Him

Him
Perjanjian


Gerard terkejut dengan apa yang dikatakan atasannya itu. Tiffany pun jadi sedikit malu dengan perkataannya sendiri. Tapi Tiffany tetap memasang raut wajah tegas agar pria itu mematuhi keinginannya.


Keadaan masih hening. Tiffany tak tahan dengan situasinya lagi.


"Jika kau tak mau tak masalah, aku akan mencari yang lain"


Deg


"Ti-tidak Bu, saya bersedia" jawabnya masih dengan rasa terkejut.


Tiffany senang namun ragu dengan itu. Tapi Tiffany tetap melanjutkannya.


"Baiklah, ini ada kontrak yang harus kau tanda tangani untuk menerima uangnya. Kau harus mematuhi syaratnya"


Tiffany menyodorkan map berisi perjanjian. Gerard berdiri lalu menerima map itu. Ia membukanya dan membacanya satu persatu. Ia melihat angka yang sangat banyak.


Gila! Gajianku saja sudah sangat banyak. Ini benar-benar dikali tiga!


Lalu ia matanya tertuju pada tulisan syarat.


Syarat-syarat yang harus dipatuhi pihak pertama:



Menjadi suami yang sopan dan baik.


Tidak meminta pihak kedua sebagai istri untuk melayani kemauan pihak pertama.


Tidak melakukan kontak fisik apapun terhadap pihak kedua.


Pihak pertama akan tinggal dirumah pihak kedua.


Perjanjian ini akan berakhir ketika pihak pertama tidak mengikuti syarat-syarat yang diberikan.



Ah, dia tidak mau ada kontak fisik yah. Yang berarti aku harus menjaga jarak dengannya. Baiklah.


Gerard mengambil pena dan menandatangani perjanjian tersebut. Lalu, ia memberi kembali map itu kepada Tiffany.


"Aku mau kau nanti malam kerumahku. Apa kau tau rumahku?"


"Maaf Bu, saya tidak tau"


"Baiklah, apa kau punya nomor hp?"


Gerard menggeleng menatap Tiffany.


Hah, masa handphone saja tak ada.


"Baiklah, ini alamatku. Malam ini, kau kerumahku. Bilang saja pada sekuriti kau pacarku" ucap Tiffany tegas namun cepat.


Gerard melihat kartu alamat Tiffany dengan seksama. Dia menyadari bahwa alamat tempat tinggal Tiffany adalah tempat hidup orang kaya. Dia tidak heran lagi apalagi Tiffany merupakan pewaris perusahaan. Setelah urusannya dengan Tiffany selesai, dia langsung keluar dari ruangan Tiffany.


---


Aduh, aku mau kemana ini. Aku tak mau bertemu dengan orang tua sialan itu.


Gumam Gerard saat membereskan ruangan OB.


"Apa aku mandi saja ya, lalu menunggu malam tiba ditaman. Iya, itu keputusan terbaik"


Setelah pulang, Gerard memutuskan beristirahat sebentar di taman. Ia sebenarnya ingin tidur, tapi demi perjanjiannya dengan atasannya dan uang. Ia ingin meninggalkan pamannya secepat mungkin.


Berjam-jam ia menunggu malam tiba. Hari sudah menuju petang. Dia berpikir langsung berjalan saja dari taman ke rumah atasannya. Toh, dia jalan kaki pasti akan memakan waktu lama.


---


"Nona, ada tamu di depan"


Kata Bibi di depan kamar Tiffany.


"Benarkah? Baiklah bi"


Bibinya pun turun dari tangga agar menyiapkan hidangan untuk tamu itu.


Hish, ini masih jam 6. Apakah ia tak mengerti kata malam?


Tiffany memakai dress selutut dengan lengan pendek dan polosan warna dongker. Setelah menuruni tangga, ia segera ke ruang tamu. Pria tinggi menjulang yang berotot itu sedang menunggunya sambil berdiri.


"Malam bu" sapa Tiffany


Tiffany agak gugup melihatnya. Ia hanya memakai kaos, jaket kulit dan jeans yang agak beggy. Dan juga sepatu biasa ia bekerja sebagai OB di perusahaannya.


"Katamu kau akan memanggil Fany jika diluar kerja" gerutu Tiffany.


"Hahaha, saya tak berani Bu" kata pria itu seraya tertawa kecil.


Ternyata itu Gerard. Gerard sendiri dari tadi mengedarkan pandangannya pada ruang tamu Tiffany yang kesannya elegan.


"Ini non minumannya"


"Terimakasih Bi"


"Tuan, ini minumnya, silahkan"


"I-iya bi, terimakasih"


"Saya permisi dulu"


Gerard tak pernah dilayani seperti itu. Dia jadi grogi sendiri.


"Hei nona muda, siapa yang datang" kata ibu tirinya dari belakang.


Suasana hening seketika. Tiffany malas meladeni wanita tua dibelakangnya itu.


"Apa kau berniat menikahinya. Hahahhaa" lanjut ibu tirinya.


Gerard jadi bingung dengan suasana disitu. Awalnya ia berpikir Tiffany mengkontraknya karena takut dijodohkan dengan pria berkelas brengsek ataupun pria berkelas yang jelek. Sampai sekarang pun, ia masih berpikir begitu.


"Ayo, pergi dari sini" kata Tiffany.


"Baik Bu" jawab Gerard sigap.


Padahal aku mau minum kopi itu. Aku sangat haus.


Kata Gerard dalam hati.


---