Love You, Boss! !

Love You, Boss! !
Part 19 _ Kepolosan..


Bu Rahma mengajak Indira berbelanja di sebuah Mall besar di Jakarta.


Bu Rahma belanja segala hal mulai dari pernak pernik dapur hingga pakaian.


Mereka kemudian masuk kedalam sebuah toko tas dan sepatu branded.


Indira mengikuti langkah kaki bu Rahma yang berkeliling didalam toko tersebut.


Bu Rahma mengambil sebuah pouch mini dengan beberapa manik glitter dibagian depan.


Pouch berwarna silver itu menarik mata Indira. Ia merasa takjub melihat nya. Bu Rahma tersenyum kearahnya dan memberikannya, juga membiarkan tas itu dipegang Indira. Indira mengamati dengan seksama pouch tersebut.


Dan naluri wanitanya tergerak. Ia segera mencari kertas harga yang menempel di tali pouch itu. Saat dilihatnya, ia sangat terkejut bukan main. Harga nya mencapai harga sebuah motor sport. Indira membelalakkan matanya.


'Berapa bulan gue harus gak makan untuk bisa beli tas sekecil ituu?' batin Indira tersenyum geli.


"Indira, apa kau suka dengan tas itu?" bu Rahma membuyarkan segala lamunan Indira.


"Aaahh.. Tidak Nyonya." elak Indira tersenyum kecut. Tas nya memang bagus, tapi harga nya yang sangat tidak bagus menurutnya.


"Saya rasa tas itu akan sangat cantik jika dipakai olehmu. Jika kau suka, saya akan membelikannya untuk mu sebagai hadiah pertemuan kita kali ini dan karena kau telah bersedia menemani saya hari ini." ucap bu Rahma.


Indira menggelengkan kepalanya pelan.


"Maaf, Nyonya bukan nya saya menolak rezeki, tapii saya rasa, saya tidak terlalu membutuhkan nya. Terimakasih atas niat baik Nyonya pada saya." Jawab Indira jujur.


"Loohh kenapa?" tanya bu Rahma heran.


"Tidak apa-apa Nyonya, tapiii menurut saya harga nya terlalu mahal Nyonya. Sayang sekali uang sebanyak itu dibelikan sebuah tas yang ukurannya hanya sebesar ini. Masih jauh besar dengan milik saya." Indira memegang tas yang menggantung dipundaknya.


"Hahahaa.. Indira. Ini kan tas branded. Wajar jika harganya mahal. Tapii apa benar kau tidak mau tas ini?" bu Rahma menertawakan kepolosan Indira.


"Benar Nyonya. Saya tidak membutuhkannya. Saya masih punya beberapa tas yang masih layak dipakai dan menurut saya itu sudah cukup." jawab Indira meyakinkan.


Bu Rahma tersenyum.


"Baiklah kalau begitu. Lalu, untuk hadiah pertemuan kita, saya harus memberimu apa?" tanya bu Rahma bingung. Karena sedari tadi ia berbelanja, Indira tidak memilih apapun untuknya sendiri.


"Hmmm.. Saya rasa, makan siangpun sudah cukup Nyonya. Karena cacing dalam perut saya sudah berteriak meminta jatah sepertinya. Maaf Nyonya." ucap Indira mengusap perutnya dan kemudian menundukkan kepalanya malu.


"Hahhahaaaa...." bu Rahma tertawa lagi.


Ia betul-betul tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu dari Indira. Indira semakin menundukkan kepalanya.


Ia malu betul karena bu Rahma terus tertawa karena ucapannya yang polos.


"Baiklah. Ayo! Maaf yak, saya terlalu asyik belanja jadi lupa untuk mengajakmu makan siang." tutur bu Rahma.


"Tidak apa, Nyonya. Saya yang harusnya minta maaf karena cacing dalam perut saya terlalu agresif. Hehehee.." ucap Indira menahan malu.


"Hahaha... Baiklah. Ayo." Bu Rahma kembali tertawa dan segera menggandeng tangan Indira keluar dari toko tas dan sepatu branded tersebut.


Mereka menuju salah satu restoran dalam mall tersebut.


Bu Rahma menyuruh pak Aji, sang supir pribadinya untuk membawa barang belanjaan miliknya kedalam mobil terlebih dahulu.


Pak Aji pun berlalu menuju basement mall.


Sepeninggal pak Aji, bu Rahma segera memesan makanan untuk mereka berdua.


Menunggu makanan mereka datang, bu Rahma membuka pembicaraan dengan Indira.


"Indira, boleh saya bertanya?" tanya Bu Rahma hati-hati.


"Tentu saja Nyonya! Silakan." Indira tersenyum.


"Hmmm.. Kau tinggal disini sendiri?"


"Tidak Nyonya, saya baru dua bulan dimutasi dari tanah kelahiran saya kesini bersama kawan saya. Jadi saya tinggal di mess bersama kawan saya."


"Ohh..." Bu Rahma menganggukkan kepalanya.


"Jadi, orang tuamu?" lanjut bu Rahma.


"Di Surabaya, Nyonya!"


"Oh begituu.."


Bu Rahma terdiam.


"Indira, saya sudah mendengar semuanya dari Daniel. Apa benar Joe telah melamarmu?" ucap Bu Rahma kemudian.


Deggg.....


Indira terkejut. Ia menatap dalam bu Rahma yang juga sedang menatapnya.


"Hmmmm.... Anuu Nyonyaa.." Indira bingung. Apa yang harus ia katakan pada ibu dari sang Boss itu?