
...KEGAGALAN...
...adalah...
...sebuah awal dari...
...KEMENANGAN....
...MENANG,...
...jangan membuatmu...
...ANGKUH....
...Karena...
...KEANGKUHAN...
...yang bisa jadi membuatmu...
...GAGAL....
...-...
Pukul tujuh malam,
Indira selesai melaksanakan sholat Isya...
Drttt.. Drttt..
Suara ponsel berbunyi.
Indira mencari asal suaranya.
Ia melihat ponselnya,
"Tidak bunyi." gumamnya, sambil mencari asal suara ponsel yang berdering.
Edaran matanya tertuju pada ponsel diatas meja nakas disudut kamar hotel.
"Hmm.. Dari situ ternyata bunyinya.." gumamnya lagi. Ternyata ponsel yang diberi oleh pak Daniel tadi malam.
My CEO
Calling..
tertera di layar ponsel.
Indira mengernyitkan dahinya.
Ditekannya tombol jawab.
Perlahan-lahan ia dekatkan ponselnya ke telinga kanannya.
"Halloo.. Assalaaaa...." Sapa nya pada orang diseberang sana dan belum sampai selesai mengucapkan salamnya Pras sudah memotongnya.
"Saya tunggu kamu di appartment pukul setengah tujuh." ucap Pras to the point.
"Apa? Setengah tujuh? Apa tidak terlalu pagi, Pak?" tawar Indira.
Ia menghitung jarak appartment dengan hotel tempatnya menginap. Kira-kira sampai disana sekitar satu jam.
"Baaa gaiimanaaa aku bisa sampai disana pukul setengah tujuh?" tanya Indira ragu-ragu.
"Entahlah. Fikirkan saja olehmu. Yang pastii jangan sampai telat untuk sampai disini."
"Hmmm.. Baiklah, Tuan.. Akan saya usahakan."
"Ingat! Jangan sampai telat walau semenit pun. Aku tidak suka pegawai yang tidak menghargai waktu. Time is money, right?"
"Baiklah, Tuan. Aku akan berada disana tepat pukul setengah tujuh pagi." ucap Indira tegas.
"Baik. Good girl! See you!"
"Assalaaamuu.."
Tuuttt.. Tuutt.. Tuuutt..
Sambungan telepon terputus.
Indira masih bengong menatap ponselnya yang telah diputus sambungan telepon nya oleh Pras, bahkan sebelum ia selesai mengucapkan salamnya.
"'alaikummm..." Indira menuntaskan salamnya pelan. Ia menarik nafasnya dalam.
'Hmmm... Semoga gue bisa bertahan menghadapi atasan seperti dia.' batinnya.
-
Pacific Place Residence..
Pras tersenyum sesaat setelah menutup sambungan telepon nya.
"Oke.. Kita lihat. Apa dia orang yang konsisten dengan perkataannya." gumam Pras.
Setelah mengirim pesan, Ia pun tertidur di atas sofa ruang tengah.
Setelah terbangun dari koma nya selama dua tahun di masa remaja nya, kini seorang Pras menjadi enggan tidur diatas kasur.
Baginya, tidur diatas kasur, membuatnya teringat akan masa-masa mimpi panjang nya yang kelam.
Ia lebih memilih tidur diatas sofa. Dan membiarkan televisi menyala dalam ruangan.
Mencoba mengurai sepi yang tercipta dari irama detakan jam dinding yang begitu terasa melengkapi malam-malam sunyi nya.
-
Pukul setengah lima, Indira telah bangun dari tidurnya.
Ia Segera mandi dan mengerjakan kewajiban kepada Tuhannya di waktu shubuh tiba.
Indira seorang gadis yang sangat taat akan agama.
Baginya dimana pun ia berada jika selalu dekat dengan Tuhannya, maka semua urusannya akan dipermudah.
Pukul setengah enam, ia sudah berangkat dari kamar hotelnya menuju ke appartment milik tuannya.
"Berangkat di jam segini, jadi berasa akan berangkat MOS saat SMA dulu..." gumamnya saat meniti jalan menuju ke halte bus.
-
Pukul enam lewat lima belas menit, Indira telah sampai didepan gedung Pacific Place Residence.
Ia membuka ponsel miliknya yang diberi oleh Daniel, dan melihat pesan dari Pras.
Setelah membaca lagi dengan seksama, ia segera masuk dan menuju lantai appartment tuannya berada.
Kini ia telah berada didepan pintu appartment Pras, sang CEO dari IL, Corp.
Ia menekan kunci password pintu appartment.
"Passwordnyaaa... 0 6 1 2****..." gumamnya dalam hati sambil menekan tombol yang menempel di pintu appartment.
Tring...
Pintu appartment terbuka.
Dengan ragu ia melangkahkan kakinya perlahan ke arah dalam appartment.
"Assalamualaikum..." ucapnya perlahan sambil agak membungkukkan punggungnya sedikit.
"Kok tidak ada jawaban..." gumamnya.
Ia kini berada di ruang tengah dalam appartment.
"Assalamualaikum..." Indira terus mengulang salamnya berkali-kali. Namun belum juga mendapatkan jawaban dari yang empunya appartment.
Ia berkeliling, mencari Pras.
Di dapur tidak ada. Di kamar tidak ada. Hanya satu kamar lagi yang belum ia lihat.
Dengan ragu, ia pergi kedalam kamar dan mencari keberadaan Pras. Namun tidak ada juga.
Saat akan kembali keruangan tengah, ada sosok laki-laki keluar dari arah kamar mandi dengan hanya memakai handuk saja.
Dan ia adalah Pras. Orang yang Indira cari.
Seketika Indira berteriak melihat Pras yang bertelanjang dada.
"Aaaaaaaaaaaaa......"
"Husssyyyyy!!!!!" sahut Pras menempelkan jari telunjuk dibibirnya.
Indira refleks meletakkan kedua tangannya di depan wajahnya.
"Pak... Anda ituu kenapa? Kenapa hanya menggunakan handuk saja?" Indira tanpa fikir panjamg langsung mengoceh.
"Heii.. Aku baru saja selesai mandi. Jelas saja hanya menggunakan handuk. Lagian kau main masuk saja kekamar orang tanpa permisi." Pras membela diri.
"Maaf. Aku memang sedang mencari anda. Aku telah mengucapkan salam berkali-kali namun tidak mendapatkan jawaban sama sekali. Makanya aku mencari anda ke kamar." Indira pun tak mau kalah membela diri nya.
"Sudah.. Ayoo siapkan baju kerja untukku!" titah Pras tegas.
"Aa aaa appaa? Siapkan baju kerja?" Indira melepaskan kedua tangannya yang menempel diwajahnya karena kaget dengan ucapan Pras.
"Aaaa......" Teriaknya lagi saat kembali melihat tubuh Pras yang sixpack..
Pras pun hanya tersenyum.
"Sudah.. Ayoo.."
"Tapi tuann.. Apakah mempersiapkan pakaian untuk mu juga termasuk pekerjaan ku?" tanya Indira yang masih menutup matanya.
"Hmm.. Tugasmu adalah mempersiapkan segala kebutuhan ku.. Dan salah satu kebutuhan ku adalah memilih pakaian untuk pergi bekerja."
"Yaa ampunn masihh pagii sudah membuatku gerah dengan sikapnya." batin Indira.