Love You, Boss! !

Love You, Boss! !
Part 35 _ Petuah keramat..


...Tidak ada solusi yang lebih baik bagi dua orang...


...yang saling mencintai...


...selain PERNIKAHAN.....


...-...


"Kita akan menikah minggu ini."


"Apa?" Indira terkejut.


"Hmmm" Pras menganggukkan kepalanya tersenyum.


"Aaaapaaa tidak terlalu cepat, mas?"


"Tidak. Menurutku, jika semua sudah memberi restu, apalagi yang kita tunggu."


Indira terdiam. Ia bingung harus berekspresi seperti apa. Sejujurnya ia masih belum yakin dengan perasaannya pada Pras.


"Bagaimana? Apa kamu setuju, sayang?"


"Hmm aku serahkan saja padamu, Mas."


"Baiklah kalau begitu."


"Kita akan menikah disini?"


"Yah. Karena keluargamu ada disini. Keluargaku semua ada diluar negeri. Akan ku suruh mereka langsung terbang kesini. Bagaimana? Apa kau setuju?".


"Hmmm..." Indira menyunggingkan bibirnya.


"Untuk masalah tempat, undangan dan dekorasi aku serahkan padamu, sayang. Buat sedemikian hingga agar bisa berkesan buat kita. Karena aku ingin hanya satu kali merasakan sakralnya pernikahan dalam seumur hidupku. Dan itu denganmu.." Ucap Pras menatap dalam wajah Indira yang kini berubah memerah.


"Aku pun begitu. Makasih Mas, telah menjatuhkan pilihan padaku." Indira tersenyum haru.


"Terimakasih kembali sayang.. Karena kamu mau menjadi pendamping hidupku."


Pras pun tersenyum penuh haru.


-


"Mas, kamu mau mengundang siapa lagi?"


"Hmmm.. Keluargaku sudah. Kerabatku sudah. Teman2ku pun sudah. Tinggal relasi ku yang belum kumasukkan list undangan. Minta Daniel untuk mengirim listnya. Percepat. Karena besok sudah harus dikirim." Ucap Pras sambil menatap layar ponselnya, bak perintah untuk anak buahnya.


Indira yang mendengarnya pun hanya tersenyum geli. Entah kenapa calon suaminya itu selalu saja lupa kalau dia sudah akan menjadi istrinya, bukan pegawainya lagi, apalagi asisten pribadinya.


"Baik, Boss!"


Ucapan Indira membuat Pras langsung menoleh padanya.


"Hmmm.. Maaf, sayang. Aku lupa!" Pras tersenyum tak enak hati.


"Nevermind!" Indira pun tersenyum.


Yah, waktu yang singkat untuk menyiapkan acara pernikahan. Dari acara akad nikah hingga resepsi akan dilaksanakan dalam waktu satu hari.


Baik Pras dan Indira, tidak ingin mengalami untaian acara pernikahan yang panjang. Mereka hanya ingin acara sakral nya berjalan lancar dan dihadiri oleh sanak saudara, keluarga dan para teman baik dari keduanya.


Indira memilih sebuah gedung convention hall di pusat kota Surabaya yang memudahkan akses para tamu undangan, khususnya dari luar kota.


-


Undangan baru disebar H-5 acara digelar.


Indira sangat gugup menjalani hari demi hari sebelum acara pernikahannya.


"Nakk... Kenapa kamu terlihat begitu pucat?" tanya sang ibu yang sedang merapikan baju kedalam koper yang akan mereka bawa ke tempat acara. Yah mereka memutuskan untuk menginap di hotel agar lebih memudahkan dan lebih dekat dengan lokasi acara.


"Hmm... Entahlah bu.. Aku hanya berasa seperti sedang bermimpi." Indira tersenyum kecil.


Ibu nya tersenyum dan menghampiri nya yang tengah duduk ditepi ranjang sang ibu.


