
Setelah wawancara dilakukan, mereka bertiga sedang berada di ruangan Tiffany. Rika dan Gerard duduk di sofa sedangkan Tiffany duduk di meja kebesarannya.
"Rika, tolong persiapkan segera acara untuk pelantikan ku. Aku ingin acaranya besok namun pestanya malam ini"
Aku lelah sekali ya ampun.
Gumam Rika dalam hati.
"Apa tidak besok saja bu sekalian dengan acara pelantikannya"
"Tidak, saya mau malam ini juga"
Rika tetap memasang wajah serius menerima apa yang dikatakan Tiffany padahal sebenarnya ia tak setuju pada keputusan atasannya itu.
"Baiklah Bu"
"Baiklah, mohon keluar. Ada yang perlu saya bicarakan dengan Gerard secara empat mata"
"Baik Bu, saya permisi dulu"
Tiffany menganggukan kepalanya. Mereka menunggu Rika sampai benar-benar jauh dari ruangan Tiffany. Keadaan hening seketika.
Saat dirasa Tiffany Rika sudah mulai agak jauh, barulah ia angkat bicara.
"Hei Ger"
"Iya Bu"
"Jangan panggil aku ibu"
"Eh iya maaf Fany"
"Aku mengangkat mu sebagai bos dibagian lantai 3 di perusahaan ini"
Gerard terkejut bukan main. Ia kaget karena ia tak memiliki pengalaman apapun. Bahkan sekolah saja ia tak tamat.
"Ta-tapi"
"Jangan tapi-tapian. Kau mau atau tidak?"
Gerard diam sejenak.
"Kalau kau mau, gajimu akan bertambah belum termasuk degan gaji yang ku janjikan dalam perjanjian. Jadi cocok untukmu bertahan hidup setelah bercerai denganku 5 bulan ke depan"
"Tapi aku belum siap Fany, latar belakangku tidak pantas mendapatkan jabatan itu"
"Sudahlah, terima saja! lagian tugasmu hanya mengatur-ngatur orang. Lakukan saja yang terbaik menurutmu. Tak usah banyak pikir. Paham?"
Gerard masih diam. Tiffany bangkit dari duduknya lalu mendekat ke Gerard.
"Baiklah, deal. Sepakat" Ia menarik tangan Gerard lalu menyalimnya.
Gerard terkejut lagi dengan keputusan Tiffany yang seenak-enaknha dibuat sendiri.
"Tapi bagaimana dengan yang lain? bagaimana jika mereka tak senang dengan kehadiranku"
"Siapa yang berani denganku? Aku pemilik perusahaan ini kok"
Ah iya, dia tuannya. Dia pemiliknya, Dia bosnya. Semua terserah padanya.
"Mau atau tidak?!" Tiffany meninggikan suaranya.
"Baik non"
"Tapi kalau sampai hancur, siap-siap kamu gantinya" seringai jahat disenyum Tiffany
Aku yang tak mau, aku yang dipaksa, aku juga salah. Huft, sabar Gerard. Kau seorang Gerard Antonio. Lagian kau bisa apa tanpa perempuan ini.
Tiffany kembali ke tempat duduknya.
"Fany, aku mau menemui Kyle ya"
"Ya pergilah" jawabnya acuh.
"Baiklah"
Gerard pun keluar.
"Huft, aku merasa seperti suami takut istri sekarang" gumamnya.
---
"Wah, si pengantin baru datang" kata Ryan melipatkan tangannya kedepan.
"Kau kenapa Ryan" jawab Gerard sambil tertawa.
"Lihatlah, dia sangat tampan dan rapi sekarang dengan jasnya"
"Hei apa kabarmu kawan" tanya Anton.
"Baik, dimana Kyle?"
"Ada di dalam tuh, sedang membereskan barang-barang"
Gerard pun menemuinya kedalam.
"Kyle?"
"Oh hei nak" Kyle menghentikan kegiatannya.
"Baik Kyle, kau?"
"Tentu baik juga, ayo bicara diluar" ajak Kyle.
Mereka berempat duduk di kursi di lorong ruangan itu. Mereka mengobrol bersama dan bercanda-canda. Tiba-tiba ponsel Kyle berdering.
"Hei nak, kurasa ini untukmu"
Saat Gerard melihat ponsel Kyle yang sudah jadul itu, nomor nya tak tertulis nama.
"Hm halo?"
"Halo halo! Kau merepotkan sekali. Kau harus memiliki ponsel mulai sekarang!"
"I-ini siapa?"
"Siapa lagi! Ini istrimu tau!"
"Ah.. iya maaf"
"Ayo, ini sudah waktunya makan siang"
"Ba-baiklah. Aku segera menyusul"
"Dikantin ya"
"Iya, baiklah"
"Uww, baru pergi sebentar sudah dicari istrinya" ejek Ryan.
"Hahaha, kau Ryan. Ayo Gerry semangat!" sahut Anton.
"Hahaha, kalian taunya mengejek saja. Kyle, terimakasih ponselnya. Aku pergi dulu ya" Gerard melambai-lambaikan tangannya ke arah temannya sambil berlari.
"Iya nak, sama-sama" jawab Kyle agak teriak.
Teman-temannya tersenyum-senyum dan membubarkan diri.
Ia terus berlari kedepan resepsionis. Ia bertanya pada para akuntan disitu.
"Permisi, apa kalian melihat Tiffany lewat sini?"
