Love You, Boss! !

Love You, Boss! !
Part 31 _ Joeee?


"Sudah semua?"


"Sudah, Mas.. Aku tidak banyak membawa barang, lagian kita hanya disana selama dua hari." Indira mendorong kopernya.


"Lan, Aku berangkat yak. Doakan aku, doakan kami." Bisik Indira pada Lani yang mengantar Indira didepan pintu.


"Siap.. Titip salam untuk Ibumu."


"Dan Boss, aku titip sahabat baikku." lanjut Lani tersenyum namun penuh penekanan yang mengintimidasi.


Pras memutar bola matanya jengkel.


"Tanpa kau suruh pun, aku akan menjaga nya dengan segenap kekuatanku. Jangan lupa, dia calon istriku!"


Pras tersenyum menang.


Ia lalu pergi mengambil alih koper milik Indira dan mendorongnya menuju mobil . Yang kemudian segera diambil alih oleh Daniel dan segera memasukkan nya kedalam bagasi mobil.


Indira yang melihatnya pun hanya menggelengkan kepalanya.


Lani pun tersenyum menyunggingkan bibirnya.


'Sejak kapan ia menjadi posesif seperti ini?' batin Indira.


Indira memberikan pelukan hangat pada Lani.


"Hati-hati disini. Gue jalan dulu."


"Lu pun hati-hati."


Mereka melepaskan pelukan nya, dan Indira segera menuju mobil yang sudah ada Pras didalamnya menunggu dirinya dikursi penumpang, belakang Daniel.


Sesaat setelah Indira masuk, mereka segera meninggalkan rumah dinas Lani dan Indira.


Mereka menuju ke bandar udara.


-


Setelah mengudara selama hampir kurang lebih satu setengah jam, Indira dan Pras kini telah mendarat di Surabaya.


Mereka berdua segera menuju mobil yang telah disiapkan oleh anak buah Pras dari perusahaannya yang ada disana.


Yahh mereka hanya terbang berdua, sedangkan Daniel ditugaskan untuk menghandle segala urusan pekerjaan dikantor selama mereka di Surabaya.


Pras memilih untuk mengemudi sendiri dibanding memakai jasa supir. Lebih privasi menurutnya.


"Ayo.."


Pras membuka kan pintu untuk Indira, setelah memasukkan koper miliknya dan Indira kedalam bagasi.


Mereka segera meninggalkan bandara, dan menuju ke kediaman keluarga Indira.


Indira tak banyak berkata-kata.


Ia memilih untuk menatap jalanan kota Surabaya yang telah hampir tiga bulan ia tinggalkan.


Sejak landing tadi, entah mengapa perasaan Indira menjadi gundah.


Pras yang menangkap sikap Indira yang tak seperti biasanya itu pun, segera bertanya ada apa.


"Indira.. Apa kau baik-baik saja?"


"Hmm.. I'm okay.." jawabnya singkat.


Entah apa yang kini memenuhi fikiran Indira.


Pras kembali fokus pada jalanan kota Surabaya.


Mereka masuk ke area komplek perumahan dan berhenti di depan gerbang rumah di persimpangan blok komplek.


Yah.. Rumah keluarga Indira tidak terlalu mewah dan jauh lebih sederhana dibanding mansion milik Pras.


Indira turun dari mobil dan segera menuju ke gerbang.


Tanpa menunggu Pras.


Indira segera membuka pintu gerbang yang ternyata digembok.


"Kok di gembok yak?" gumam Indira.


Gerbang dan pagar rumah Indira hanya mencapai bahu orang dewasa. Jadi bisa terlihat suasana di halaman rumah. Dan Indira melihat kediaman ibu nya sangat sepi.


"Mungkin ibu mu sedang tidak dirumah..." ucap Pras pelan.


"Hmm.. Sepertinya. Tapi kemana?"


Pras menggelengkan kepalanya pelan.


