Love You, Boss! !

Love You, Boss! !
Part 22 _ Melepaskan...


...Lebih baik terluka ...


...sekalian melepaskan....


...Dari pada bertahan...


...dan semakin lama ...


...semakin tergores tak tertahan...


...-...


Flasback on..


Tiga puluh menit kepergian Indira ke gudang penyimpanan berkas, datang seorang wanita keruangan Pras.


Tok.. Tok..


Suara ketukan pintu ruangan milik Pras.


Pras yang sedang sibuk dengan laporan milik pegawainya, tak mengindahkan seseorang yang sedang mengetuk pintu itu.


"Masuklah." Titah Pras.


Ia tak menatap seseorang dibalik pintu ruangannya itu.


"Hebat sekali kau, Indira. Baru tiga puluh menit, kau sudah menemukan dokumennya." senyum Pras, tanpa mengalihkan pandangannya. Ia tersenyum kecil.


Prak.. Prak..


Suara high heels seorang wanita.


'Kenapa langkah kakinya seperti bukan Indira.' batin Pras.


"Siapa Indira, sayang?" suara seorang wanita yang dikenali Pras.


Seketika Pras menoleh kearah wanita itu.


"Tania!" ucap Pras pelan.


"Yes, Beibb.. It's Me!" sahut Tania yang langsung menghampiri Pras.


Pras hanya tersenyum getir.


"Kapan kau landing di Jakarta?" tanya Pras mengalihkan kursinya kearah Tania yang berdiri disampingnya.


"Baru tadi pagi. Aku langsung kesini menemuimu." jawab Tania.


"Benarkah? Lalu sejak kapan kau berada di Bali?" tanya Pras lagi dengan sedikit meninggi.


Degggg...


'Kenapa Pras tahu aku di Bali?' batin Tania.


"Hmm.. Aku seminggu yang lalu datang ke Bali. Berlibur dengan kawanku, sayang. Maafkan aku tidak menghubungimu. Aku tidak ingin mengganggumu. Aku takut jika kau sibuk." Tania beralasan.


"Cihhh... Benarkah? Lalu kemana kawanmu itu? Kenapa tidak kau ajak kemari?" Pras menatapnya tajam.


Ia memang sudah tahu sikap Tania saat dibelakangnya beberapa hari saat sudah berada di Jakarta.


Para bodyguardnya di Singapura menjalankan tugasnya dengan baik. Mereka diperintah untuk mengawasi Tania. Dan benar saja, dua hari setelah keberangkatan Pras ke Indonesia, Tania sudah berani bermain serong dengan teman lelakinya.


Bahkan tak segan-segan untuk check-in dihotel bersama.


Pras yang mengetahui itu semua hanya mengusap dada.


Untung saja selama ini, ia tak pernah merasakan cinta untuk Tania. Rasa yang ada untuk Tania adalah perasaan berhutang budi. Dan oleh karena itu, rasa sakitnya tidak terlalu dalam ketika tahu dikhianati oleh Tania.


Namun tetap saja, rasa amarah itu ada. Pras sangat tidak menyukai kebohongan.


Maka, setiap kali Tania berbohong padanya, membuatnya sangat gerah.


Seperti saat ini.


Tania yang ditanya seperti itu menjadi salah tingkah.


"Hmmmm.. Anu, sayang. Kawanku itu sudah kembali ke Singapura terlebih dahulu. Jadi aku terbang ke Jakarta seorang diri. Aku ingin menyapamu dan bertemu dengan mu."


Tania tiba-tiba duduk dipangkuan Pras.


Ia melingkarkan tangannya dileher Pras.


"Aku sangat merindukanmu, sayang." rajuk Tania manja.


Disaat yang bersamaan, Indira datang keruangan Pras dan melihat adegan mesra itu, Indira mundur perlahan dan memilih untuk pergi secara diam-diam.


Tania mendaratkan ciuman di bibir Pras. Dengan ganas ia melahap bibir Pras.


Pras yang terkejut mendapatkan serangan yang tak terduga itu.


Segera tersadar dan melepaskan dengan paksa Tania dan menghempaskan tubuh Tania hingga jatuh diatas lantai.


"Kauuu....." ucap Pras geram.


"Awwww..." teriak Tania.