Salah satu dari mereka matanya berbinar-binar dan langsung berdiri.
"Ah, i-iya pak. I-ibu sudah lewat disini tadi"
"Ke-keluar dari sini, belok ke ki-kiri pak"
"Baiklah, terimakasih ya! Semangat kerjanya!
Gerard kembali berlari keluar.
Akuntan itu masih berdiri memandangi suami tampan milik Tiffany itu. Dia menepuk-nepuk temannya yang masih duduk disampingnya karena tak sadar siapa yang tadi bertanya.
"Apa sih" tanya temannya.
"Si-sini lihat" katanya lagi tanpa memalingkan wajah dari pemandangannya yang menurutnya sangat mengenakkan hati.
"Apa"
Ditunjuknya Gerard yang sedang berhenti mau berbelok ke kiri.
"Uwwwww, Tuan Tampan"
"Tadi dia menyemangatiku! Sepertinya ia jatuh cinta padaku!"
"Hei nona, jangan bermimpi, dia sudah menikah dengan atasanmu!"
"Ah kau merusak haluku saja dasar teman jahat"
Dilain sisi, Tiffany sudah duduk bersama Rika di kantin.
"Hei Rika, ponsel apa yang baru saja keluar?"
"Ponsel merk C Bu"
"Baiklah"
"Bu saya pesan makan dulu ya"
"Aku pesan dua porsi nasi goreng ya"
"Baik Bu"
Rika beranjak dari tempat duduknya yang tepat di depan Tiffany.
Gerard datang dari belakang Tiffany.
"He-Hei" katanya sambil berusaha mengatur napas pelan-pelan.
"Darimana saja dirimu"
"Hanya menemui Kyle"
"Huft, duduklah"
Gerard memilih duduk di depannya, ditempat Rika tadi.
Saat Rika kembali, dia sedikit kesal karena tempat duduknya diambil oleh Gerard. Tapi ia tetap lanjutkan langkahnya. Akhirnya ia duduk disamping Tiffany.
"Permisi Bu, ini pesanannya"
"Iya Bu"
Makanan pun dihidangkan. Baru kali ini Tiffany makan bersama di kantin. Terakhir kali ia ke kantin ketika ia masih magang dan bersama ayahnya. Karyawan-karyawan yang menyadari keberadaannya semua menyapanya.
"Gerard pulang ini kita ke Mall di kota pusat ya"
"Baiklah"
Apa ibu mau beli ponsel ya. Wah, orang kaya memang bebas.
"Rika, tolong atur pesta nanti malam di restauran kita. Saya serahkan semua padamu"
Rika segera tersadar dari lamunannya.
"Siap bu"
Mereka pun melanjutkan makan siangnya.
---
Mereka dalam perjalanan ke mall sesuai dengan permintaan Tiffany tadi. Gerard bolak balik memperhatikan Tiffany yang sibuk mengotak atik ponsel. Namun ia tetap fokus mengendarai mobil Tiffany. Sadar sedang diperhatikan Tiffany pun memalingkan wajah dari ponselnya.
"Apa lihat-lihat"
"Ti-tidak Fany. Aku hanya penasaran kenapa kamu asik sekali bermain ponsel itu"
"Asik apanya. Aku hanya menghilangkan rasa bosan. Lagian pula, disini juga banyak yang membosankan"
"Contohnya?"
"Grup percakapan kantor"
"Oh. Hahaha. Sudah kewajiban kamu sih"
"Tidak, ini kewajiban direksi harusnya. Aku hanya mengatur saja"
"Oh begitu ya"
Tiba di lampu merah. Keadaan menjadi hening.
Apa yang perlu kutanyakan lagi ya. Keadaan hening begini malah membuatku canggung sendiri
Gumam Gerard dalam hati.
"Fany, apa yang akan kamu lakukan ke mall?"
"Ya suka aku dong"
"Baiklah kalau begitu"
Ah jadi hening lagi.
Aduh, aku jadi merasa tidak enak. Pasti maksudnya tadi menghilangkan keheningan ini.
"Aku mau mencari pakaian untuk besok"
"Oh, memang ada apa esok?"
"Pelantikan ku sebagai pemilik perusahaan sah dan pelantikanmu sebagai bos dibagian A"
"Oh begitu ya"
"Pulang dari sini aku mengadakan pesta di restauran ayah"
Pantas saja kaya, ayahnya memiliki hampir segalanya.
"Baiklah"
Mereka pun sampai di mall yang Tiffany inginkan. Saat turun, Gerard melihat seorang wanita tua susah berjalan menggunakan tongkatnya. Lalu ia tersandung dan jatuh. Dengan sigap Gerard berlari ke arah wanita tua itu. Tiffany yang melihat situasinya mengeluarkan ponselnya.
Cocok jadi story nih hihi.
Tiffany merekam kejadian itu. Lalu ia buat di sosial medianya dengan kata-kata yang disisipkannya.
"My Lovely husband UwU"
Gerard kembali dari menolong wanita tua itu kepada Tiffany.
"Maaf, kasihan"
"Iya, aku tau. Ayo"
Mereka lanjut ke dalam mall.
Disana Tiffany membelikan Gerard HP keluaran terbaru seperti yang Rika katakan tadi. Gerard sangat senang dan berterimakasih pada Tiffany. Setelah itu, mereka membeli pakaian lalu mereka pun kembali kerumah dan mempersiapkan diri ke pesta.