Indira mengeluarkan ponselnya.


"Indiraa.." sahut seseorang ragu-ragu dari arah samping rumahnya. Yak, itu seorang tetangga yang rumahnya tepat disamping rumah Indira.


Indira menoleh ke arah asal suara.


Lalu ia tersenyum ramah.


"Bu Usman.." Sapa Indira.


Seorang wanita paruh baya yang disebut Bu Usman tadi menghampiri mereka.


Indira menyalami nya, begitu pun Pras yang menjabat tangan nya dengan sedikit membungkukkan badannya.


"Bu.. Ibu kemana yak? tidak seperti biasanya rumah digembok seperti ini."


"Lohhh.. Apa kau tidak tahu? Ibu mu masuk rumah sakit dua hari yang lalu."


Deggggg....


Sesuatu terasa menghantam dada Indira.


"Kennnnaaapaaa?"


Indira parau.


"Ibumu pingsan saat menyiram bunga di halaman. Untung saja ada Pak Usman yang melihatnya. Jadi kami segera membawanya ke rumah sakit."


"Lalu ibu sekarang di rumah sakit mana Bu?"


"RSUD. Ada kakak mu disana bersamanya."


"Baik, Bu. Terimakasih."


"Yak, sama2."


"Mas, ayo!" Indira menghentakkan kepalanya kearah mobil.


Pras menganggukkan kepalanya pelan.


"Permisi Bu." ucap Pras.


Bu Usman mengangguk tersenyum.


Lalu mereka segera meninggalkan kediaman Indira yang ternyata kosong tanpa penghuni.


Mereka menuju ke RSUD dengan suasana kembali hening selama perjalanan.


Indira memilih diam, sambil terus memanggil nomor kakaknya lewat ponselnya. Namun tak kunjung mendapat jawaban dari sang kakak.


Fikirannya kacau. Semrawut.


Pras mengerti perasaannya.


"Semua akan baik-baik saja, Indira." Ucap Pras memecah keheningan.


"Hmmm.. Semoga!" sahut Indira perlahan hampir tak terdengar.


Dan keheningan pun kembali menguasai suasana dalam mobil.


Tak lama mereka sampai di area parkir RSUD.


Mereka segera turun menuju kepintu masuk.


Indira menuju kearah Central Opname dan mencari tahu keberadaan ibunya dirawat saat ini.


Pras mengikutinya dibelakang.


"Ayoo Mas." ucapnya setelah mengetahui letak ruang rawat ibunya.


Ia berjalan dengan gugup.


Pras memegang pundaknya sekilas.


"Tenangkan dirimu. Its gonna be okay!" Pras tersenyum hangat.


Dan Indira pun mengangguk. Ia menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya.


Setelah didepan pintu kamar ibunya, Pras mendapat telepon dari Daniel.


"Masuklah terlebih dulu. Aku akan menyusul."


Indira menganggukkan kepalanya.


Pras menerima telepon nya, agak menjauh dari ruangan pasien. Dan Indira masuk kedalam ruangan ibunya.


Dilihatnya sang ibu sedang terbaring di atas ranjang seorang diri.


"Buu..." sahutnya perlahan berjalan menghampiri ibunya.


Sang ibu yang tengah memejamkan matanya pun segera membuka matanya. Menoleh kearah suara yang sangat ia kenal itu.


"Nakkk..." panggilnya dengan suara yang parau.


Indira yang tak sanggup lagi menahan air matanya, segera berjalan setengah berlari menuju sang ibu.


"Buuuu..." tangisnya pecah dipelukan sang ibu.


Ibunya hanya tersenyum kecil dengan airmata disudut matanya yang tak mampu ia tahan pula, yahh airmata bahagia, karena rasa rindu yang selama ini ia pendam untuk Indira.


Yah, ini pertemuan pertama mereka kembali setelah kurang lebih tiga bulan Indira merantau di Jakarta.


