
Gerard keluar dari ruangan Tiffany. Saat keluar, sebenarnya dia sendiri agak terkejut karena wanita itu adalah wanita yang ia jumpai tadi malam. Namun, ia sangat senang. Ia tak perlu meladeni terlalu banyak wanita malam lagi, karena ia harus diluar rumah sampai malam.
Hah, beruntunglah dia menerimaku. Tapi, mana Rika.
Ia pergi mencari Rika. Akhirnya ia menemui Rika saat hendak menuruni lantai dengan lift.
"Hei, bagaimana?" Tanya Rika.
"Aku diterima"
"Baguslah, kata Bu Tiffany kau harus mulai bekerja hari ini"
"Sungguh?" Gerard terkejut lagi karena itu sangat tiba-tiba. Dipikirnya dia akan bekerja mulai besok atau lusa.
"Iya, aku sungguh-sungguh. Kenapa terkejut begitu?" tanya Rika heran
"Hm. Baiklah, apa aku harus memakai baju OB seperti biasanya?"
"Sudah disediakan di ruangan untuk OB. Kau pergi saja ke lantai 1, ruangan OB sebelah kiri para akuntan. Masuk lorong, ruangannya di sebelah kanan. Paham?"
"Baiklah"
Lift berbunyi karena tiba di lantai 4, tempat ruangan Rika berada.
"Baiklah, sampai jumpa nanti" kata Rika sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Iya" jawab Gerard singkat.
Tibalah di lantai 1, lantai dimana Gerard memulai semuanya di gedung itu.
---
"Hei, anak muda!" Sapa salah satu OB disitu.
Gerard mendatangi seorang pria paruh baya yang memanggilnya. Pria itu berdiri didepan suatu ruangan. Ruangan itulah yang ia cari.
"Apa kau akan bekerja disini?"
Gerard mengangguk. Dia tetap dengan muka datarnya yang membuatnya terlihat tegas karena rahangnya yang kuat.
"Jangan terlalu serius begitu. Jika kau memulai sesuatu dengan tidak ada perasaan, maka sesuatu yang kau kerjakan akan terasa lambat. Setidaknya semangatlah sedikit" kata pria itu sambil menepuk lengan atas Gerard.
"Oh ya, namaku Kyle. Aku punya satu istri dan tiga anak dirumah. Kau?"
Kyle mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
Gerard menunduk melihat tangan Kyle itu. Ia lalu menjabat tangannya.
"Aku Gerard"
"Kau sendiri anak muda?"
"Aku tinggal bersama pamanku" jawab Gerard dengan sedikit senyum.
"Kau merantau?"
"Tidak"
Kyle paham melihat raut wajah Gerard yang mulai murung. Yang tandanya ia ditinggal orang tuanya.
"Hahaha, baiklah. Selamat menempuh kehidupan ini nak" kata Kyle sambil tertawa ramah terhadap Gerard.
Gerard membalasnya dengan senyumnya.
Setelah obrolannya dengan Kyle, Gerard langsung mengganti bajunya dan memakai baju OB nya. Ia langsung membawa peralatan kebersihan keluar dari ruangan itu.
Ia mulia dengan mengepel bagian terluar gedung tersebut. Para akuntan yang melihatnya dari pintu kaca, berbisik-bisik sambil melihatnya.
"Hei, bukankah ia tampan?"
"Iya, sangat seksi!"
"Dia tidak cocok jadi tukang bersih-bersih"
"Lihat keringatnya, ya ampun. Aku ingin mengelapnya kesana"
"Ayolah tanya padanya"
"Tapi aku malu"
"Aku juga"
Rika mendatangi akuntan tersebut dengan membawa map. Para akuntan itu terkejut dan segera berdiri dari tempat duduknya. Selain Tiffany, mereka juga menghormati Rika sebagai tangan kanan Tiffany. Rika terlihat agak ceroboh pada Tiffany, namun tegas pada bawahannya.
"Hei, apa yang kalian rundingkan"
"Ma-maaf Bu, tidak ada"
"Ini, nanti ada seorang tamu dari perusahaan lain yang akan datang. Kalian pastikan dulu ia siapa, profilnya ada di map ini. Jangan sampai kalian salah orang, paham?"
"Baik Bu, kami paham"
Sebelum Rika pergi, ia berbalik badan lagi. Yang membuat kaget akuntan-akuntan itu karena hampir duduk.
