
Pernikahan digelar mewah. Banyak keluarga ibu dan ayahnya Tiffany. Kerabat-kerabatnya juga banyak yang datang. Ibu tiri Tiffany juga hadir di acara tersebut. Karyawan-karyawan perusahaan Tiffany juga semua datang. Bahkan banyak media yang meliput mereka. Mereka terkejut karena mempelai pria nya adalah seorang OB. Dari pihak Gerard sendiri, tidak banyak yang datang. Hanya teman-temannya semasa bekerja sebagai OB.
"Ah, si OB tampan sudah menikah hiks" sedih salah satu akuntan yang suka melirik Gerard setiap kali Gerard sedang bersih-bersih bagian luar gedung.
"Huhuhuhu, iya sedih sekali" jawab temannya.
Rika yang tak jauh dari mereka langsung berkata,
"Hahahha, ia tak berjodoh bahkan salah satu pun dari kalian"
Rika datang bersama pacarnya.
Lalu upacara pernikahan Gerard dan Tiffany pun dimulai. Tiffany tampak sangat cantik dan elegan. Gaunnya kembang berwarna silver. Gaunnya persis seperti Belle di kisah Beauty and The Beast. Namun punya Tiffany lebih indah. Ia membiarkan rambutnya terurai namun ada sedikit sentuhan oleh tata riasnya. Semua orang terpukau dengan pakaiannya.
"Apakah kau, Gerard Antonio, berjanji akan mencintai dan menjaga Tiffany Putri selama sisa hidupmu?"
"Aku berjanji"
"Apa kau, Tiffany Putri, berjanji akan mencintai dan melayani Gerard Antonio selama sisa hidupmu?"
"Aku berjanji"
"Kau boleh mencium mempelai wanita"
Haduh ******, kenapa harus ada ciumannya.
Pikir Tiffany agak kesal.
Apa ibu boleh aku menciumnya. Tapi aku memang ingin sekali menciumnya. Tapi syarat di perjanjian kan tidak boleh.
Keluh Gerard dalam hati.
Dua insan itu hanya tersenyum-senyum agak lama. Lalu, Tiffany menarik Gerard duluan untuk memberi kode sebagai izin boleh menyentuhnya karena Gerard terlihat ragu. Mereka pun berciuman walau hanya mengecup sebentar.
Sorak haru kesenangan dicurahkan oleh seluruh hadiran pernikahan mereka. Pernikahannya berlanjut sampai malam.
Pada saat waktunya menari, mereka yang menikah malah masih duduk dikursi.
"Bu, apa anda mau menari?"
"Ba-baiklah, Fany" kata Gerard sambil menyengir.
"Aku tak pandai menari" kata Tiffany sambil melihat orang-orang sedang menari.
Gerard berdiri lalu membungkuk di depan Tiffany.
"Aku bisa walaupun sedikit lupa, hehe"
Ya ampun, kau tampan sekali tuan. Jas silver mu sangat cocok.
Gerard mengulurkan tangannya dan diterima oleh Tiffany. Ia mengajak Tiffany turun dari tempat duduknya ke lantai dansa. Lampu sorotnya seketika ke arah mereka berdua. Yang menari disitu tiba-tiba berhenti. Alunan musik mengiringi khusus untuk mereka berdua.
"Aku tak bisa menari Gerard" bisiknya pelan.
"Kau bisa, letakkan ini disini dan ini disini" Gerard meletakkan tangan sebelah kiri Tiffany di dadanya dan tangan sebelah kanan digenggamnya. Sedangkan tangan sebelah kiri Gerry memegang pinggang Tiffany.
Tiffany menunduk ke bawah karena benar-benar tak tau arah kakinya.
"Hei, lihat aku" kata Gerard pelan.
"Percayalah, kau bisa" lanjutnya.
Aku ingin menciumnya, aku ingin memeluknya. Hah, jangan kau bawa jiwa bejatmu disaat seperti ini Gerard. Dasar bodoh!
Gerard lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiffany melihatnya seperti itu.
"Kau kenapa?" Tanya Tiffany
"Ah tidak, kamu terlihat cantik" jawab Gerard dengan senyum.
"Jaga bicaramu" kata Tiffany kesal karena semakin malu. Gerard hanya tersenyum.
"Aahhh pangerankuuuuuu" kata beberapa wanita yang menyaksikan mereka berdansa. Sedangkan wanita memuja si mempelai pria. Yang pria memuja sang mempelai wanita.
"Kan sudah kubilang, dia bukan jodohmu!" tawa seorang pria pada temannya yang tampak tak senang menghadiri pesta itu.
Selain itu, ada pula ibu tirinya, yang berpikir bahwa ada motif dibalik pernikahan ini. Karena acara masih berlangsung, dia hanya tetap menikmatinya sampai selesai.