Him

Him
Menyebalkan


"Pagi Rika"


"Halo Bu, selamat pagi juga. Ada yang bisa dibantu Bu?" Rika heran karena tak biasanya atasannya menelpon sepagi ini.


"Apa aku ada jadwal rapat hari ini?"


"Sebentar Bu saya cek dulu"


Rika mengecek nya melalui email-email yang masuk. Lalu mengecek file jadwalnya lagi.


"Tidak Bu, jadwal ibu hari ini kosong"


"Baiklah, apa kamu bisa kirim file yang perlu saya kerjakan? Saya lagi tak enak badan"


"Baik Bu, akan saya laksanakan"


"Lakukan yang terbaik"


"Baik Bu"


Telepon ditutup. Tiffany meletakkan ponselnya dan mengusap usap kembali matanya. Ia memperhatikan sofa didepan kasurnya tak ada orang. Saat ia duduk di tepi ranjang, ternyata ada Gerard disitu sedang tertidur dalam keadaan duduk.


Kenapa kau begitu baik padaku sedangkan aku seenak-enaknya padamu Gerard? Apa karena kau juga merasakan hal yang sama denganku?


Tiffany menatap sayu. Matanya masih agak berat dibuka karena menangis tadi malam.


Ditepuknya pundak Gerard pelan.


"Gerard, bangun"


Gerard masih belum bereaksi.


Tiffany memegang wajah Gerard, lalu menampar namparnya pelan.


"Hei, bangun pemalas"


Akhirnya Gerard sedikit sadar. Nyawanya masih di alam mimpi walaupun tak sepenuhnya. Ia memaksa tubuhnya agar duduk tegak.


"I-Iya aku bangun" Gerard menguap.


tiba-tiba ia loncat langsung berdiri.


"AHH! GAWAT! MAAF FANY! AKU PASTI SUSAH SEKALI DIBANGUNKAN!"


Tiffany lantas sedikit heran kenapa Gerard tiba-tiba begitu.


Saat melihat arah jam, Gerard makin panik.


"Fany! Apa aku harus mandi? Aku mandi di kantor saja ya!" sambil buru-buru keruang ganti.


Tiffany yang masih duduk dilantai tempat Gerard tidur tadi sedikit geli melihat Gerard panik. Tapi ia memutuskan memasang wajah kesal.


"Ma-maafkan aku Fany! Pasti kita telat gara-gara diriku. Aku memang pria bodoh!"


"Ya sudahlah mau bagaimana lagi? Toh kita sudah telat. Image ku juga sebagai pemilik perusahaan sudah pupus. Semua hanya karena kau"


"Maafkan aku Fany! Aku tak bermaksud begini! Hah besok kalau aku susah dibangunkan siram saja wajahku!"


"Hah? Enak sekali bicaramu! tentu kamarku jadi basah bodoh!"


"Kalau begitu apapun untuk membangunkan"


"Apapun?"


"Iya, Apapun!"


Tiffany menyengir senang mendengar itu.


"Baiklah kalau begitu"


Ia berdiri lalu berjalan ke kamar mandi sambil tersenyum senyum.


Dasar, lucu sekali kau Gerard! Gampang sekali dibodohi. Hahaha!


HADUH, ****** AKU! GARA-GARA AKU NAMA IBU PASTI JADI JELEK DIPERUSAHAAN! AGHHHH!!! GERARD BODOH!


Sambil menepuk-nepuk kepalanya menggeram.


Saat Tiffany keluar dari kamar mandi, Gerard berdiri tegak dihadapannya. Lalu ia berlutut pada Tiffany.


"Hei, apa-apaan ka.."


"Maafkan aku Fany! Aku tak bermaksud menjelekkan namamu" kata Gerard memohon dan menunduk tak berani melihat Tiffany. Dibayangannya Tiffany akan murka melihatnya. Dibelakang Tiffany juga akan ada api hitam yang menunggu untuk membakarnya.


"Hei! Sudahlah tak usah berlebihan"


"Ta-Tapi kesalahanku sangat besar!"


Akhirnya Tiffany tak bisa menahan tawanya lagi.


"HAHAHAHAHAH"


Haduh, ****** aku. Ketawanya saja sudah membuat ku merinding. Sial, Gerard bodoh! Idiot!


"Baiklah, aku yang ingin bekerja dari rumah hari ini. Aku bosan di kantor terus sen.. maksudku, membosankan. Kalau disini kan aku bisa tiduran sambil buka laptop"


"Jadi kau tak marah padaku?"


"Ya tidaklah! Kau saja yang terlalu bodoh. Mudah sekali untuk menipumu! Hahahaha!"


Gerard berdiri dari berlututnya dan merasa lega setelah mendengar Tiffany.


"Huft, aku sudah terkena serangan jantung tadi"


"Kenapa tak mati sekalian?" respon Tiffany


"Aku kan masih mau melindungi kamu"


Wajah Tiffany memerah. Ia teringat dengan janji Gerard, dan tingkahnya yang sedikit berlebihan manja pada Gerard.


Ia berjalan meninggalkan Gerard.


"Kamu mau kemana?"


"Ya sarapan. Kalau kau tak mau aku juga tak memaksa"


"Aku ikut"


"Terserah"


Gerard mengejar Tiffany dan mereka keluar dari kamar.


