaan ini.


Indira tersenyum lembut ke arah Ibunya. Dan segera mereka kembali berbincang melepas rindu. Tanpa terlalu khawatir akan kenyataan bahwa Pras dan kakaknya telah saling mengenal.


Walau dalam hatinya ia sedikit merasa gusar, penasaran ada hubungan apakah sebetulnya. Dan apa yang belum selesai diantara mereka berdua.


Namun Indira memilih untuk diam dan menunggu penjelasan dari keduanya.


-


Pras dan Delia kini duduk berdampingan dikursi taman rumah sakit.


Pras bingung serta tak dapat menyangka bahwa ia bertemu dengan Delia di waktu yang tidak tepat.


Delia yang diam, membuat Pras semakin bingung. Harus bereaksi seperti apa dan harus bicara bagaimana. Ia terlalu sulit untuk berfikir sekarang. Karena dalam fikirannya kini dipenuhi oleh bayangan Indira yang tadi menatapnya heran.


"Kauuu... Akuuu menunggu mu, Kau bilang akan menjemput ku," ucap Delia kemudian dengan sedikit terbata dan nada ragu-ragu.


Pras yang melihatnya pun merasa teramat bersalah. Pras pun ragu-ragu dengan apa yang akan diucapkannya. Ia takut salah bicara dan akan menyakiti hati Delia lagi.


"Delia, akuuu kesana menjemputmu.. Tapi kau sudah pergi."


"Kau bilang tujuh hari, Joe!" Sergah Delia dengan emosional yang membuat air matanya yang sudah tak terbendung itu tumpah dipipinya.


"Iyaa, tapii..."


"Tapi sampai dihari ke sepuluh pun kau belum juga datang, Joe! Akuu bingung Joe!"


"Delia, waktu itu aku datang dua hari setelah kepergianmu. Saat itu, aku sibuk ..."


"Iya, kau sibuk dengan perasaan mu sendiri, hingga kau melupakan ku disana..."


"Delia please, dengarkan aku dulu."


Pras sedikit memohon dalam ucapannya. Membuat Delia mereda menahan semua emosi nya.


"Akuuu.. Benar-benar menjemputmu disana. Dan kau sudah pergi dua hari sebelum itu. Aku sibuk mengurus dokumen untukmu. Aku berniat membawa mu bersama ku. Bahkan aku sudah bicara dengan ibuku. Namun ternyata, kau tidak sabar dan memilih untuk pergi tanpa meninggalkan jejak."


"Bohong Joe! Kau bohong!"


Delia melemah.


"Aku tidak berbohong, Delia. Bahkan aku mengundur keberangkatan ku dua hari, dan menunggu kabar dari mang Badru. Berharap kau kembali kesana dan bisa aku jemput kembali." Ucap Joe meyakinkan.


"Bahkan passpor mu yang kubuat masih ada di kantorkuu.." ucap nya lagi.


"Benarkah?"


"Hmmm.."


"Aku sangat takut, Joe. Saat itu, aku pergi karena ku fikir kau sudah tidak ingat padaku. Meninggalkan ku begitu saja disana." Delia bergetar dalam suaranya. Seolah ingatan bertahun-tahun lalu itu kembali berputar dalam benaknya.


"Maafkan aku, Delia. Maaf! Sungguh..." Pras mengelus lembut punggung Delia.


Delia yang merasakan elusan hangat dari Pras pun semakin tak dapat membendung emosi nya. Ia menangis sejadinya.


Pras pun menarik tubuh Delia kedalam pelukannya. Berharap dapat menenangkan nya.


Delia pun menangis dalam pelukan hangat Pras.


Dari kejauhan, Indira melihat keduanya dengan tatapan penuh tanda tanya.


🍁🍁🍁