
"Gerry, jangan bersedih terus.. biarkan orang tuamu beristirahat dengan tenang" kata seorang wanita menenangkan seorang anak yang terus menangis.
"Siapa yang akan memberi dia tempat tinggal?"
"Haduh, malangnya anak ini"
"Bagaimana kalau kita titipkan di panti asuhan?"
"Aku pikir itu ide bagus, tapi aku malas mengurus data-data segala"
"Yah bagaimana lagi. Lagian tak mungkin pakai data, kita hanya tetangga kok"
"Aku yang akan menjaganya" kata seorang pria paru baya. Terlihat bahwa dia orang yang berantakan.
Wajahnya dipenuhi jambang jenggot. Tegap dan sangat tinggi namun lusuh. Memakai topi berwarna hitam keabuan.
"Haduh, aku kurang yakin dengan orang ini" bisik seorang lelaki pada tetangganya.
"Sudahlah, daripada kita yang repot"
"Maaf anda siapanya Gerry ya?"
"Aku pamannya" jawab pria itu.
Anak kecil yang masih menangisi kuburan ayah ibunya tersebut masih meratapi keadaan yang terjadi.
"Ibu, ayah, ka-kalian meninggalkan a-a-aku lagi.." katanya sesenggukan masih menangis.
Pria itu mendekat ke anak tersebut dan memegang bahunya. Anak lelaki itu melihat siapa yang memegang bahunya.
"Sudahlah jangan menangis. Kau bisa bersamaku setelah ini" kata pria itu sambil tersenyum.
Pria tersebut mendekat dan memeluk anak tersebut.
"Sudah Gerard, semuanya baik-baik saja.." kata pria tersebut menenangkan anak itu.
---
PLANG!
Suara botol pecah
"Hey, Gerry! Mana balasan mu selama ini! Kau sudah ku asuh sebaik mungkin! Sudah kuberi makan, mana tanda terimakasih mu!" Teriak pria tua dari dalam rumah.
BUK!
Suara orang terjatuh.
Tau begitu aku juga tak akan mau tinggal bersamamu paman
Gumamnya.
Darah menetes dari ujungn bibirnya. Dia menyatukan alisnya tanda tak senang diberlakukan demikian.
"Apa! Kau berani melawanku?!"
"PERMISI, APA ADA ORANG DISANA?" Panggil seorang wanita dari luar rumah.
Tiba-tiba suasana hening.
"Aku akan membukanya" kata anak itu lalu berdiri berpegangan gagang pintu dibelakangnya. Lalu keluar dari kamarnya.
Dia berjalan terpopoh menuju pintu depan, mengusap darahnya dan merapikan sedikit rambutnya.
Ketika akan bukakan pintu, dia melihat dulu siapa yang di depan lewat jendela. Ternyata hanya seorang wanita tua berpakaian seksi yang merupakan tetangganya.
"Oh, baiklah terimakasih bibi" jawabnya dengan senyum tipis.
"Jangan panggil aku bibi dong! Aku jadi merasa tua lho" kata wanita sambil tertawa menutup mulutnya sambil memukul pelan bahu Gerard.
Tapi kan, emang kau sudah tua.
Pikir Gerard.
"Panggil aku Lili, mengerti?"
"Hm, baiklah. Terimakasih"
"Hei Lou! Keponakanmu sungguh menggoda!" Teriaknya pada paman Gerard yang berada di dalam
"Oh iyakah? Hahaha, baguslah!" Sahutnya dari dalam
"Baiklah, aku pergi dulu Lou!"
"Terimakasih!" Jawabnya.
Ya ampun anak itu sudah besar saja. Badannya huu sangat menggoda, bulu kudukku bergidik melihat rahangnya!
"Hei, apa kau dengar kata wanita tadi?" Kata Lou, paman Gerard.
Gerard hanya mengangguk.
"Kebiasaan tak bicara, sama seperti ibumu! Omong-omong, kau bisa menjual perjakamu pada wanita haus nafsu lho!" Tawar pamannya sambil tertawa bahagia seolah mendapat ide yang sangat brilian.
Gerard hanya diam dan menunduk.
---
"Hah! Kau pandai sekali Gerard, terus masukkan sayang. Ahhh!!!"
Gerard terus menghujamkan wanita tersebut tusukan-tusukan kenikmatan. Dan sampailah pada klimaksnya, keluarnya benih-benih persatuan antara dua manusia berbeda jenis kelamin tersebut.
Gerard kelelahan dan berbaring disamping perempuan tersebut.
"Permainanmu sungguh nikmat sayang, teruslah melakukannya aku sangat menyukainya"
Wanita tersebut lalu menimpa Gerard dan mulai menjilati dada bidang Gerard.
Gerard membalas dengan menarik rambut wanita itu kasar lalu mencumbunya kasar. Dilanjutkan Gerard memainkan pucuk payudara wanita itu dan menggigitnya kasar.
"Ahhh! Sayang! Pelan-pelan, ah sayang.." desah wanita itu. Gerard pun berhenti karena lelah.
Setelah mengetahui Gerard tertidur, wanita itu kembali berpakaian. Sebelum pergi dari kamar itu, ia mengecup ubun-ubun Gerard lembut. Lalu dia beranjak dari kamar dan memberi bayaran pada Lou.
"Pelayanan anak itu sungguh hebat! Kau harus bangga, hahaha" kata wanita itu.
"Aku tau, dia hebat ahhaahha" jawab Lou.
Setelah wanita itu pergi, pamannya masuk ke kamar Gerard.
"Aku tau kau belum tidur Gerry, tapi berbanggalah karena pelayananmu menyenangkan!" Kata pamannya tertawa.
Gerard diam, menutup wajahnya dengan bantal.
Ayah, ibu, maaf aku membuat kalian malu.. aku tak menghargai diri seorang perempuan
---
✨