---


"Hei Fany" panggil Gerard yang sedang berdirie memandang jendela.


"Apa" jawab Fany yang sedang sibuk dengan laptopnya sambil telungkup berlawanan arah dengan Gerard.


"Kenapa bertanya?"


"Aku bosan di dalam kamar terus"


"Ya kalau mau keluar ya sana"


Gerard terdiam berpikir sejenak.


"Tidak ah. Rasanya sepi kalau tak ada kamu"


Tiffany berhenti mengetik dan melihat Gerard tanda tak suka dengan ucapannya.


"Jangan kelewat batas ya. Masih ada kontr yang sudah kamu sepakati"


"Emang aku barusan salah apa?" Wajah Gerard bingung


"Kau menggodaku"


Gerard menaikkan alisnya.


"Apa itu tadi godaan?"


"Iya, terdengar sensual bagiku" kembali fokus pada laptopnya


"Maaf, aku tak bermaksud.. Hanya saja, agak canggung keluar sendirian dari rumah sebesar ini. Aku tak terlalu dekat dengan orang-orang rumah"


Tiffany tak menanggapi kata-kata Gerard. Ia terlalu sibuk dengan laptopnya.


"Fany, kamu kan ada ruang kerja. Kenapa tak kamu pakai?"


"Tidak, lebih nyaman disini. Itujuga kebanyakan barang ayah. Tak mungkin aku tega menyingkirkannya"


"Oh begitu ya"


Situasi hening seketika. Percakapan mereka selalu berakhir dengan singkat. Tiffany yang acuh membuat Gerard bolak-balik harus berpikir tentang topik pembicaraan yang cocok untuk mereka berdua.


"Fany"


Tiffany menepuk bantalnya. Ia duduk dari telungkupnya lalu menghadap ke Gerard. Dilemparnya bantal tadi ke arah wajah Gerard.


"Fany, Fana, Fany, Fana, Bisa diam tidak sih! Aku itu lagi repot lho!"


Gerard mengambil bantal yang jatuh mengenai wajahnya tadi.


"Iya deh maaf. Aku diam saja"


"Maaf, maaf"


Gerard hanya menyengir. Ia duduk di sofanya lalu berbaring.


Bolak-balik ia mengubah posisi tidurannya di sofa.


Bisa mati bosan aku disini. Huft, cepatlah Fany. Kapan selesainya sih.


---


Gerard sedang makan malam bersama Tiffany di ruang makan. Mereka hanya berdua saja. Ibu tirinya entah berada dimana.


"Fany, besok kita pergi kerja tidak?"


"Tidak, aku ingin kerja dari rumah saja"


Haduh, benar-benar mati bosan aku.


"Hai kalian berdua sepasang suami istri. Apa kabar kalian" sapa Rita genit terutama pada Gerard dari jauh.


"Sayangku, kamu makan banyak dong. Biar kamu kuat" lanjutnya memegang lengan atas Gerard yang berotot.


"Ba-baik bu" jawabnya sambil senyum.


"Panggil aku Rita, sayang. Sudah berapa kali harus ku ingatkan hahhaa"


Tiffany menepuk meja dengan sendok.


"Heh wanita tua, jangan ganggu suamiku ya. Urus saja urusanmu"


"Ulululu, si istri cemburu suaminya diganggu. Padahal selama ini dia menganggu urusan orang hahaha "


Tiffany bangkit dari tempat duduknya.


"Aku kenyang" Ia meninggalkan meja makan. Makanannya belum habis.


Aduh, apa yang harus aku lakukan. Ku bawakan sajalah makanannya.


Gerard mencampur nasi sisa Tiffany tadi kedalam piringnya dan membawa segelas air minum.


"Fany.. Sayang tunggu"


Gerard mengejarnya.


Mereka berdua naik keatas masuk ke kamar nya.


"Fany kamu harus makan. Sayang nasinya bersisa" kata Gerard membujuk Tiffany yang sudah kehilangan nafsu makan.


"Apa-apaan itu. Bentuknya saja seperti nasi kucing" Fany melihatnya jijik.


"Tunggu dulu, nasi kucing kan benaran ada"


Terus kau pikir aku mau mencerna nasi hewan itu?


"Nih, A' a' " kata Gerard sambil mencoba menyuapi Tiffany.


"Aku sudah kenyang bodoh!"


"Ayo coba dulu. Kamu sudah terlalu kurus untuk bilang kamu kenyang"


"Terserah"


"Ya sudah kalau begitu aku saja yang makan"


Gerard memakan nasi tersebut. Ia menggoda Tiffany agar tertarik untuk ikut memakannya.


Kenapa melihatnya makan aku jadi ingin makan sih dasar bodoh! Ah Gerard! Menyebalkan sekali!


Tiffany menarik sendok dan piring dari tangan Gerard.


"Aku masih.. lapar..."


Tiffany langsung menyuap nasi tadi kedalam mulutnya sendiri. Gerard hanya memperhatikan.


Setelah makanan habis, baru ia menanggapi Gerard.


"Aku lebih lapar. Cuci ini di kamar mandi. Letakkan saja di raknya"


"Huft baiklah"