Him

Him
Sibuk


Seharian, Rika melihat Gerard bolak balik masuk ruangan Tiffany. Bahkan atasannya, Tiffany, tidak mau dijemput hari ini. Mereka seperti sibuk sekali berdua. Saat mau turun ke lantai 2, ia tak sengaja berpapasan dengan Gerard. Ia melihat wajah Gerard yang benar-benar kelelahan. Wajahnya seperti kurang tidur.


"Hei" panggil Rika.


Gerard belum menyahut.


"Hei tuan Gerry"


"Ha? Iya maaf ada apa?" Gerard mencari sumber suara tersebut yang ternyata berada disampingnya. Walaupun Rika termasuk wanita tinggi karena tinggi nya 170cm, tetap saja Gerard jauh lebih tinggi daripada Rika.


Rika menarik Gerard ke tempat yang agak sepi di ruangan karyawan itu. Ia menarik Gerard menepi dari tengah-tengah ruangan agar tak menjadi perhatian karyawan lainnya.


"Kau sebenarnya ada urusan apa dengan ibu bolak balik ke ruangannya? Jangan melakukan yang aneh-aneh pada ibu! Awas saja kau"


Gerard bingung harus jawab apa. Ia takut atasannya tidak senang jika satu perusahaan tau bahwa dirinya akan menikah dengan pewaris perusahaan.


"Tidak kok tidak ada. Ibu hanya minta kantornya sedikit dibersihkan dan ditata lagi"


Rika yang awalnya sangat penasaran jadi sedikit tidak tertarik dengan apa yang didengarnya.


"Oh begitu ya, syukurlah kalau begitu" Rika mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa kau penasaran?"


"Tentu aku penasaran. Kau karyawan baru disini, tapi sudah bolak-balik masuk ke ruangan. Aku tentu takut kau melakukan yang tidak-tidak ke ibu!" bisiknya agak keras.


"Tidak, tidak. Kenapa prasangka mu sangat buruk terhadapku sih"


"Hei, zaman sekarang tidak ada yang bisa dipercaya tau! Walau kau teman dari pacarku"


Gerard hanya tertawa kecil mendengarnya.


"Oke,oke, baiklah. Aku juga tak berpikir mau melakukan sesuatu pada ibu"


"Baguslah kalau kau begitu. Apa kau akan kembali ke ruangan ibu?"


"Iya, ibu memerlukanku untuk melakukan sesuatu"


"Baiklah, lakukan yang terbaik"


Gerard mengangguk.


Rika meninggalkan Gerard lebih awal. Mereka pun berjalan ke arah tujuannya masing-masing.


---


"Mana Gerard ini sekarang, huft. Aku frustasi menunggunya. Tadi katanya sebentar. Ini sih sudah 10 menit dari kata sebenarnya itu!" gumam Tiffany kesal sambil mengetuk-ngetuk meja kerjanya.


TOK TOK TOK


"Masuk"


"Permisi Bu"


Tiffany melepas kesalnya dengan menghela napas.


"Darimana saja kau, aku menunggumu katamu sebentar"


"Maaf Bu, saya tadi berhenti dulu. Ada yang bertanya pada saya"


Tiffany tak tertarik untuk mengetahui siapa yang bertanya pada Gerard.


"Ayo, kita harus mengurus beberapa persiapan untuk kita nanti. Apa kau bisa bawa mobil?" sambil mengambil ponsel dan tasnya.


Gerard malu menjawabnya. Jadi ia hanya menggeleng.


"Huft baiklah, aku yang membawanya. Dua hari kedepan, kau harus belajar naik mobil. Ikuti kursus nya" perintah Tiffany.


"Tapi Bu, saya tak ada uang untuk khursus mobil. Bahkan saya tak punya kendaraan apapun" Gerard sangat malu mengakuinya.


"Tak apa, kau pakai saja mobilku. Gunakan untuk latihan. Saat kerja, datang saja keruangan ku untuk minta kunci mobilku"


"Baiklah Bu"


"Ya sudah, ayo pergi"


Mereka pun segera pergi dari ruangan itu.


Saat turun ke lantai satu, Rika melihat atasannya sedang dibuntuti oleh seorang OB. Karyawan-karyawan disitu membungkuk seraya bingung kenapa bisa OB itu didekat atasan mereka.


"OB nya ganteng sih"


"Iya, ternyata ibu sendiri memiliki tipe yang berkualitas"


"Orang kaya bisa punya semua"


Bisik-bisik akuntan disitu. Rika yang mendengarnya langsung panas.


"Hei! Jaga bicara kalian! Beraninya kalian menghina ibu di depan saya!"


Ucap Rika tegas.


