Him

Him
Bekerja(3)


Saat sampai rumah, Tiffany sangat kelelahan. Ia terus berjalan kedalam rumah tanpa melihat ke sekelilingnya.


"Non"


"Ah, iya bi"


"Nona, apa nona mau minum susu? Nona terlihat sangat lelah"


"Ah, tidak juga bi. Tapi segelas susu mungkin bisa membantu memulihkan tenaga saya"


"Baik non, saya buatkan"


Tiffany lanjut masuk ke kamar. Ia meletakkan tasnya, lalu masuk ke kamar mandi. Dihidupkannya keran bath tub. Ia ingin sekali mandi air hangat. Setelah disegelnya suhu air, ia lalu masuk dan berendam agak lama sampai-sampai ia memejamkan mata.


Dipikirannya, jika ayahnya masih ada, mungkin ia tak akan kelelahan sekarang. Jika masih ada ibunya, mungkin dia masih dimanjakan bahkan disediakan baju tidur di kamarnya saat pulang. Tiba-tiba, dia memikirkan pernikahan yang diwasiatkan ayahnya.


Dengan siapa aku harus menikah, yah. Wasiat ayah sangat konyol. Aku bahkan tak berniat mendekat dengan seekor jantan dalam bentuk manusia ayah!


Gumamnya dalam hati sambil menenggelamkan sedikit kepalanya di air bath tub.


Tiba-tiba pikirannya mengarah pada Gerard. Seorang pria yang membuatnya salah tingkah tadi sore. Lalu mata dan hidungnya muncul lagi di permukaan air.


Ah, sebenarnya Gerry itu seperti apa. Aku selalu kesal dibuatnya padahal dia tak berbuat apa-apa yang salah.


Apa. Aku menikah dengan Gerry saja ya. Hanya dia laki-laki seusiaku yang ku kenal semasa aku kerja. Dia tampan, tampak berwibawa. Hah, senangnya menjadi istri yang memiliki suami seksi sepertinya.


Tiffany tiba-tiba terkejut dengan pemikirannya sendiri. Dia langsung duduk tegak.


Ah, tidak tidak! Apa yang kau pikirkan Tiffany! Kau urus dulu semua urusan perusahaanmu itu!!!


Setelah itu, Tiffany langsung menyudahi mandinya. Ia keluar kamar dan masuk ke ruang ganti. Ia memakai kaos lengan pendek dan celana panjang yang agak kebesaran. Ia turun dari kamarnya dan langsung ke dapur.


"Eh, nona sudah siap mandinya?"


"Sudah bi"


"Ini non, silahkan susunya"


"Haha, iya bi makasih"


Si nona muda ini pun langsung menyeruput susunya pelan-pelan.


"Nona, apa tidak sekalian makan?"


"Hm, tidak bi. Aku kenyang. Terimakasih Bi susunya"


"Hahaha iya non sama-sama"


"Aku kembali dulu ke kamar ya Bi, aku ingin tidur"


Tiffany pun kembali ke kamarnya. Ia tak mengetahui bahwa ibu tirinya tak ada dirumah. Ia bahkan tak peduli dengan keberadaan wanita itu. Setelah dikamar, Tiffany langsung berbaring dan menarik selimut. Ia memainkan HP nya hanya melihat sosial media. Tak berapa lama kemudian, ia merasa ngantuk dan tertidur.


Berbeda dengan Tiffany yang hidup dengan mudah, Gerard selalu ditemani oleh masalah.


"Hei, Gerry! Darimana saja kau seharian ini!"


Gerard yang baru masuk ke dalam rumah hanya diam dan menunduk.


"Hei anak muda! Kalau ditanya jawab!"


"Aku membantu orang bersih-bersih" jawab Gerard bohong


"Ha? HAHAHAHHAAH"


Pamannya tertawa sangat keras.


Tertawalah sampai puas. Tertawalah sampai mati.


"Kau jangan bercanda! Untuk apa kalau tidak dapat uang! Lebih baik kau disini, menunggu para ****** datang. Kau hanya perlu memuaskan nafsu mereka Gerry! Mereka suka, kau pun pasti suka! Hahhaah"


"Tidak, aku tidak mau"


Kali ini Gerard menatap pamannya tajam.


PRANG!


Suara botol alkohol pecah dari tangannya.


"Apa! Kau berani melawanku ya!"


Gerard masih terdiam. Bukan karena ia takut, ia malas berbicara pada pamannya karena dia pikir sia-sia adu mulut dengan orang mabuk yang gila.


Gerard hanya mengandalkan dendam batinnya saja.


"Hei binatang! Lihat aku! Kau harusnya beruntung ayah dan ibumu tak ada! Kau bisa mendapatkan uang dengan cara lebih gampang dasar bodoh!"


Gerard langsung menatap pamannya tajam. Ia mendekat pada pamannya itu.


"Apa! Kau mau berkelahi denganku?!"


Pamannya pelan-pelan mundur, karena ia sendiri takut pada Gerard. Gerard, anak yang tingginya lebih hampir 15cm darinya, berbadan kekar, bisa-bisa ia mati dihajar anak itu.


Tiba-tiba Gerard tersadar, jika ia melawan pada pamannya itu, ia harus pindah rumah lain. Walaupun rumah pamannya ini sangat tidak layak huni. hanya berupa ruli, tapi ia bersyukur punya tempat berlindung. Sekarang posisinya, ia tak memegang uang sama sekali. Hasil kerja nya bersama wanita-wanita ****** diambil pamannya. Dia hanya mendapatkan 30% dari hasilnya. Itu yang ia tabung jikalau ada yang perlu.


Malam itu pun, Gerard mengabaikan pamannya dan langsung berbaring di kamar. Ia sangat lelah secara fisik dan batin.


--