Pras bangun dari duduknya. Ia menatap tajam Tania yang sedang merintih kesakitan.


"Beraninya kau, menyentuhku. Saat kau sudah membohongiku? Kau tahu Tania, aku jijik melihatmu! Kau wanita murahan. Karena aku tak ada dengan seenaknya kau pergi bersama teman lelaki mu. Dan tidur bersamanya! Kau benar-benar tidak bisa dimaafkan!" sahut Pras menahan emosinya.


"Sayang..." rintih Tania.


"Cihh... Masih bisa kau panggil aku dengan sebutan itu? Sudahlah Tania. Kau tahu aku sangat tidak suka dibohongi. Apalagi oleh seorang wanita."


Tania yang merasa bersalah hanya bisa menunduk dan menangis. Ia benar-benar merasa hancur dihadapan Pras.


"Kau tahu Tania, Aku selalu menyangkal tak percaya saat anak buahku mengatakan itu semua. Namun dengan semua bukti yang ada, aku tidak bisa mengelak kalau kau tidak lain hanyalah seorang wanita murahan." lanjut Pras masih dengan amarah.


"Iyaaa.. Memang benar. Aku wanita murahan. Tapi aku, wanita biasa. Wanita biasa yang memiliki gairah untuk bercinta. Aku tidak dapat menahan gairahku yang menggebu. Gairah yang selalu aku pendam saat bersamamu. Memiliki kekasih yang bahkan tak pernah menyentuhku sama sekali. Aku merasa kesepian Prasss... Kau tak kan tahu itu. Rasanya panas saat menahan semua gairah yang terpendam itu." sahut Tania juga emosi dan melemah saat ucapan terakhirnya.


Pras terdiam. Tak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu dari Tania.


Memang sedari awal Tania selalu mengajaknya untuk tidur bersama, namun Pras selalu saja menolaknya. Karena ia tidak ingin merusak seorang wanita.


"Kauuu..." Pras geram.


"Sadarkah kau? Aku melakukan itu semua hanya untuk melindungimu. Aku tidak ingin melakukan sesuatu yang memang tidak seharusnya aku lakukan. Aku tidak ingin melukaimu!"


lanjut Pras tegas.


Tania menatap Pras dalam.


Ia semakin menitikkan airmatanya.


"Aku pun punya hasrat yang sama. Bahkan hasrat ku lebih besar deri seorang wanita. Tapi aku tidak ingin membuat hal yang akan membuatku menyesalinya seumur hidupku, Tania." Pras duduk kembali diatas kursinya.


"Kau adalah sahabatku. Kau orang yang selalu berada disisiku saat aku mulai meniti kehidupanku lagi. Aku tidak ingin membuatmu hancur karena perbuatanku yang hanya hasrat sesaat." jelas Pras lagi.


"Apa kau tidak mencintaiku?" tanya Tania pelan.


"Apa kau juga mencintaiku?" Tanya Pras kembali pada Tania.


Tania terdiam.


"Tak perlu kau menjawabnya. Aku sudah tahu jawabannya. Jika memang kau mencintaiku, maka tidak akan dengan semudah itu kau pergi dengan lelaki lain." ucap Pras kembali.


"Sudahlah. Jalani saja kehidupanmu kembali dengan lelaki itu. Aku tidak apa-apa. Semoga kau bahagia bersamanya." Pras berdiri kembali dan kemudian berlalu meninggalkan Tania diruangannya yang masih terduduk dilantai.


Pras melewati Daniel yang berdiri didepan pintu ruangannya.


"Urus dia, Niel." ucapnya sambil berlalu.


"Siap, Boss!" Sahut Daniel tersenyum. Ia sangat senang, akhirnya sang Boss dapat melepaskan diri nya dari Tania.


Daniel pun masuk keruangan Pras dan menghampiri Tania yang sedang menangis diatas lantai.


"Mari Nona, saya bantu." Daniel mengulurkan tangannya.


"Tak usah. Saya bisa bangun sendiri." ucap Tania angkuh. Ia kemudian berdiri, mengusap air matanya dan bergegas pergi meninggalkan Daniel yang terlihat bingung.


"Ada yahh wanita macam itu?" gumam Daniel menatap kepergian Tania dari ruangan Pras.


Daniel menyunggingkan bibirnya beriringan dengan mengangkat kedua bahunya.