"Eh, ma-maaf Bu. Kami minta maaf"


Akuntan-akuntan itu lalu ketakutan dan kembali ke tempatnya seharusnya.


Rika memperhatikan Tiffany lalu mengejarnya.


"Bu!"


Tiffany menoleh kebelakang diikuti Gerard.


"Ada apa?"


"Tidak ada, aku mau ke tempat yang menjual gaun pernikahan" ucap Tiffany keceplosan.


"IBU MAU MENIKAH?" Tanya Rika kaget.


Wajah Tiffany memerah karena malu. Gerard juga terdiam dan menunduk ikut malu.


"Hih jangan seperti itu, nanti satu perusahaan heboh tau. Aku bahkan belum menyiapkan apa-apa untuk ini" Kata Tiffany berbisik.


Rika mengangguk-angguk pelan.


"Ba-baik bu, maaf"


Tiffany dan Gerard langsung masuk kedalam mobil meninggalkan Rika yang masih terkejut dengan berita yang didengarnya.


---


Mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke satu tempat lainnya yang berhubungan dengan persiapan pernikahan mereka. Mereka berhenti di toko baju pernikahan.


Saat mereka masuk, Tiffany melihat-lihat gaun pernikahan disitu. Ia dulu sangat menginginkan gaun pernikahan yang sempurna, simpel tapi elegan. Ia ingin berkesan biasa namun mewah. Ia memilih warna abu-abu dan putih, warna favoritnya.


Dilain sisi, Gerard juga melihat pakaian untuknya. Ia melihat model-model pakaiannya sekaligus harganya yang sudah tak heran lagi dengan tipe orang seperti Tiffany.


Kenapa tak cari yang serba murah saja? Lagian kan kami menikah hanya sekali. Toh tak dipakai lagi selanjutnya. Dasar orang kaya.


"Hei, kau sudah menemukan yang bagus?"


"Ehm, belum Bu"


Tiffany menyenggol Gerard.


"Jangan panggil aku ibu!" bisiknya.


"Eh, iya maaf"


Tiffany pun melihat-lihat pakaian disitu.


Sebenarnya ia memakai apa saja juga cocok. Ah, ini dan ini. Pasti dia sangat tampan memakainya hihihi.


Tiffany mengambil dua macam pakaian yang dipikirnya tadi cocok untuk calon suaminya.


"Ini, mari coba ini dan ini" ajak Tiffany sambil mengulurkan kedua pakaian tersebut.


Gerard pun masuk kedalam ruang ganti dan Tiffany menunggu diluar ditemani oleh seorang pelayan yang memegang buku model Guan wanita.


Lalu beberapa saat kemudian, Gerard keluar. Pelayan itu langsung melihat ke arahnya.


Wahhh, tuan ini tampan sekali. Cocok dengan nona ini yang cantik. Mereka sangat cocok berdua! Bagaimana nanti anaknya ya..


Dalam hati salah satu pelayan wanita disitu.


Tiffany sendiri terkejut dengan Gerard. Ia melotot lalu berusaha menyadarkan dirinya.


"Bagaimana?" tanya Gerard sambil sedikit merapikan pakaiannya.


Tiffany bangun dari duduknya, berjalan ke arah Gerard, merapikan dasinya sambil menjinjit sedikit dan mengarahkan Gerard ke kaca.


"Sempurna" kata Tiffany.


Mereka berdua menatap ke kaca itu beberapa menit.


"Apa kamu tak mencoba gaunmu?"


"Hahaha, tidak. Aku ingin jadi kejutan bagi diriku sendiri"


"Kejutan ya"


"Ingat! untukku! bukan untukmu!"


"Haha iya Fany"


Tiffany menjauh dari situ membiarkan Gerard berkaca sebentar. Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya dan diam-diam memotret Gerard dari jauh.


Uuuu tampan sekali calon suamiku!!!


"Aku beli ini, dan gaunnya yang tadi kupilih"


"Baiklah nona, bayarnya di kasir nona"


Saat mereka di kasir, Tiffany membuka dompetnya berisi banyak sekali kartu ATM miliknya. Gerard hanya melihat tepat dari belakang Tiffany.


Hahaha, sudah tak heran lagi.


"Cash atau kredit nona?"


"Cash. Oh iya, bisakah kalian mengantarnya besok saja. Ini kartu alamat ku"


Kasir tersebut mengecek kartu itu sebentar.


"Baiklah nona"


"Ini tambahan sebagai upah mengantarnya"


Gila, ini seperempat dari harga gaun tadi malah.


benak si kasir.


"Baik nona, senang bisa melayani anda"


Mereka pun pergi dari toko itu.


---