"Wajar nak, pasti kamu merasa gugup dan nervous.. Semua pasangan yang akan menikah pasti merasa seperti itu." Bu Nia mengelus punggung Indira lembut.


"Benarkah, Bu?"


"Hmmm.. Ibu pun dulu seperti itu."


Indira mengangguk.


"Tenangkan hatimu. Siapkan fisik dan mentalmu. Karena hidup berumah tangga, adalah sebuah wadah mengenyam pendidikan tak terbatas bagi semua pasangan. Disanalah kau akan menemukan arti kehidupan yang sebenarnya. Banyak pelajaran hidup yang akan kau dapati disana."


Indira mendengarkan petuah ibu nya dengan seksama.


"Jika nanti ditengah perjalanan kau temukan keburukan suami mu, jangan lantas kau mengadu pada ibu. Adu kan lah keburukan suami mu itu pada orang tuanya atau keluarganya."


"Lohh kenapa, Bu?" Indira terheran.


Bu Nia tersenyum.


"Karena mereka yang tau pasti sifat dan tabiat suamimu. Lagipula, kalau kau mengadu ada ibu, itu hanya akan membuat ibu sakit hati dan bisa jadi membenci suamimu karena telah menyakiti putri ibu. Dan itu tidak akan menyelesaikan masalah antara kalian berdua."


Indira mengangguk faham.


"Dan lagi, kalau kalian sedang berselisih faham, janganlah dahulu mengadu kepada keluarga. Selesaikanlah dahulu masalah kalian berdua. Apalagi sampai berteriak-teriak bertengkar terdengar keluar kamar apalagi rumah. Tidak baik, Nak. Karena masalah rumah tangga itu, sejatinya adalah aib keluarga yang sudah sepatutnya kita tutupi agar tidak diketahui oleh orang lain, baik itu orangtua, keluarga, kerabat apalagi tetangga."


"Hmmm.. Iya Bu."


"Bersikaplah bijak dari mulai sekarang. Jadilah seorang istri yang bukan hanya dicintai, tapi juga dihormarti oleh suami."


"Terimakasih, Bu atas ilmu yang belum aku dapatkan selama ini."


Mata Indira berkaca-kaca mendengar semua ucapan ibu nya.


"Hmmm.. Semoga kau bisa menjadi istri yang sholihah putriku.. Jagalah kehormatan suami dan keluargamu."


Indira mengangguk tersenyum haru. Air matanya tak terbendung lagi.


"Sebentar lagi kau akan mendapatkan gelar seorang istri. Tugas ibu membesarkan dan mendidikmu akan segera berakhir. InsyaAlloh mendiang ayahmu akan senang melihat putrinya yang akan melepas masa lajangnya ini."


"Terimakasih Bu... Terimakasih..." Indira memeluk erat tubuh sang ibu yang kini juga meneteskan airmatanya.


Delia yang telah datang dari tadi pun turut meneteskan air matanya di depan pintu. Ia sengaja tidak langsung ikut nimbrung karena takut merusak suasana haru ibu dan adiknya itu.


"Udaaaahhh donggg... Udah yaaa.. Nangis-nangisannya... Mataku bisa bengkak niihhhh.." Delia menghampiri mereka.


Indira dan bu Nia tersenyum haru.


"Dengerin apa kata ibu yaa, Diraaaa... Ucapan ibu tuh petuah yang sangat kramat loohhh..."


Indira mengangguk pelan sembari mengusap air matanya.


"Itupun berlaku buat mu juga, Nak..." sang ibu menimpali.


"Hahhahahah... Siaaappp Buu.." Delia tertawa, begitu pun dengan Indira dan bu Nia juga ikut tertawa bersama.


-


"Semua sudah siap, Niel?"


"Sudah, Pak."


"Bagaimana Ibu dan kakakku?"


"Ibu sudah landing dan sedang menuju hotel. Sedangkan ibu Manda dan Pak Ray sudah dari pagi sampai di hotel."