Sang ibu hanya mengelus punggung anak nya yang menangis sesenggukan.


"Tak apa, Nak.. Ibu baik-baik saja. Sudahhh.."


Indira belum mampu berucap kata, ia merasa sangat bersalah.


Disaat ibunya membutuhkannya, ia tidak bisa berada disamping ibunya.


"Sudah, Nak."


Setelah beberapa menit ia menangis, kini suara tangisannya mulai mereda.


"Buuuu.. Kenapa gak kasih kabar ke aku?" ucap Indira setelah dapat menguasai emosinya.


Indira mengangkat kepalanya dari perut sang ibu. Ia tatap dalam ibunya.


"Karena ibu, tidak apa-apa, Nak. Ibu takut itu akan mengganggu mu." Ucap sang ibu tersenyum halus.


"Buuuu... Aku ini kan putrimu. Sepenting apapun pekerjaan ku disana, tidak kalah penting dengan ibu." Indira agak menekankan ucapannya.


Sang ibu tersenyum kembali.


"Itulah yang ibu takutkan, Nak. Kau pasti langsung akan terbang kemari jika mendengar ibu sakit, dan tidak peduli jauh nya jarak kita."


"Buuu... Sekarang kan udah semakin canggih alat transportasi, jadi seharusnya tidak akan jadi masalah pada jarak dan waktu. Ibu tetap nomor satu buatku!" Indira tersenyum memeluk kembali tubuh sang ibu yang masih kepayahan.


Sang ibu hanya tersenyum mendengar jawaban putrinya itu.


"Ohh iya, kemana kakak, Bu?" tanya Indira kemudian yang baru menyadari bahwa ia belum melihat kakaknya sedari tadi kedatangannya.


"Tadi ibu suruh dia mencari makan untuknya. Sebentar lagi pun ia kembali."


"Hmmm..." Indira menganggukkan kepalanya.


"Ibu sudah makan?"


"Hmm.. Sudah, Nak."


Ceklekk....


Suara handle pintu yang dibuka oleh seseorang dari luar.


Terlihat seorang wanita yang sepertinya tak jauh berbeda usianya dengan Indira.


"Bu..." sahutnya.


Dan tatapannya terhenti tepat di wajah Indira seolah kaget.


"Kakk..." sahut Indira menghampiri nya.


"Kau...? Kapan kau tiba?"


"Baru saja. Kakak tega sekali, ibu masuk rumah sakit pun tak kasih kabar." Rajuk Indira merangkul sang kakak.


"Kau bisa tanyakan sendiri pada ibu. Dialah yang memintaku untuk tak menghubungimu." Sanggahnya berjalan menuju ranjang ibunya setelah melepaskan pelukan dari Indira.


"Hmmm.. Memang ibu sangat keterlaluan." Indira memanyunkan bibirnya manja.


"Ohh iya, kau pulang sendiri? Tidak bersama Lani?" tanya sang kakak.


"Hmmm.. Tidak juga." Indira menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku, memang tidak pulang dengan Lani, tapi aku juga tidak sendiri.." Jelas Indira.


Kakaknya mengernyitkan dahinya tak mengerti, begitupun dengan sang ibu.


"Hmmm... Sebetulnya ada yang ingin aku kenalkan sama kalian. Dan juga ada yang ingin dia bicarakan dengan ibu, tapi aku rasa waktunya tidak tepat untuk sekarang."


"Lohhh kenapa? Siapa? Cowok? " tanya sang kakak penasaran.


"Hmmm...." Indira menganggukkan kepalanya dan tersipu.


"Siapa dia?" tanya sang ibu.


"Diaaaaa.. Bossku, Bu. Sejak pertama bertemu, dia langsung bilang mau menikahiku, Bu." ucap Indira tersipu.


"Masaa sihh? Gentle sekali dia? Kau tunggu apa lagi? Susah jaman sekarang menemukan lelaki yang serius seperti itu." ucap sang kakak tanpa ada beban sama sekali.


