
"Pergi kau laki-laki brengsek!" Pekik Tiffany.
"Beraninya kau mengusir pacar ku!" Jawab ibunya.
"Wanita gila! Keluarkan dia! Cepat!"
Pagi-pagi keributan sudah dimulai. Memang sudah biasa pemandangan ibu dan anak ini berkelahi sepagi ini. Apalagi kalau ada seorang lelaki tak dikenal Tiffany dalam rumah.
"Enyahlah brengsek! Beraninya kau masuk kerumah ku ini!"
"Santailah sayang, aku tidak akan mengganggumu. Aku hanya ingin dengan ibumu yang cantik ini" jawab lelaki itu sambil mencium ibunya. Tiffany makin naik pitam dibuatnya.
"BINATANG KAU PERGI BRENGSEK" teriak Tiffany sambil memecahkan vas bunga dikamar ibunya itu.
"BIBI, PANGGILKAN SEKURITI! KELUARKAN BINATANG INI DARI RUMAHKU!"
"Ba-baik, non"
Tak perlu lama, sekuriti langsung datang mendatangi nona muda yang sedang emosi itu. Sekuriti-sekuriti tersebut menarik paksa lelaki tersebut keluar dari rumah bahkan tanpa sempat berpakaian.
Setelah dikeluarkan pacarnya tersebut, ibunya Tiffany melotot padanya dari dalam kamar. Tiffany tidak mempedulikannya dan beranjak dari kamar tersebut. Ibunya turun dari kasurnya yang sangat besar, mengejar Tiffany dari belakang, menarik bahunya dan menamparnya.
"Apa kau sudah gila?! Kau membuatku malu dasar anak kurang diajar!"
"Kau yang gila! Ini rumah ayah! Beraninya kau membawa pria kesini! Dan jangan pernah sebut dirimu ibu, ibuku sudah meninggal!!!"
"Apa kau tak pernah diajar oleh ibumu dulu? Pantas dia meninggal melihat anaknya seperti ini"
PLAK!
Tamparan dari Tiffany untuk ibu tirinya itu
"Jangan, sekalipun, kau sebut ibuku. Mengerti?" Tiffany pun pergi meninggalkan ibu tirinya. Ibu tirinya meringis kesakitan. Namun Tiffany tak peduli.
Tiffany naik masuk kamar, mandi lalu bergegas bersiap untuk bekerja. Dia merupakan putri satu-satunya dari keluarga itu. Setelah ibu kandung Tiffany meninggal, ayahnya menikah lagi dengan ibu tirinya ini dan tidak memiliki anak. Tiffany pernah berpikir, jika sempat ayah dan si ****** itu memiliki anak, maka ceritanya tak kalah seru dengan cerita Cinderella. Untung dia bukan perempuan yang jenisnya bak seorang putri. Dia memang orang kaya, namun tak suka dimanja. Dia diajarkan mandiri oleh kedua orang tuanya.
Setelah bersiap, dia keluar kamar menuruni tangga.
"Non, makanannya udah siap"
"Iya Bu, terimakasih. Bibi juga makan lho" sambil tersenyum.
"Hehe, iya non. Nona makan duluan"
"Baiklah"
Begitulah Tiffany, dia lebih sayang bibinya karena telah merawatnya dari kecil daripada ibu tirinya.
Rika sudah berdiri didepan mobil membukakan pintu untuk atasannya.
"Selamat pagi Bu"
"Pagi Rika"
Tiffany masuk kedalam mobil disusul oleh Rika.
Mereka pun berangkat bersama-sama dari rumah itu.
---
"Pagi Bu" sapa karyawan saat Tiffany memasuki perusahaan ayahnya tersebut, Rinjani Corps. Tiffany membalas karyawannya dengan senyuman hangat. Begitu Tiffany dan Rika lewat, semuanya membungkuk hormat pada Tiffany dan juga Rika.
"Bu Rika!" Panggil salah satu akuntan dari resepsionis Rika.
"Iya ada ap?"
"Ini Bu, data-data yang ibu minta kemarin" Rika berhenti sejenak dari langkahnya.
"Ada apa Rik?" tanya Tiffany.
"Ah tidak ada apa-apa bu. Ibu silahkan duluan"
"Baiklah, kutunggu diruangan"
Tiffany meneruskan langkahnya menuju lift.
"Kenapa kau teriak begitu sih didepan Ibu Tiffany. Saya malu lho"
"Hehe maaf Bu, saya tadi sudah menunggu ibu. Jadi reflek pas lihat ibu lewat"
"Dasar kamu" kesal Rika dibalas dengan cengiran akuntan itu.
"Sudahkan?"
"Iya Bu sudah. Hehe terimakasih Bu"
"Ehm iya, sama-sama"
Rika menyusul atasannya tadi dengan cepat menggunakan lift ke lantai teratas gedung Rinjani Corps itu.
---
Hehe gimana2? Minta sarannya dong agar episode selanjutnya lebih baik😊