"Keluarga Indira?"


"Sudah standby di rumah, Pak."


"Baiklah.. Kita langsung menuju ke hotel setelah rapat selesai."


"Siap, Pak."


-


"Kaaaakkk.." Pras memeluk Manda, kakak semata wayangnya dengan sumringah.


"Adikkkuuu..." Manda pun tersenyum.


"Bang.." Pras bergantian memeluk Ray, sang kakak ipar yang disambut hangat oleh Ray.


"Uncleeee...." suara Stevie dan Steven berbarengan setengah berlari sambil tersenyum kearah Pras. Yah mereka berdua adalah keponakan kembar nya yang berusia enam tahun.


Pras langsung berjongkok untuk menerima pelukan hangat keduanya.


"Haiiii dearrr.... Miss Youuu so much..." Pras mencium kedua pipi Stevie dan Steven secara bergantian.


"We miss you too..."


Stevie dan Steven pun bergelayutan manja di kedua lengan Pras.


Manda dan Ray pun tersenyum melihat mereka.


"Dimana Oma?" tanya Pras pada keduanya.


Keduanya pun segera memalingkan wajah seraya menghentakkan kepala kearah salah satu pintu kamar hotel.


Muncullah sosok wanita paruh baya yang kini semakin terlihat guratan halus di wajah cantiknya.


Yahh ibu Rahmadani. Ibu Pras dan Manda.


Pras melepaskan pelukan manja kedua keponakannya itu. Ia mengedipkan sebelah matanya tersenyum, keduanya pun tersenyum melepaskan diri dan memeluk kedua orang tua mereka.


"Buuu..." Pras merentangkan kedua tangannya dan segera mendekap tubuh ibunya kedalam pelukannya.


"Akhirnyaaaa...." ucap sang ibu dengan suara parau menahan air mata.


"Terimakasih, Bu.." Pras semakin memeluk ibunya.


Sang ibu melonggarkan pelukan nya.


"Jemputlah takdir baikmu, sayang.. Jangan disia-siakan. Jaga dia dengan baik." ucapnya kemudian.


"Pasti, Bu." Pras kembali memeluk ibunya. Ia sangat bahagia sekaligus terharu.


Pasalnya, ketika memberi kabar perihal keputusannya menikah dengan Indira minggu lalu, ibunya langsung mengiyakan keputusannya.


Dan ibunya dengan segera memberi kabar pada keluarga besarnya. Juga dengan cepat mengatur semua keperluan pernikahan Pras.


Seperti hari ini. Walau ia dan putranya kini menetap di negeri orang, tapi ia tidak mau melupakan adat istiadat negaranya, khususnya kampung halamannya. Hari ini, H-2 akad nikah, semua keluarga besar Pras baik dari ibu maupun ayah, semua sudah berkumpul di hotel dan rencana nya mereka akan bertandang kerumah Indira dan melakukan adat seserahan.


Daniel yang bertugas menyiapkan semua seserahan, kini sudah standby di depan lobi hotel dengan beberapa mobil yang mengangkut semua barang seserahan.


"Sudah, ayo Bu. Semua sudah menunggu di lobi." Manda mengingatkan.


"Hmmm.. Ayo, Nak."


Pras mengangguk. Mereka meninggalkan kamar hotel bersama dan bergabung dengan semua keluarga besar di lobi.


Pras menyalami semua keluarganya.


"Pak, sudah waktunya berangkat." Daniel berbisik pada Ray.


"Pras, Bu, sudah saatnya berangkat." Ray menjeda kegiatan Pras bersama keluarganya.


Pras pun mengangguk.


"Ayo semuanya.." Manda mengajak semua keluarga besarnya kearah depan hotel.


Mereka masuk kedalam mobil masing-masing dan bergerak beriringan meninggalkan hotel menuju kediaman Indira.


🍁🍁🍁