
...Meninggalkan Maksiat...
...adalah sebuah Perjuangan.....
...Sedangkan menekuninya,...
...adalah Pengkhianatan......
...-...
Pras duduk di kursi depan teras Mess Indira.
Ia menatap pada halaman asri didepannya.
'Sebuah perasaan nyaman yang sudah lama tak aku rasakan.
Selama ini aku selalu saja merasa ada yang kosong dalam diriku. Hampa..
Tapi sore ini, aku merasa separuh jiwaku mulai hidup kembali.'
Indira menghampiri Pras dengan sebuah cangkir ditangannya.
"Tuan, ini kopi anda!" Indira meletakkan cangkir di meja hadapan Pras.
Pras menoleh kearahnya.
"Terimakasih." Ucap Pras singkat.
"Bagaimana tuan, apa anda sudah hafal bacaan wudlu nya?"
tanya Indira.
"Hmmm.. Baru sebagian. Sudah terlalu lama aku tak melakukannya. Terasa asing lagi buatku." Pras menatap dalam cangkir dihadaannya.
"Hmmmmm...." Indira menarik nafasnya dalam.
"Kau tahu Indira, setelah bertahun-tahun aku bangun dari tidur panjangku, baru sore ini aku merasa mulai hidup kembali. Entah kenapa selama ini, selalu saja aku merasa hampa, kosong dalam diri ku." Ucap Pras masih menatap dalam kearah cangkir miliknya.
Indira menganggukkan kepalanya.
"Ituu karena baru saja anda mendengarkan tausiah dari pak Nur, tuan. Coba saja nanti jika anda sudah mulai kembali melaksanakan kewajiban anda sebagai seorang hamba pada Tuhannya. Maka dapat dipastikan hidup anda akan lebih berarti dan terasa lengkap. Karena Sholat merupakan penawar segala kerisauan dan pengusir segala kebimbangan." Indira berkata dengan lemah lembut.
Pras menganggukkan kepalanya.
"Apa memang karena itu yak aku selalu merasa risau?" Tanya Pras.
"Hmmm.. Sepertinya. Karena seorang hamba yang selalu dekat dengan Tuhannya, akan selalu merasa cukup atas apa yang diberi kepadanya. Namun jika seorang hamba melupakan Sang Pencipta, maka sudah pasti ia selalu merasa kurang, lagi dan lagi. Belum lagi selalu dikelilingi rasa gundah, risau, hampa, takut dan sebagainya. Karena dihatinya tidak ada ketenangan yang ia dapat dari mengerjakan Sholat." Jawab Indira.
"Hmmmmm.." Pras kembali menganggukkan kepalanya.
Ia merasa terbakar semangat untuk bisa dengan secepatnya melaksanakan sholat kembali.
"Bertaubat lah Tuan. Minta ampunan kepadanya, atas segala kelalaianmu selama ini kepadaNya. Maka anda pasti akan menemukan arti kehidupan yang sebenarnya." Indira kembali menyemangati Pras.
"Hmmmm.." Indira menganggukkan kepalanya tersenyum.
'Aku semakin yakin kau adalah orang yang tepat buatku!
Ajarilah aku, apapun yang kau tahu...
Namun jangan pernah ajari aku untuk hidup tanpamu!'
Batin Pras menatap kedua mata Indira yang sedang tersenyum kearahnya.
Drttt... Drttt...
Sebuah pesan masuk kedalam ponsel milik Indira yang ia letakkan diatas meja.
"Assalamualaikum.. Dira, kau sedang apa? Bisa kah kita bertemu?"
Pesan dari nomor yang tak dikenal.
"Waalaikumsalam.. Maaf ini dengan siapa yak?"
Indira membalas pesannya.
Tak lama kemudian ponselnya berdering.
Masih dari nomor yang tak dikenal.
Indira mengernyitkan dahinya.
"Maaf, tuan. Aku menjawab telepon dahulu." Izin Indira sedikit menjauh dari tempat Pras duduk.
Pras pun menganggukkan kepalanya dan cenderung cuek.
Indira pun menjawab panggilannya.
"Assalamualaikum.." sapa Indira pada seseorang di seberang sana.
"Waalaikumsalam.. Indira ini aku, Danu!" suara seseorang diujung telepon yang ternyata adalah Danu. Kakak kelas Indira yang ia temui beberapa hari lalu di supermarket.
"Ohhhh.. Kak Danu, aku kira siapa? Maaf Kak, nomornya belum aku save." Indira tersenyum.
Pras yang sedang menikmati kopinya pun segera menatap Indira yang terlihat bahagia saat menerima panggilan teleponnya.
"Iyaa Kak.. Bisaa.. Kirim alamatnya saja. Nanti jika sempat aku akan mampir." ucap Indira lagi pada Danu diujung sana.
Pras menatapnya tajam.
'Kenapa ia sok bersikap manis seperti itu?'
'Siapa Danu?'
batin Pras.