Him

Him
Pertemuan Pertama


Hari ini, Tiffany kerja seperti biasanya. Dia mengatur semua yang ada di perusahaannya agar menjadi lebih baik. Dia ingin melanjutkan apa yang telah dibuat ayahnya. Ia sedang sibuk mengurus file-file yang harus ditatanya agar beraturan.


TOK TOK TOK


"Iya silahkan" kata Tiffany dari dalam.


"Permisi Bu, sudah waktunya makan siang" kata Rika


"Masuklah dulu"


Lalu Rika masuk ke dalam kantor Tiffany yang tiga kali lebih luas daripada kantornya. Dia duduk di sofa yang empuk disitu.


"Ada apa Bu"


"Apa jadwalku hari ini?"


"Jadwal ibu selesai makan siang adalah meeting dengan perusahaan Iren Company, Bu. Tapi saya belum dapat kabar siapa yang mewakili"


"Baiklah, jam berapa lebih tepatnya?"


"Jam 13.00 Bu"


"Baiklah, terimakasih"


"Iya Bu, bukan apa-apa"


Keadaan hening seketika. Rika hanya melirik wajah atasannya yang sedang fokus pada file-file didepannya.


"Bagaimana keadaan dirumah?" Tanya Tiffany setelah meletakkan file terakhirnya.


Sepintas mendengar itu, Rika sangat bersemangat menceritakannya. Dia mulai bercerita dari ayah dan ibunya, adiknya dan pacarnya.


"Ibu sendiri apa tidak tertarik memiliki pacar?" Tanya nya penuh antusias.


"Hahaha, aku tak pernah sempat memikirkan itu"


"Nanti saya bantu cari Bu!"


"Emang gimana?"


"Pacar saya kan ada gitu Bu temennya, manatau ibu tertarik ya monggo"


"Sembarangan kamu" jawab Tiffany tertawa pelan


"Maaf Bu kan manatau" Rika menyengir sambil menggarukan kepalanya yang tidak gatal.


"Ya sudah ayo makan siang" ucap Tiffany sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Baik Bu"


Rika segera berdiri dari tempat duduknya, membukakan pintu untuk atasannya.


--


Waktu sudah menunjukkan 5 sore, sudah waktunya bagi dia pulang. Rika terus mengikutinya kemanapun dia berada. Rika pula yang mengantar dan menjemput Tiffany dari rumah. Sebenarnya, Tiffany punya mobil pribadi. Hanya saja dia malas menyetir.


Saat sampai dirumahnya, Rika segera turun membukakan pintu mobil Tiffany.


"Sudah kubilang aku bisa sendiri" kata Tiffany


"Hehe, anda kan atasan saya. Saya harus menghormati anda"


"Orang tuamu masih lebih diatas saya"


"Itu beda cerita Bu"


"Kamu ada saja jawabannya"


"Hehe maaf Bu"


Rika membungkuk pada Tiffany. Tiffany balas dengan senyumnya. Saat Tiffany masuk kedalam rumah, dia merasa aura neraka didalamnya. Dia melihat ibu tirinya sedang mengobrol dengan beberapa temannya. Ketika mereka bertatapan, Tiffany melihatnya dengan sinis. Dia sangat membenci ibu tirinya. Lalu, dia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


"Nona muda, permisi saya boleh masuk?"


"Iya bi"


"Nona, maaf sebelumnya. Anda dipanggil oleh nyonya dibawah"


Tiffany menarik napas panjang sambil menggeram.


"Baiklah, katakan padanya aku segera kebawah"


"Baik non"


Sekitar 3 menit berbaring, barulah Tiffany turun lagi menemui ibu tirinya itu.


"Tiffany, sayang sini dulu" panggil ibunya berpura-pura senang dengan anak tirinya itu.


"Apa" jawab Tiffany dengan malas.


"Ini, ibu ingin sekali kamu menikah jadi ibu datangkan pria nya"


Tiffany terkejut bukan main mendengar ibunya yang semena-mena menjodohkan dirinya. Bahkan ibu tirinya itu bukan siapa-siapa baginya.


"Haha, iya ini nona muda cantik. Anak saya sudah cukup umur. Dan anda kelihatan cocok karena sama-sama kelihatan cukup umur"


Kata ibunya si pria itu.


"Ha! Apaan! Dengar, tidak ada yang akan menikah disini kecuali kemauanku. Aku bahkan tak merasa kau ibu ku hei wanita tua!" Murka Tiffany pada ibu tirinya.


