Love You, Boss! !

Love You, Boss! !
Part 17 _ Oooooppppssss!!!


"Buuu...." Pras seketika tersenyum riang dan berdiri dari duduknya.


Ia berjalan cepat menghampiri sang ibu yang baru tiba di mansionnya itu.


Sang ibu pun merentangkan kedua tangannya dan menerima pelukan hangat putranya.


"Sayangggg....." sahutnya tersenyum.


Mereka berpelukan melepas rindu.


Indira yang melihat mereka, ikut merasakan kehangatan yang tercipta.


"Buu... Kenapa tidak meneleponku dulu jika akan kemari? Aku kan bisa menjemput ibu di airport!" Pras merajuk bak bocah cilik.


Indira tersenyum geli melihat Pras yang merajuk pada ibunya itu.


"Hmm.. Kan ibu mau kasih surprise sama kamu! Kalo ibu telepon dulu, bukan kejutan dong namanya?"


"Okeee..." Pras menyunggingkan bibirnya dan kemudian tersenyum.


Ia menggandeng ibunya untuk duduk disofa.


"Ehhh ini siapa, Joe?" tanya sang ibu ketika melihat seorang wanita yang tengah menatap mereka dengan senyuman mengembang diwajahnya.


"Ohhh iyaa.. Aku sampai lupa, Bu. Kenalkan ini Indira, Buu.. Sekretaris ku."


"Looohhh.. Bukannya sekretaris mu itu Daniel? Sejak kapan Daniel tidak bekerja denganmu, Nak?" Tanya bu Rahma heran.


"Saya masihh bekerja dengan Pak Pras, nyonya!" Ucap Daniel dari arah belakang mansion.


"Daniel..." Bu Rahma tersenyum senang melihat Daniel yang ternyata juga berada disana.


Daniel menghampiri mereka. Ia menyalami bu Rahma.


"Syukurlahh... Kau masih berada disisi Joe! Jangan pernah meninggalkan putraku, Daniel. Tetaplah berada didekatnya." pinta Bu Rahma tulus.


"Siap, Nyonya!" sahut Daniel.


"Apa sihh Bu? Aku sudah bukan anak kecil lagi, Bu. Aku sudah dewasa. Tidak butuh seorang baby sitter sepertinya." Pras mengejek Daniel.


"Eittttssss... Boss kenapa aku jadi baby sitter?" Daniel mengelak.


"Sudahhh.. Sudahh.." Bu Rahma menengahi.


"Ohh iya.. Kau siapa tadi namamu?" tanya bu Rahma pada Indira yang masih tersenyum melihat tingkah Boss dan asistennya itu.


"Indira, Nyonya!" jawab Indira. Ia menundukkan wajahnya.


"Sejak kapan kau bekerja bersama mereka?" tanya bu Rahma ramah.


"Baru dua bulan ini, Nyonya."


"Hmmm.. Baru ternyata! Ya sudaaahhh. Ayo kita makan. Perut ibu sudah mulai bunyi, Nak!" ajak bu Rahma pada Pras.


"Baikk Bu. Marii.." Pras merangkul pundak ibunya mengajak berjalan bersama menuju ruang makan.


"Ayo Indira, Daniel." ajaknya kemudian tanpa menoleh kebelakang.


"Baik, tuan!" Indira mengikuti mereka dibelakang bersama Daniel.


Mereka makan malam bersama dalam kehangatan pertemuan antara ibu dan anak.


Makan malam mereka diisi dengan perbincangan hangat mengenai segala hal.


Indira hanya tersenyum menanggapi percakapan tiga orang yang berada diantaranya.


Ia merasa kagum dengan sosok Pras, yang selama ini terlihat keras dalam soalan pekerjaan. Namun lembut dihadapan ibunya.


Begitupun melihat sorot mata sang ibu, tersirat cinta yang begitu besar pada putranya.


Tiba-tiba ia mengingat sosok ibu nya yang kini berada jauh dengannya.


'Jadi ingat ibu....


Sudah dua hari aku tidak meneleponnya. Apa ibu sehat?' batin Indira melamun.


Pras yang melihatnya melamun segera menegurnya.


"Indira, ayo dihabiskan!" sahut Pras menatapnya tajam.


"Ehhh.. Baik, tuan!"


Indira segera memakan kembali makanan dipiringnya.


Bu Rahma mengamati semua tingkah putranya yang terlihat sangat respect terhadap sekretarisnya itu.


-


Selesai makan malam, Pras mengantarkan Indira pulang ke mess nya.


Bu Rahma yang menyadari perlakuan istimewa Pras terhadap sekretaris baru nya itu,


membuat nya ingin tahu lebih jauh tentang Indira.


Daniel sedang duduk di halaman belakang mansion sambil menikmati kopi nya, sibuk menatapi ponselnya.


"Niel, kau belum tidur?" tanya bu Rahma menghampirinya.


Daniel menoleh kearah bu Rahma tersenyum.


"Belum, Nyonya!" Ia berdiri dari duduknya.


"Silakan duduk, Nyonya." Daniel menarik kursi untuk bu Rahma.


"Terimakasih."


"Mau kopi, Nyonya?"


"Tidak, saya sudah tidak minum kopi, Niel. Darah saya selalu naik setelah minum kafein." jelas bu Rahma.


"Ohh begitu. Maaf Nyonya. Saya tidak tahu." ucap Daniel tulus.


"Tak apa!" bu Rahma tersenyum.


"Niel, kenapa saya merasa kalau Joe menyukai Indira! Apa betul dugaan saya?" Tanya bu Rahma tiba-tiba.


"Hmmm.. Mungkin saja Nyonya!" jawab Daniel asal. Ia tidak ingin memberi informasi yang valid. Ia tidak ingin disalahkan oleh Pras karena kecerobohannya menjawab pertanyaan sang ibu boss.


"Benarkan? Apa dia wanita yang baik, Niel?"


"Sepertinya Nyonya! Buktinya saja, dia bisa merubah kepribadian pak Pras."


"Berubah? Seperti apa?" tanya bu Rahma penasaran.


"Satria baja hitam!" sahut Daniel seketika.


"Nielll......." Bu Rahma memicingkan matanya tajam kearah Daniel.


Daniel yang ditatap dengan tajam pun langsung tersenyum.


"Hehheheee... Maaf Nyonya! Ehmmm anuu.. Pak Pras kini menjadi pribadi yang lebih responsif dengan sekitarnya. Dan menjadi lebih calmdown mengahadapi segala masalah di perusahaan." jawab Daniel jujur.


"Benarkah?" tanya bu Rahma antusias.


"Yaa.. Apalagi sekarang, pak Pras menjadi semakin giat beribadah setelah mengikuti sesi pertemuan dengan seorang guru agama." Tambah Daniel meyakinkan.


"Apa? Kok bisa?" tanya bu Rahma semakin penasaran.


"Hmm... Tentu saja bisa, Nyonya. Karena itu salah satu persyaratan yang diberi Indira pada pak Pras." jelas Daniel.


"Persyaratan?"


'Ooooooppppssss!!! Matiiii dehh gue!!!' gumam Daniel dalam hatinya yang baru menyadari kecerobohannya.


...🍁🍁🍁...


Terimakasihh sudah membaca 'Cinta Joe!'


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yakk Kakak Readers...


Like and Comment!!!


Salam hangat,


Celzzzzzz......


💗💗💗