Love You, Boss! !

Love You, Boss! !
Part 11 _ Kak Danu?


Pras terdiam.. Mendengar penjelasan Indira.


Ia menarik nafasnya dalam..


"Baiklah.. Kau beri aku waktu satu bulan. Akan kupastikan memenuhi semua kriteria calon suami untukmu. Namun selama itu, kau jangan hilang dari pandanganku. Tetaplah disini." Pras membuka suaranya dengan mantap.


"Hmm.. Baiklah, Tuan.. Tapi apa boleh saya bertanya?" ucap Indira hati-hati.


"Tidak!" sahut Pras tegas.


Indira pun langsung terdiam. Dan memilih pamit untuk keluar menuju meja kerjanya dihadapan ruangan milik Pras.


'Kenapa tuan Pras jadi ingin menikahi gue?'


'Apa dia hanya ingin mempermainkan gue?'


batin Indira.


-


Didalam ruangan, Daniel yang berdiri disamping Pras pun segera menuju ke arah depan meja milik Pras.


Ia duduk berhadapan dengan Pras yang kini tengah terdiam seolah berfikir.


"Pak, bolehkah aku tau alasan anda ingin menikahi Indira yang baru saja anda kenal? Bahkan bertemu dengannya pun masih bisa dihitung oleh jari." ucap Daniel mengungkapkan rasa ingin tahunya sedari tadi.


"Mmmhhh... Entahlah Niel. Memang betul katamu, aku bahkan baru tiga kali bertemu dengannya. Tapi, sikap dan ucapannya mengingatkanku dengan seseorang."


Pras menatap dalam pulpen yang sedang ia mainkan.


Daniel yang mengerti ucapan Pras pun mengernyitkan dahinya.


"Lalu apa menurut anda keputusan yang anda ambil itu sudah tepat? Jangan sampai anda menikahinya karena anda fikir ia sama dengan seseorang itu."


"Semoga saja tidak begitu! Namun yang jelas, hatiku mengatakan untuk jangan sampai kehilangan untuk kedua kalinya."


Pras menatap Daniel kali ini.


"Baiklah kalau itu keputusan anda. Saya akan dukung sepenuhnya. Laluu, bagaimana dengan Tania? Bukankah anda masih memiliki hubungan dengannya?"


"Yah.. Aku memang masih berhubungan dengannya. Namun aku tidak pernah mencintainya. Aku hanya merasa berhutang budi pada nya."


Daniel hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Memang sejauh yang ia tahu, tidak pernah ada rasa cinta dalam sorot mata Pras kepada Tania.


"Apa aku salah Niel, dengan perasaanku padanya?"


Tanya Pras kemudian.


"Entahlah Pak. Saya pun tidak tahu. Tapi bukan salah anda jika memang tidak pernah ada rasa cinta dihati anda untuknya. Karena menurutku, cinta datang dengan sendirinya. Tanpa harus diminta." jelas Daniel, yang membuat Pras agak lega.


Pras menarik nafasnya dalam.


Mereka terdiam dengan fikirannya masing-masing.


"Carikan aku guru untuk mengkaji ilmu agama secepatnya, Niel!" ucap Pras kemudian.


"Siap, Pak!" sahut Daniel.


-


Indira mulai menempati rumah kontrakan barunya.


Daniel mengirim alamat rumah yang baru yang akan Indira dan Lani tinggali.


Sebuah rumah sederhana. Lumayan agak besar untuk ukuran dua orang.


"Dir... Kok besar sekali yak rumahnya. Gue kira kaya kos-kosan biasa. Ternyata rumah ini mah.." ucap Lani sesaat sampai didalam ruang tengah rumah tersebut.


"Hmmm.. Gue kira pun begitu." Indira pun merasa takjub. Ia duduk diatas sofa empuk yang ada diruang tengah.


"Iya.. Hebat juga yah perusahaan kita. Mess nya gede gini cuma kita berdua yang isi. Lengkap lagi dengan segala isi rumahnya." Lani melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan kamar.


"Dir... Ini kamarnya pun gede banget tau.." sahutnya kemudian.


"Iya Lan.." Indira menganggukkan kepalanya. Ia pun merasa takjub melihat isi kamar tersebut. Ukurannya agak besar.


Lani yang penasaran pun terus menjelajahi setiap isi rumah tersebut.


Dan akhirnya mereka benar-benar merasa takjub akan rumah yang akan mereka tinggali selama di Jakarta itu.


Mereka merasa seperti berada dirumah sendiri.


Mereka segera menuju kamar masing-masing yang berhadapan dan segera mengeluarkan seluruh isi koper mereka dan menatanya di dalam lemari yang telah tersedia disana.


'Apa memang seperti ini semua pegawai yang dimutasi ke kantor pusat?


Apa hanya aku dan Lani yang mendapat fasilitas seperti ini?


Ahhh.. Tidak mungkin.. Mungkin memang seperti ini fasilitas yang diterima oleh semua pegawai!


Pleasseee dehh Indira, gak usah ke Ge-Er ann...' gumam Indira setelah selesai membongkar semua isi kopernya.


"Dir, udah beres belum?" sahut Lani dari arah pintu Kamar Indira.


"Udah... Kenapa?"


"Kita beli kebutuhan dapur yuk. Kan kita belum punya apa-apa untuk makan." ucap Lani.


"Oke. Bentar." Indira mengambil tas pinggangnya dan ponsel miliknya.


Ia segera menyusul Lani yang telah lebih dulu keluar rumah.


Mereka pergi setelah mengunci rapat rumah baru mereka.


Mereka menuju ke supermarket di sekitar kawasan tempat tinggal mereka.


-


Indira mendorong troli mengikuti Lani yang sedang memilah dan memilih list belanjaan yang akan mereka beli.


Indira masih bergelut dengan fikirannya tentang percakapan dengan pak Pras tadi siang diruangannya.


Ia masih tak habis fikir dengan pernyataan pak Pras yang akan menikahinya dalan waktu satu bulan kedepan.


'Kenapa ia bisa terfikir kesana?' batinnya.


Lani yang sedang sibuk dengan catatannya tak melihat ada seseorang dihadapannya.


Hingga ia pun menabrak bagian belakang seseorang itu.


"Ahh.." teriak Lani kemudian.


Indira pun tersadar oleh teriakan Lani yang juga tertabrak oleg troli belanjaan yang didorong oleh nya.


Seseorang yang ditabrak Lani pun segera membalikkan tubuhnya. Mencari sosok yang menabraknya dari belakang itu.


"Aduhh Maaf... Saya tidak melihat anda." ucap Lani menyesal.


"Ohhhh.. Tidak apa-apa nona. Justru saya yang harus minta maaf karena berdiri ditengah jalan." ucap si Pria tadi..


Indira menghampiri Lani.


"Ada apa Lan? Lu gak apa-apa kann?" Tanya Indira khawatir.


"Gakk... Gue gak apa-apa kok.." Lani meyakinkan.


"Diraa? Indira yakk?" Tanya pria tadi ragu menatap indira.


Indira pun menoleh kearah sang pria.


"Kak Danu?" Tanya Indira terkejut.


Lalu ia tersenyum menatap wajah manis pria tadi yang ia sebut Danu.


...🍁🍁🍁...