Lalu dia pergi keluar, membawa mobil ayahnya dan meninggalkan rumah. Tak lupa dia membawa kunci rumah, takut sewaktu-waktu ibu tirinya itu mengambil semua rumahnya.


---


"Hei Gerry, apa kau tak ada pekerjaan?"


Gerard menggeleng.


"Belikan aku 2 botol minuman alkohol, kita harus merayakan kekayaan atas hasil kerja kerasmu hahaha!" Tawa Lou bahagia.


Gerard tidak mempedulikannya, dia langsung keluar rumah membawa uang yang diberikan pamannya.


Ketika dijalan, ia melihat ke arah taman. Dulu, disana ia sering dibawa jalan-jalan oleh orang tua nya. Gerard terduduk sebentar di tepi taman tersebut, melihat orang-orang yang sedang bermain di taman itu. Ada beberapa anak kecil dan orang tua yang menjaga mereka bermain.


Ketika dia melihat ke arah serong kiri, dilihatnya seorang perempuan yang duduk seperti dirinya. Gerard memperhatikan perempuan tersebut beberapa menit. Sampai akhirnya ia melihat perempuan tersebut menunduk. Kepalanya menempel pada lutut yang ia peluk.


Lalu, perempuan itu berdiri dan berjalan kaki menuju arah ke sungai yang berada tidak jauh dari taman. Sungai tersebut ketika malam ditutup karena tidak ada yang mengawasi sungai itu. Gerard mengikutinya takut perempuan itu berpikir akan berbuat sesuatu yang tidak diinginkan.


Gerard pun mendekat pada perempuan itu.


"Hm, hei!" Sapa Gerard.


Perempuan itu tidak menyahut.


"Hei nak"


Perempuam itu tetap tidak menyahut.


Gerard mendekat pada perempuan itu. Ditepuknya bahu perempuan pelan.


"Siapa kau!" Kata perempuan tersebut.


Gerard terkejut. Dia sedikit melompat karena kagetnya.


"Harusnya aku yang bertanya, kamu siapa"


"Hei kau yang datang menyampariku"


"Baiklah, tapi kamu mengagetkanku"


Tiffany memutar bola matanya dan menghela napas.


"Baik, namaku Tiffany. Kamu sendiri?"


"Aku? Ger.. Gerry. Panggil saja Gerry"


"Ah, kau tak meyakinkan! Kau memberitahu namamu saja masih ragu!"


"Iya, namaku Gerry! Percayalah"


"Terserah"


Tiffany membalikkan badan dengan kesal menyandar pada pagar disitu.


Lumayan tampan lelaki ini. Huh! Daripada lelaki yang tadi. Dasar wanita tua menjengkelkan.


"Apa yang membuatmu kesini?" Tanya Gerard membuyarkan lamunan Tiffany.


"Hm, Apa urusanmu"


Tiffany sedikit terkejut.


"Kamu kenapa sih jutek banget"


"Iya emang aku jutek! Emang kenapa?"


"Hah iya deh iya iya terserah kamu"


"Bisakah kau berhenti menyebut kamu padaku, aku geli dengarnya"


"Tidak, aku tidak bisa. Mungkin kamu saja yang tak diajari sopan santun"


"Kau itu kenapa sih! Pergi sana!"


"Aku tak akan pergi. Takutnya kamu bunuh diri pula lagi. Bukan hanya polisi yang repot mengevakuasimu tapi aku juga"


"Bunuh diri apanya sih! Kenapa kau ikut repot?"


"Ya karena hanya aku yang jaraknya lebih dekat dengan kamu daripada orang lain. Aku pasti dipanggil sebagai saksi"


"Hei! Disini tuh tempat aku kecil dulu memancing dengan ayahku dan ibuku. Aku sedang bersedih dan mengenang orang tuaku makanya aku kesini"


Gerard mengerutkan dahinya.


"Aku turut berduka"


"Iya, tak apa. Sudah lama juga" Tiffany menghela napas dan melihat ke sungai itu.


"Aku juga dulu sering dibawa ayah dan ibuku kesini. Lebih tepat disana untuk bermain bukan memancing"


"Oh ya, benarkah?"


"Hahaha iya. Sepertinya kita lagi sama-sama bersedih"


"Haha, iya" sahut Tiffany dengan tawa.


Mereka pun bercerita sedikit lebih panjang padahal baru bertemu sekitar 10 menit yang lalu.


---