
"Fany, Sst. Sst. Sst. Fany. Fany" kata Gerard berbisik-bisik.
"Hm"
"Ada seorang pria dibawah"
"Kenapa kau berbisik-bisik. Kamar ini kedap suara tau"
"Ah, aku tak tau" Gerard menormalkan suaranya.
Aku kan dulu tinggal di gubuk kecil terbuat dari kayu nona. Bukan istana serba beton seperti mu ini
"Apa yang mau kau bilang"
"Tidak ada sih" Gerard berbohong.
"Apa-apaan sih kau!" Tiffany sedikit emosi dibuatnya.
TOK TOK TOK
"Permisi tuan, nona"
"Itu bibi"
"Iya aku tau. Masuk Bi"
"Nona, dibawah.. nyonya membawa pria lagi non.."
"Ah si ****** itu kenapa sih! Bahkan dia tak malu bertingkah seperti itu terhadap penghuni baru dirumah ini!"
"Ta-tapi non, jangan bilang saya yang beritahu nona ya. Saya takut dipecat non"
"Apa yang bibi takutkan. Pemilik rumahnya kan ada disini. Sudah bi, panggil saja sekuriti lagi. Aku yang akan mengahadapinya".
"Baik non"
"Jadi kau mau bilang ini"
"Hehe, iya tapi aku takut itu bukan urusanku" sambil menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal sama sekali.
"Kau itu kepala keluarga disini! Walau dikontrak tetap bertingkah lah seperti semestinya!"
"Baiklah Fany, akan kucoba"
Yah kena marah lagi.
Tiffany lebih dulu keluar diikuti oleh Gerard. Tiffany menuruni tangga sambil menepuk tangan.
"Wah, wah wah, berani sekali kau menginjakkan kaki di rumahku ya"
Rita dan Simon itu langsung menoleh pada Tiffany.
"Hei, kenalkan aku temannya paman Gerard"
Tiffany menoleh pada Gerard. Gerard hanya bisa menaikkan bahunya.
"Oh baiklah, selamat. Tapi aku minta kau segera pergi dari rumahku"
"Kau kenapa selalu ikut campur urusan ku! Apa suamimu itu yang memberitahumu?" pekik Rita.
"Tidak, aku hanya lapar ingin kebawah. Gerard tadinya memaksaku makan"
"Kalau begitu makanlah, kami tak akan mengganggumu"
Situasi hening seketika. Tapi Tiffany kembali teriak.
"HEI ****** BERHENTI MEMUNGUT PRIA-PRIA JALANAN LAGI YA! AKU TAK MENGIZINKAN SIAPAPUN MENINGGALI RUMAHKU!"
"Kau sendiri membawa anak itu dan tiba-tiba
menikahinya! Apa kau pikir aku tak tau alasan mu menikahi OB itu hanya karena kau mau mengambil perusahaan ayahmu sajakan! Bukan karena kau benar-benar mencintainya!"
Gerard tertegun diam. Benar yang dikatakan wanita itu.
"Hei ******! Jangan banyak bicara! Buktikan bahwa omongan mu itu benar!"
"Baiklah, aku akan temukan beberapa buktinya! Lihat saja nanti!"
"Baiklah, kalau begitu itu urusan nanti! Sekarang aku minta kalian berdua keluar dari rumahku! Sekarang!"
"Dasar anak kurang ajar! Semoga ayah dan ibumu menikmati nerakanya"
Tiffany mendekat pada Rita dan menampar Rita. Ia menamparnya berkali-kali.
"Berengsek! Katakan sekali lagi kubunuh kau!"
Tiffany berniat menjambak Rita. Tapi Rita menahannya sambil tertawa.
"Bunuhlah kalau berani" ejek Rita. Simon mendekati Rita dari belakang dan memeluk Rita yang sudah agak lemas.
"Sudah, lebih baik kita menikmati malam ini diluar" kata Simon. Disekitar situ, para sekuriti sudah berjaga-jaga.
Tiffany berniat mengejar Rita, namun tangannya ditahan oleh Gerard. Gerard menggendongnya secara tiba-tiba.
"Lepaskan aku! Lepaskan! Bodoh, lepaskan aku! Akan kuhabisi nyawanya! Kupatahkan lehernya!"
Gerard masih diam saja sambil menggendong istrinya ke kamar atas.
Saat mereka masuk kamar, Tiffany dibaringkan Gerard di ranjang. Namun Tiffany langsung berdiri. Gerard memblok pintu agar Tiffany tak dapat keluar.
Gerard masih diam. Tiffany tiba-tiba menampar Gerard.
