Love You, Boss! !

Love You, Boss! !
Part 18 _ Semoga ia orang yang tepat..


"Persyaratan apa Niel? Ayo cepat katakan!" pinta bu Rahma.


"Ehmmm.. Anuu, Nyonya. Saya tidak bermaksud berbohong, tapi saya tidak bisa menceritakan semua kepada anda, jika tanpa izin pak Pras." Ucap Daniel ketakutan.


Ia membayangkan kemarahan Pras jika sampai ia bicara soalan Indira tanpa izinnya.


'Bisa mati digantung gue!' batinnya.


"Niel, kau yakin tidak akan bicara apapun padaku? Apa kau lupa aku bisa memotong gajimu hingga habis!" Bujuk bu Rahma memicingkan kedua matanya tajam.


"Tidak, Nyonya! Biar saja gajiku dipotong, asal diriku selamat dari pak Pras. Aku tidak mau digantung dipohon kencur!" ucap Daniel gemetar, membayangkan dirinya digantung oleh Pras disebuah pohon yang besar.


"Hahahhaaaa... Baru kali ini, aku mendengar tua bangka sepertimu yang takut dirinya digantung dipohon kencur." Tawa bu Rahma pecah melihat ekspresi Daniel yang ketakutan.


Daniel menatap heran bu Rahma.


"Apa ada yang salah Nyonya?" tanya nya.


"Hahahahaa.. Kau ini!!! Apa kau tahu sebesar apa pohon kencur itu?" tanya balik bu Rahma.


Daniel menggelengkan kepalanya.


"Kau ini hidup dizaman apa Niel? Hari gini kau tak tahu pohon kencur? Buka ponsel mu itu! Searching lahh pohon Kencur! Jangan kau gunakan hanya untuk melihat wanita-wanita sexy mu saja! Sekali-kali kau gunakan untuk yang berfaedah." jelas bu Rahma.


Daniel sontak langsung membuka situs pencarian diponselnya.


Dan tak butuh waktu lama, segala hal tentang pohon kencur pun muncul dilayar ponsel pintarnya.


Daniel menggelengkan kepalanya, ia menatapnya tajam. Terlihat amarah disorot matanya.


"Selama ini, dia selalu mengancamku dengan ini jika aku melakukan kesalahan. Ternyata pohon kencur itu jauh dari ekspektasiku. Hanya sebesar ini....?" ucap Daniel geram, membuka tangan nya menyerupai ukuran jengkal tangan.


"Hahahahaaa..." bu Rahma terus tertawa melihat ekspresi Daniel yang marah.


Merasa dipermainkan, Daniel memutuskan menceritakan semua tentang Indira dan Pras termasuk pertemuan pertama mereka di hotel dua bulan lalu.


Bu Rahma sangat antusias menyimaknya dengan seksama. Ia tersenyum penuh arti.


'Semoga ia orang yang tepat untuk putraku!' gumamnya setelah Daniel menyelesaikan cerita nya.


Ia menatap dalam kolam renang dihadapannya.


-


Esok hari di IL, Corp.


Bu Rahma datang ke kantor Pras. Ia hendak menemui Pras, dan tujuan nya hanya satu. Membawa Indira pergi bersamanya untuk sekedar mengobrol. Ia ingin mengenal lebih jauh sosok Indira yang telah membuat putranya berubah seperti ucapan Daniel.


"Indira!" panggil bu Rahma yang baru saja tiba di lantai atas tersebut.


Indira yang merasa dipanggil pun menoleh dan terkejut.


"Ehhhh. Iya Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" sapa Indira ramah dengan senyuman tulusnya.


"Temani saya untuk berbelanja hari ini, bisa tidak?" tanya bu Rahma.


"Hmmmm.. Saya harus meminta izin terlebih dahulu Nyonya pada tuan Pras."


"Tenang saja, Masalah Joe biar saya yang bicara padanya. Bagaimana?"


"Hmmm Baiklah, Nyonya." Indira tersenyum lagi.


"Oke!" Bu Rahma pun tersenyum.


Bu Rahma berlalu kemudian masuk keruangan Pras.


"Joeeee..." Sapanya di depan pintu ruangan Pras.


"Bu..." Pras tersenyum kearahnya.


Pras bangun dari duduknya.


"Masuklah Bu... Kenapa harus minta izin untuk masuk keruangan putra mu sendiri."


Ia berjalan menghampiri ibunya yang masih berdiri dipintu.


Bu Rahma tersenyum.


Pras menggandeng ibunya untuk duduk di sofa dalam ruangannya.


"Kenapa ibu tidak bilang jika ingin kemari? Aku bisa menyuruh Daniel untuk menjemput ibu di mansion!" Tanya Pras.


"Ibu hanya bosan, Joe! Untuk apa Daniel menjemput ibu, kan sudah ada supir dimansion!" jelas bu Rahma.


Pras mengernyitkan dahinya.


"Benarkah?" tanya Pras heran.


"Iya."


Pras tersenyum.


'Daniel sangat pengertian. Tak perlu diminta sudah ia kerjakan sendiri.' gumam Pras dalam hati.


"Ohh Syukurlah kalau begitu."


Indira masuk kedalam ruangan Pras membawakan minuman untuk Pras dan ibunya.


"Terimakasih." ucap Pras pada Indira.


Indira hanya tersenyum.


Ia hendak kembali keruangannya.


"Pras, bolehkah ibu mengajak Indira berbelanja hari ini. Ibu sangat bosan. Dan ingin sekali pergi, tapi ibu ingin ada yang menemani." ucap Bu Rahma.


Pras terdiam.


"Indira, tunggu!" sahut Pras pada Indira yang sudah berada didepan pintu menuju keluar ruangan nya.


"Bagaimana? Apa kau mau mengantar ibu ku?" tanya Pras pada Indira.


"Hmm. Jika anda izinkan, maka dengan senang hati." jawab Indira tulus.


"Baiklah. Kau temani saja ibuku hari ini. Biar pekerjaan mu di handle Daniel." ucap Pras.


"Baik, Tuan."


"Tapi ingat, Kau harus menjaga ibuku ini dengan baik." Pras menatap dalam ibunya.


"Baik, Tuan. Saya permisi dahulu." Indira kembali ke meja kerjanya di depan ruangan Pras.


Indira segera merapihkan meja kerjanya.


Tak lama, bu Rahma keluar dari ruangan Pras.


"Indira, apa kau sudah siap?"


tanya bu Rahma.


"Iya, Nyonya." Indira menenteng tas nya.


"Baik, ayo kita pergi."


"Baik, Nyonya."


Indira mengikuti langkah kaki bu Rahma dibelakangnya.