Him

Him
Persiapan


Hari-hari dilewati, ternyata sudah H-1 menuju pesta pernikahan. Padahal waktu sudah malam tapi Tiffany masih sibuk mempersiapkan pernikahannya dirumah. Ia sibuk menata semuanya bersama tukang-tukang yang ada. Ia juga menyewa beberapa designer untuk membantunya.


Selain Tiffany yang sibuk menata pernikahan, Gerard juga sibuk menyiapkan semua pakaian yang layak dipakainya saat dirumah megah nan mewah yang ia tinggali nanti. Ia sangat ragu dalam memilih pakaiannya sendiri. Sudah berapa jam ia di dalam semenjak pulang dari kerja.


Lou, paman Gerard, sangat kesal pada Gerard yang tak kunjung keluar kamar.


"Hei nak, apa yang kau lakukan" Lou datang berdiri bersender di depan pintu.


Lou kaget melihat Gerard yang sedang membenahi pakaiannya.


"Apa yang kau lakukan! Mau kemana kau!" Lou menggeram.


Gerard masih diam. Dan tetap memasukkan bajunya satu persatu kedalam kantong plastik yang ia punya.


Lou mendekat dan memukul kepala Gerard dengan kasar.


"Apa yang akan kau lakukan ********! Tinggal di kolong jembatan ha?!"


Kesabaran Gerard sudah di ambang batasnya. Dia berpikir akan segera pindah, jadi dia bisa melakukan apapun sesukanya pada pamannya. Ia berdiri lalu mencengkram kerah pamannya.


"Hei orang tua, aku tak akan hidup bersamamu lagi. Jadi silahkan jadi pria tak berguna sampai matimu" ucapnya menggeram agak berbisik didekat wajah pamannya itu. Ia lepaskan pamannya yang sedikit ketakutan dan mempercepat mengemas pakaiannya.


Setelah ia berkemas, ia lalu pergi meninggalkan pamannya yang masih terdiam di tempat Gerard mencengkeramnya tadi.


---


Gerard berjalan menuju rumah Tiffany sampai malam agak larut. Ia yakin rumah Tiffany sudah sepi. Saat didepan gerbang, ia diberhentikan oleh sekuriti.


"Hei, pemulung dilarang masuk"


Gerard hanya diam ditempatnya berdiri.


"Apa keperluanmu?" Tanya sekuriti itu.


"Aku calon suami Fany"


Dua orang sekuriti disitu tertawa mendengar Gerard. Mereka langsung menghubungi salah satu ART rumah Tiffany, yaitu bibi.


"Katanya ia calon suami nona muda"


"Siapa namanya?" Tanya bibi.


"Hei, siapa namamu?"


"Gerry" jawab Gerard datar.


"Katanya Gerry" kata sekuriti itu sambil melirik ke arah Gerard.


"Astaga, apa yang kalian lakukan. Dia memang calon suami nona muda! Cepat biarkan ia masuk!" Bentak Bibi.


Telepon ditutup.


"****** kita Ron" kata temannya  yang merupakan sekuriti juga yang dari tadi mendengarkan percakapan itu.


"Ya mana kutahu bentuknya seperti itu" jawab Roni, salah satu sekuriti.


"Ma-maaf tuan muda. Silahkan masuk, apa ada yang perlu dibantu?" Tanya David, sekuriti tadi.


"Haha, tidak, tidak perlu" jawab Gerard dengan sedikit tawa.


Hah, dasar emang aku saja yang miskin! Koper pun tidak punya, sampai dikira pemulung.


Kata hati Gerard sambil berjalan mengangkut barang bawaannya.


Saat sudah sampai, ia terkejut melihat rumah Tiffany masih sangat ramai orang bekerja sibuk mendekor untuk pernikahannya.


Tiffany yang disana berdiri, menatap Gerard yang tercengang dan sedang mengangkat plastik hitam yang terlihat berat.


Kenapa dia membawa itu sih. Apa dia tak memiliki koper satupun ya?


"Bi tolong beri tau pada Pak Mukhlis untuk membantunya. Angkat saja barang yang ia miliki ke kamar tamu" kata Tiffany sambil menunjuk ke arah Gerard.


"Baik non"


---


"Tuan, sini saya bantu"


"Eh tidak. Tidak perlu pak, tak usah repot-repot"


"Tapi ini permintaan nona muda tuan"


"Ba-baiklah kalau begitu. Iya pak, terimakasih"


"Iya tuan, sama-sama"


Gerard kagum dengan dekorasi yang begitu sempurna menurutnya. Tiffany berjalan mendekat padanya.


"Hei, bagus tidak?"


"Eh, ibu. Bagus bu. Bagus sekali"


"Berhenti panggil aku ibu, panggil aku apa saja yang nyaman didengar oleh orang saat kita menjadi suami istri"


Gerard berpikir sejenak.


"Sayang?" Kata Gerard sambil malu-malu.


Wajah Tiffany merah padam karena malu yang ditanggungnya setengah mati.


"Ih, bu-bukan seperti itu. Hah, panggil nama saja!" Ucapnya salah tingkah.


Keduanya tiba-tiba diam karena saling malu.


"Bu, maaf. Pernikahan kita berlangsung berapa lama?" katanya sedikit berbisik. Takut orang disekitar situ mendengar omongannya sendiri.


"5 bulan, lalu kita cerai. Dan omong-omong, karena kau nanti menjadi suamiku. Kau harus belajar mengatur karyawan-karyawan. Setelah itu kau akan turun jabatan dan berhenti dari pekerjaan mu di perusahaanku. Paham?


"Bahkan menjadi OB sekalipun?"


"Iya termasuk itu"


Gerard terkejut. Setelah 5 bulan, apa yang akan dilakukannya lagi? Artinya dia harus mulai menabung untuk nanti membeli rumah sendiri ataupun sewa rumah.


"Baiklah, apa kau paham?"


"Paham bu"


"Malam ini kau tidur di kamar tamu. Nanti akan ditunjuk oleh bibi"


"Baik Bu"


Persiapan itu pun masih berlangsung sampai esok jam 5 pagi.


---