Keadaan jadi hening seketika. Gerard yang mulanya menunduk, mulai mengangkat wajahnya menatap Tiffany.
"Pukul aku saja jika itu membuatmu senang" katanya sambil tersenyum.
Tiffany memukuli tubuh Gerard. Namun Gerard tetap tegap berdiri menutupi pintunya.
"Kau tak mengerti! Kau tak dengar apa katanya! Iya mengutuk orang tua ku! Aku harus membunuhnya Gerard!" teriaknya histeris.
"Iya aku dengar Fany, tapi sebaiknya jangan begitu. Bukan itu cara menyelesaikan masalah. Aku juga mengalaminya tapi tak sepertimu"
"Tentu karena kau bahkan tak lulus SD, makanya tak tau cara menghormati orang tua!" maki Tiffany.
Tiffany menangis lalu berbalik badan ke arah tempat tidurnya. Gerard memegang tangannya lalu menariknya. Didekapnya Tiffany seerat mungkin dengan badan besarnya.
"Lepaskan aku! Kau pikir kau siapa! Lepaskan aku! Huhuhu..."
Gerard terus memeluknya sambil berbisik ke telinga Tiffany.
"Orang tuaku pernah dikatai miskin oleh temanku saat kecil. Lalu ibuku berkata padaku, semuanya akan berjalan sempurna sambil memelukku seperti ini"
Tiffany pun mulai berhenti menangis tapi masih terdengar sesunggukannya.
"Kamu harus berbuat baik walaupun dijahati Tiffany. Mereka yang akan malu padamu"
"Aku tak bisa Gerrard! Ini sangat menyakitkan! Ayahku juga tak tau kata setia! Kenapa ia berani menikahi wanita lain saat aku sedang berduka karena kehilangan ibuku! "
Gerard mulai mengelus kepala hingga punggung Tiffany.
"Sst, ayahmu pasti berpikir itu yang terbaik Fany"
"Itu yang terburuk! Sekarang aku bahkan tak punya siapa-siapa"
"Sudah.. Semua akan baik-baik saja.. Ada aku disini"
Tiffany masih sesunggukan. Gerard memeluknya diatas lantai dekat dengan pintu kamar.
"Semua akan baik-baik saja Fany. Aku janji akan selalu menjagamu"
Tiffany masih membenamkan wajahnya di dada Gerard.
"Aku akan menjagamu. Aku janji" ulang Gerard
Tiffany lalu melihat wajah Gerard.
"Omong kosong"
"Tidak. Aku benar-benar janji menjagamu"
"Janji?" Tiffany menolehkan wajahnya ke Gerard.
Gerard tersenyum senang mendengar reaksi dari orang yang sedang dipeluknya itu.
"Janji"
Tiffany kembali membenamkan wajahnya dipelukkan Gerard. Dadanya yang bidang sangat nyaman dijadikan sandaran pelukan.
"Fany?"
"Hm"
"Apa kau tak mengantuk?"
"Hm"
"Apa kau mau tidur?"
"Hm"
"Baiklah"
Gerard menggendongnya keatas ranjang lalu mematikan lampu kamar Tiffany.
Tumben ia tak minta dilepaskan.
"Jangan mengira aku nyaman kau gendong terus"
"Ah. Hahahaha, tidak kok. Aku tak memikirkan apa-apa"
Gerard sedikit merapikan tempat tidur Tiffany.
"Sudah, tidur yah" lanjut Gerard sambil menarikkan selimut untuk Tiffany.
Saat Gerard mau beranjak dari tempat tidur Tiffany, tangannya ditahan. Gerard melihat lengannya yang sedang digenggam oleh Tiffany.
"Kau mau aku disini?"
"Hm"
"Baiklah"
Gerard duduk dilantai, meluruskan kaki dan menyenderkan punggung pada laci kecil dekat ranjang. Sedangkan Tiffany tidur di ranjang. Gerard terus memperhatikan wajah Tiffany saat tertidur dari samping.
Aku ingin terus menjagamu Fany. Tapi kontrakmu mengatakan yang lain. Aku akan menjagamu sebaik yang kubisa beberapa bulan kedepan. Aku janji Fany. Percayalah padaku. Apakah kamu mau mengubah perjanjian itu Fany? Aku mulai mencintai mu Fany. Aku sangat cinta kamu.
Malam mulai larut. Gerard pun terbawa suasana kamar yang hening dan gelap. Cahaya didapatkan dari luar jendela, dari sang bulan pengganti matahari. Ia pun mengantuk dan tertidur masih ditempatnya tadi. Malam yang panjang untuk mereka berdua. Mengingat sesama yatim piatu menyedihkan yang tak tau apa yang harus dilakukan kedepannya.