"Hmm.. Apa tidak apa-apa Kak. Aku yang menikah duluan..?" tanya Indira ragu-ragu.


"Silakan. Aku tidak masalah. Asalkan kau beri aku uang pelangkah yang besar.. Hahhahaaha." Cetus sang kakak bergurau sambil menyalakan televisi.


"Dasar matre kau!!!" timpal Indira pun ikut tertawa.


Membuat sang ibu pun ikut tertawa mendengarnya.


"Biarlah, zaman sekarang jika tidak matre kau akan kesusahan menjalani hidup."


Yah memang sedari awal, sang kakak tidak terlalu memikirkan hal seperti itu. Baginya, dilangkahi oleh sang adik menuju pelaminan bukanlah masalah serius.


"Jadi, bagaimana. Kau bisa menerima boss mu itu? Apa kau sudah yakin dengan keputusan mu?" tanya sang kakak kemudian serius.


"Hmm.. Awalnya aku menolaknya, Namun setelah aku melihat kegigihannya untuk berubah menjadi sosok yang lebih baik dan lebih faham dalam soalan agama, aku menjadi setuju dan menerima dirinya untuk menjadi calon imamku, Bu." jelas Indira.


Sang Ibu hanya tersenyum haru. Begitupun sang kakak.


"Sekarang, ia ingin menemui ibu dan kakak, untuk melamarku secara resmi pada kalian."


Indira menundukkan wajahnya, harap-harap cemas akan reaksi orangtua dan kakaknya.


Mereka hanya terdiam saling menatap dan kemudian tersenyum.


"Okee.. We will see. Suruh lelaki mu masuk kemari." ucap sang kakak selanjutnya.


Indira tersenyum.


Ia menganggukkan kepalanya.


Dan kemudian menuju ke pintu keluar untuk memanggil Pras.


Tak lama, Indira kembali ke ruangan ibunya.


"Sebentar Bu, Kak. Mas Pras masih menerima telepon dari asistennya." ucap Indira.


Sang ibu menganggukkan kepalanya tersenyum, sedangkan sang kakak hanya mengangkat bahunya dan kembali fokus pada saluran televisi yang berada di sudut ruangan. tersebut.


Indira pun duduk dikursi samping ranjang sang ibu. Ikut menikmati acara televisi yang diputar sang kakak.


Selang beberapa menit, Pras pun masuk ke ruangan setelah sebelumnya mengetuk pintu dahulu.


Indira yang melihatnya dibalik pintu pun menganggukan kepala nya sebagai isyarat padanya untuk masuk.


"Assalamualaikum..." Pras menyapa hangat semua penghuni kamar.


"Waalaikumsalam.." Jawab semua serentak secara hampir bersamaan.


Sang kakak Indira yang sedang fokus dengan televisi nya pun ikut menoleh kearah pintu.


Dan dengan sepersekian detik, tatapannya bertemu dengan Pras.


Pras yang sedang tersenyum pun seketika mengubah mimik wajah nya menjadi terkejut.


"Joooeee?" ucap sang Kakak perlahan sedikit tertahan. Ada segudang rasa emosional yang tersirat dalam ucapannya.


🍁🍁🍁


Terimakasih masih stay di cerita cinta Joe ini..


Maaf telah menunggu lama..


Banyak kisah hidup yang nyata harus dilewati oleh Celz.


Hingga harus hiatus sekejap.


Semoga tidak kecewa.


Semoga para readers setia ku masih tetap dan akan tetap setia menemani Pras menemukan cinta nya hingga happy ending.


Yaahh.. Semoga saja, di cerita ini Pras menemukan kebahagiaannya. Jangan lagi ada Sad ending.


Jangan lupa dukung Celz ya.. dengan Like, komen dan vote juga.. Terimakasih..


♥♥♥