
Daniel membelokkan mobilnya menuju sebuah gerbang cottage.
Setelah memarkirkan mobilnya, ia dengan segera turun dan menuju kedalam untuk membooking sebuah cottage untuk tuannya.
Pras yang menunggu di mobil, sedikit kewalahan menghadapi Indira yang kini semakin agresif.
Indira yang kesulitan mengatur gairah nya yang kian memuncak kini berusaha melepaskan pakaiannya.
"Indira, apa yang kau lakukan?" sahut Pras saat melihat Indira mengangkat kemeja yang ia gunakan keatas.
"Hmmmm... Panas, Tuan. Aku tidak kuat." Ucap Indira tersengal.
Pras menangkap tangan Indira dan mencengkramnya erat.
Indira malah menempelkan tubuhnya erat pada tubuh Pras.
"Jangan buat aku melakukan kesalahan, Indira!"
Indira duduk diatas pangkuan Pras dan ia menaikan kembali kemeja miliknya.
Pras segera melepaskan sabuk yang melingkar dicelananya.
Pras kembali menangkap kedua tangan Indira, Didudukan nya kembali Indira disampingnya.
Indira kembali menggeliat.
Dan Pras terpaksa mengikat tangan Indira menggunakan sabuknya.
Pras menarik nafasnya dalam.
"Sialan!" gumam Pras.
Indira masih saja melengking-lengkingkan tubuhnya.
Daniel kembali menuju mobil.
"Bagaimana?" tanya Pras.
"Sudah siap, Pak." sahut Daniel menghidupkan kembali mesin mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke cottage yang telah dibooking olehnya.
Setelah sampai di depan cottage nya, Daniel langsung membukakan pintu mobilnya dan membantu Pras membawa Indira yang masih saja menggeliat.
Karena Indira susah untuk diajak berjalan, Pras akhirnya memboyong Indira dengan gaya ala bridalstyle menuju kedalam cottage.
Daniel mengikutinya dibelakang.
Pras segera menuju salah satu kamar didalam cottage.
Daniel yang melihatnya pun tersenyum geli.
'Apakah Boss akan segera melepas kelajangannya kali ini?' gumam Daniel dalam hati.
Daniel memberanikan dirinya untuk bertanya pada Pras sesaat sebelum menutup pintu kamarnya.
"Boss? Apa kau yakin?" tanya Daniel tersenyum.
"Kenapa aku harus tidak yakin?" tanya Pras heran.
"Wooww..." gumam Daniel sambil membulatkan bibirnya.
Daniel pun segera menutup pintu kamarnya.
Sesampainya dikamar,
Pras segera menjatuhkan Indira diatas kasur.
Bughhhh....
"Kauu.. Jangan buat aku lupa diri. Tolong!" Gumam Pras.
"Panas, Tuan. Tolong." rintih Indira, ia mulai menitikkan air matanya.
"Maafkan aku, Indira!" gumam Pras lagi.
Pras pergi menuju ke kamar mandi yang ada dikamar tersebut meninggalkan Indira yang masih belum bisa mengendalikan dirinya.
Ia lalu mengisi bathub yang ada disana dengan air.
Setelah air didalam bathub penuh, Pras segera kembali menuju kedalam kamar.
Karena terus melengking dan menggeliat, kancing kemeja milik Indira terlepas dan kaos dalam miliknya tersingkap keatas hingga menunjukkan perut putih nan mulus milik Indira. Dan hampir memperlihatkan kedua bukit milik Indira.
Melihat pemandangan itu, Pras menelan salivanya dengan sangat susah.
Membuat gairahnya yang sejak tadi terpancing pun kini mulai memuncak.
Ia kemudian segera berlari menuju kearah Indira dan menutup bagian perutnya dengan handuk yang berada diatas meja disudut kamar mandi.
Dan membawa Indira menuju kamar mandi.
Pras meletakkan Indira yang masih melengking-lengkingkan tubuhnya itu kedalam bathub.
Dan
Byuurrrrrr...
Air pun menegenai tubuh bagian bawah Indira.
Indira yang tadi tidak bisa diam, kini mulai agak tenang.
Pras mengguyuri badan Indira dengan air.
Ia kadang pula mengguyur badannya yang memang sudah panas karena gairahnya pun ikut memuncak.
Pras duduk diatas bathub. Ia terus mengguyuri tubuh Indira.
"Maafkan, aku Indira!" gumamnya menatap Indira yang kini mulai kedinginan.
Ia kembali menuju kamar dan mengambil ponsel nya.
"Niel, tolong belikan baju untuk Indira. seperangkat! Ingat, seperangkat! Dengan pakaian dalamnya." ucap Pras to the point pada Daniel yang sedang menikmati pemandangan didepan cottage.
"Baik, Pak!"
"Tunggu! Bawakan pula pakaian cadanganku didalam mobil." titah Pras kembali.
"Baik, Pak." ucap Daniel lemah.
Daniel memutuskan sambungan telepon nya.
"Mereka yang bersenang-senang, kenapa aku yang repot!" gerutu Daniel memasuki mobilnya dan segera melaksanakan perintah tuannya tadi.
"Nasib jomblo begini nihhh... Mana suruh beli pakaian dalam wanitaa pula.. Hadeuuhh.. Mau ditaruh dimana wajah tampanku ini?" Daniel masih menggerutu kesal didalam mobil.
Sementara itu, didalam cottage.
Pras kembali menuju ke dalam kamar mandi.
Ia menatap Indira yang kini terlihat sangat lelah. Matanya sembab karena habis menangis tadi.
Pras mengelus rambut Indira lembut.
"Akan kubuat lelaki itu menderita. Kau tenang saja!" ucap Pras geram.
Pras menguras air didalam bathub dan mulai mengisinya kembali dengan air hangat.
Indira seolah terrileksasi dengan air hangat yang kini menjamah tubuhnya.
Pras membiarkannya kembali.
Pras melepaskan pakaiannya yang basah dan hanya menggunakan handuk saja.
Pras lalu menelepon pihak cottage dan meminta dua orang pelayan wanita untuk datang ke cottage nya.
Tak lama, dua orang pelayan wanita itu pun datang.
Dua pelayan itu pun sedikit malu-malu karena melihat penampilan Pras yang hanya menggunakan handuk saja dan dengan sangat jelas memperlihatkan perut sixpack miliknya itu.
"Tolong kalian bantu teman wanita saya mengganti pakainnya yang basah. Dan tolong kalian mandikan ia hingga bersih. Ini untuk kalian." Ucap Pras to the point. Pras memberikan sepuluh lembar uang seratus ribu kepada dua orang wanita tadi.
Melihat uang ditangan Pras, mereka tersenyum riang.
"Baik, Tuan. Akan kami laksanakan sesuai kehendak anda!" ucap salah seorang dari mereka.
"Bagus!"
"Dimana nona yang harus kami bantu, Tuan?"
"Didalam kamar mandi! Sebentar lagi pakaiannya tiba." ucap Pras kemudian.
"Baik, Tuan. Kami permisi!"
Pras menganggukkan kepalanya dan duduk diatas sofa diruang tengah cottage.
Kedua pelayan tadi pun pergi menuju ke dalam kamar untuk menemui Indira.
Pras membuka ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Aku mau kau urus orang itu. Buat dia menderita. Dan buat ia jera atas semua perbuatannya." Ucap Pras dingin.