Love You, Boss! !

Love You, Boss! !
Part 27 _ Bolehkah ku tahu?


Pras mengajak Indira menuju mobilnya.


Mereka meninggalkan Kota Bogor.


Kota kelahiran Pras.


Daniel telah lebih dahulu kembali menuju Jakarta tadi sore.


Pras membukakan pintu untuk Indira, Indira sangat heran dengan sikap Pras kali ini.


Pras bahkan menghalangi kepala Indira dengan tangannya saat Indira masuk kedalam mobilnya. Ia khawatir kepala Indira terbentur.


Indira hanya tersenyum heran melihat kelakuannya.


Mereka meninggalkan cottage dan kembali menuju Jakarta.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, dan tiba di ibu kota.


Pras menghentikan mobilnya disebuah restoran mewah.


Pras turun dari kursi kemudi nya dan berlari kearah pintu Indira.


Ia membukakan pintu untuk Indira.


"Ayo!"


Indira hanya terdiam menatapnya. Seolah bertanya akan kemana mereka.


Pras yang mengerti maksud dari tatapan Indira pun akhirnya tersenyum.


"Sudaaahh.. Ayo ikut saja dulu." Pras mengulurkan tangannya.


Indira pun turun dari mobil tanpa menerima uluran tangan Pras.


Pras hanya tersenyum menanggapi tingkah Indira.


Pras menutup pintu dan mengajak Indira masuk kedalam resto.


Indira mengikuti langkah kaki Pras tanpa banyak berkata-kata. Ia hanya memandang dan mengamati sekitarnya yang terlihat sangat sepi untuk ukuran sebuah restoran mewah itu.


Tak ia lihat barang seorang pun pelanggan didalam resto itu. Yang ada hanya para pelayan yang menyambut mereka didepan pintu masuk.


Setelah beberapa menit mereka menunggu, dua orang pelayan datang dengan beberapa makanan yang dibawanya.


Indira hanya terdiam heran.


"Tuan, kapan kau memesan semua makanan ini?" tanya Indira bingung.


"Hahahhaaa... Indira, hal semacam itu kau tanyakan! Ini semua sudah dipesan olehku saat masih di Cottage. Tenang saja, kau tidak perlu memikirkan bagaimana kau membayarnya..." Pras tertawa jahil.


"Issshhhhh.. Lagi pula siapa yang akan membayar ini. Tuan yang mengajak ku kesini. Jadi sudah semestinya lah tuan yang membayar ini semua." ucap Indira menyunggingkan bibirnya.


"Hhahahaah.. Iya.. Iyaa.. Sudahlah.. Jangan kau bahas masalah itu semua. Lebih baik kita makan. Habiskan makanan mu!" Ucap Pras tersenyum.


Indira pun mengganggukkan kepalanya tersenyum.


Mereka pun makan dengan tenang. Pras sesekali mencuri pandang pada Indira.


'Benar. Wajah nya sangat manis saat tersenyum.' batin Pras.


Ia tersenyum menatap Indira yang sedang fokus mengunyah Makanannya.


Wajah yang selalu polos, tak mengenakan make up tebal. Wajah yang selalu hanya terkena bedak sekenanya. Tapi tak mengurangi kecantikan alami wajahnya.


Indira yang merasa ditatap, kini menegakkan pandangannya. Dan kali ini pandangan mereka bertemu.


'Sadar Indira... Jangan berkhayal terlalu jauh.. Dia terlalu sempurna untuk mu... Tampan, Mapan, dan kini semua sikap arogannya telah berubah menjadi semakin hangat, dan pribadinya yang semakin religius membuat nya mendapat nilai sempurna untuk kau jadikan imam dalam hidupmu.' Indira bermonolog dalM hatinya sendiri.


"Indiraaa... Indiraa.." Pras memanggil namanya. Namun Indira masih saja menatapnya tanpa berkedip.


Hingga ia jentikkan jari dihadapan matanya.


"Indira!" panggil nya setengah berteriak.


"Ehhh.." Indira langsung tersadar dari lamunannya.


"Maaf tuan." ucap nya kemudian.


"Kenapa kau? Apa sebegitu tampannya wajahku ini, Hingga kau tidak sanggup untuk memalingkan wajah?" Senyum Pras jahil.


"Isshhhh.. Narsis sekali kau ini, Tuan?" Indira mengerucutkan bibirnya.


"Hahahahha.." Pras tertawa.


Mereka melanjutkan makan malamnya.


Setelah selesai makan malam,


"Indira, apa kau mau berjalan-jalan sebentar di pantai?"


"Bisakah?" tanya Indira antusias.


"Tentu saja! Ayo!" Pras menarik tangan Indira.


Pras mengajak Indira menuju ke pintu belakang resto.


Pras tersenyum.


"Ayo!" Pras menghentakkan kepalanya kearah pantai.


Indira tersenyum dan berlari kemudian menuju pantai.


Pras mengikutinya.


Mereka berjalan-jalan di pantai menikmati angin malam.


Setelah dirasa cukup. Pras mengajak Indira duduk di tepi pantai.


Indira tersenyum bahagia. Matanya berbinar tersorot cahaya laut yang disinari terang nya rembulan.


"Indira, kurasa sudah cukup aku menghabiskan waktu selama hampir dua bulan ini. Aku ingin kau menjawab pertanyaan ku bulan lalu." Pras membuka pembicaraan dan langsung to the point.


Indira terdiam. Ia langsung mengerti maksud dari ucapan Pras.


"Hmmm.. Sebelum aku menjawab pertanyaan anda, bolehkah aku tahu siapa wanita yang tadi bersamamu?"


Tanya Indira. Yang memang masih menjadi tanda tanya dalam benaknya sejak tadi siang melihat adegan mesra itu.


Pras terdiam.


"Diaaaa... Tania. Kekasihku...."


Ucapnya kemudian.


Deggggg........