"Jangan meliriknya terus. Kalian harus bersikap profesional disini"
Kata Rika tegas.
****** aku
Kata benak salah satu wanita akuntan itu.
"Ah-ah, iya Bu. Siap" katanya.
"Baguslah" jawab Rika meninggalkan mereka.
---
TOK TOK TOK
"Iya, masuk"
"Maaf Bu, waktunya makan siang. Apa ibu mau ke kantin, atau saya pesankan makanan dari restauran yang ibu minati?"
Tiffany sebenarnya ingin sekali ke kantin. Tapi, melihat lembaran-lembaran file bertumpuk di atas mejanya. Ia jadi mengurungi niatnya.
"Ehm, tidak. Tolong pesankan makanan dari restauran XC ya. Aku ingin sekali makan ayam filletnya"
"Baik Bu"
Saat Rika pergi dan menutup pintu ruangannya. Tiffany meregangkan badannya dan kembali memilah lembaran itu.
---
Saat keluar dari gedung, semua karyawan membungkuk padanya. Itu sudah waktunya pulang. Tiffany baru saja sampai di lantai satu. Rika mengikuti langkah Tiffany dari belakang.
"Sore Bu" karyawan laki-laki menyapanya.
"Sore juga"
Tiffany membawa beberapa makanan yang ia pesan sengaja berlebih, karena biasanya dia akan memberi pada Kyle, OB gedung itu.
"Bu, saya panaskan mobil dulu ya" kata Rika.
"Iya Rik, saya ke ruangan OB dulu"
Saat Tiffany mendatangi ruangan itu, terlihat ada seorang pria telanjang dada yang sedang mendinginkan badannya. Tiffany melirik sinis sedikit lalu manatap ke ruangan yang di depannya lagi.
Haduh, aku jadi panas begini. Mana sih pak Kyle. Oh iya, aku bahkan belum memanggilnya. Hei pria, pakai bajumu ini masih di gedungku.
"Pak Kyle!" Jerit Tiffany agak keras karena salah tingkah.
"Bu" Gerard mendatanginya.
"Kyle sedang mandi, apa ada yang mau disampaikan?" Lanjutnya.
Ah, tidak, tidak. Kenapa kau yang menyahutku. Pergilah, hush, hush, menjauh.
"Ehm, tidak. Maksudku iya" jawab Tiffany gugup.
Gerard sedikit bingung melihat atasannya itu.
"Ini. Beri ini pada Pak Kyle" lanjut Tiffany sambil menyerahkan makanan itu.
"Berapa Bu?"
"Apanya?"
"Harga makanan ini"
Hei pria, aku ini pemberi makanan bukan penjual makanan.
Geram Tiffany.
"Tidak, tidak perlu dibayar"
"Baiklah, Bu. Terimakasih"
"Iya, sama-sama"
Tiffany pergi dengan cepat meninggalkan Gerard.
Hahaha, wanita lucu. Dia terlihat sangat kecil dengan pakaiannya itu.
Gumam Gerard dalam hati.
Ia tersenyum sendiri melihat kepergian Tiffany itu. Jalannya sangat cepat yang membuat Gerard semakin gemas melihatnya.
Kyle keluar dari ruangannya. Ia memperhatikan Gerard yang tersenyum-senyum sendiri.
"Hei nak, wanita manis bukan?"
Gerard terkejut.
"Eh, i-iya"
Lalu, datanglah segerombolan OB lainnya.
"Dia nona muda manis namun jangan mimpi memilikinya Ger. Hahaha"
"Iya, sadar posisimu. Bisa saja ia dijodohkan dengan pria pewaris perusahaan lainnya" lanjut OB lainnya.
Wajah Gerard sedikit memerah karena malu.
Ah iya... Mana mau wanita seperti dia memiliki seseorang yang miskin bahkan bukan perjaka lagi sepertiku.
Gerard sedikit murung dan menunduk. Melihat itu, Kyle menyemangatinya.
"Ah, sudah! Jangan didengarkan lagi dua pemuda bodoh ini"
Dua orang itu lantas tertawa karena dibilang bodoh oleh Kyle.
"Tak usah dipikirkan kata mereka, takdir kan kau yang menentukan. Lagian, tak usah pikirkan tentang itu. Pikirkan dulu keuanganmu. Paham?
Lanjut Kyle.
"Hahaha, baiklah Kyle. Aku paham" kata Gerard sambil tersenyum. Mereka pun berbenah, membereskan ruangan itu.
---