Him

Him
Mulai


Tiffany mengajak Gerard pergi berjalan-jalan ditepi kolam ikannya. Gerard memegang kedua tangannya sendiri kebelakang, sedangkan Tiffany memegang kedua sikunya kedepan. Suasana sangat tenang. Kolam ikan Tiffany memiliki lampu yang banyak sehingga banyak pula cahaya mengelilinginya. Suara percikan air kolam tersebut juga menenangkan.


"Bu, apa saya boleh bertanya?"


"Apa itu?"


"Apa ibu bisa jelaskan kenapa ibu mengkontrak saya?"


Tiffany diam sejenak menghentikan langkahnya.


"Kenapa kamu ingin tahu?"


"Hm, tidak Bu. Tidak ada"


Gerard mengerutkan dahinya dan menunduk. Tiffany duduk dipinggir kolam, sedangkan Gerard tetap berdiri.


Pria ini, tampan sekali bila kelihatan serius. Tidak, dia memang tampan dari sananya. Lihatlah, sangat menggemaskan ketika bingung.


"Sekarang, boleh saya bertanya?"


Huft, dia bahkan belum menjawabku. Malah dia yang bertanya sekarang.


Gerard mengangguk pelan lalu menatap Tiffany.


"Kamu tinggal dengan siapa dirumah?"


"Dengan paman bu"


"Orang tuamu?"


"Orang tua saya meninggal dalam kecelakaan Bu"


Berarti dia sepertiku.


"Kamu tinggal dimana?"


"Di jalan CV Bu, saya tinggal di Ruli Bu. hahaha" jawab Gerard dengan tawa kecil


Nasibnya lebih buruk dariku.


"Biasanya kamu kerja apa?"


Gerard agak terkejut mendengar Tiffany bertanya itu. Ia diam sejenak berpikir.


Haduh, kenapa tanya pekerjaan. Apa aku harus jujur. Tapi pasti ia menolakku menjadi suaminya. Walaupun hanya kontrak, tapi aku tetap ingin mendapatkan gajinya. Setidaknya, aku bisa menghindari kehidupan dari paman gilaku itu. Ah, sial sekali.


Gumam Gerard dalam hatinya.


"Hei pria? Apa kau baik-baik saja?"


"Eh, iya Bu. Maaf"


"Jadi?"


"Tidak ada Bu, saya menganggur sebelumnya"


"Baiklah"


"Oh iya, pernikahan kita akan kupercepat. Tiga hari lagi"


Gerard kaget sekali mendengarnya.


Perempuan ini. Kenapa cepat sekali mengambil keputusan.


"Apa? Kamu keberatan?"


"Ti-tidak Bu"


"Baiklah kalau begitu. Mulai besok, kau harus sering-sering menemuiku. Aku takut lupa karena jadwalku sangat padat"


"Baik Bu"


Hahaha, mari kita mulai semuanya Rita.


Malam sudah mulai agak larut. Gerard tidak enak dirumah atasannya itu berlama-lama.


"Maaf Bu, saya sebaiknya pulang sekarang. Malam sudah semakin gelap"


"Hm, iya juga. Maaf aku tak melihat jam"


"Tak apa Bu, ibu tak salah"


"Berhenti panggil aku ibu"


"Ba-baiklah Fany"


"Ya sudah pulanglah, hati-hati dijalan"


"Hehe, siap bu"


Gerard mohon izin untuk pulang dengan membungkuk. Tiffany hanya mengangguk pelan dengan senyum.


"Kau tau, kau tak perlu melakukan itu"


Gerard hanya senyum cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Mereka pun kembali ke tempat semula, Gerard juga kembali ke tempatnya yang bagai neraka.


---


"Hei nak! Darimana saja kau!" tanya Lou kasar.


Gerard acuh dengannya. Saat ia masuk kamar, ternyata sudah ada seorang wanita disitu yang berbaring dengan pakaian ketat.


Tiba-tiba wanita itu berlari ke arah Gerard dengan cepat tidak sabar meminta jatah.


"Sayang, kamu darimana saja. Aku menunggumu daritadi" kata wanita itu sambil menempel pada Gerard. Gerard hanya terus berjalan ke arah tempat tidur dan mengunci pintu kamarnya.


Ia mengangkat dan melempar wanita itu dengan kasar. Wanita itu mengira bahwa Gerard tidak sabar dengan dirinya.


Wanita itu membuka seluruh bajunya hingga tak ada sehelai pun daun ditubuhnya. Gerard masih memakai kaosnya yang tadi.


Namun, wanita itu benar-benar tidak sabar. Belum lagi Gerard berbaring, wanita itu langsung membuka celana Gerard langsung dan melahap ******** Gerard. Gerard hanya menerima apa yang dilakukan wanita itu dengannya. Malam Gerard pun menjadi semakin panjang.