Him

Him
Bekerja


Tiffany memakirkan mobilnya di garasi. Malam juga larut. Saat masuk kedalam rumah, Tiffany melirik sekitar rumah. Hening, tiada orang lagi di dalamnya.


"Nona"


Tiffany terkejut. Saat menyadari ternyata itu bibinya, Tiffany menghela napas.


"Bibi, aku terkejut"


"Ma-maaf non"


"Ada apa bi?"


"Nyonya tadi keluar non, beruntung nona sekarang sudah kembali"


"Hahhaa, apa urusanku kalau dia keluar"


"Maaf non, saya takut kejadian kemarin. Maaf nona bukan maksud saya mencampuri urusan nona"


Tiffany memanyunkan bibirnya .


"Santai saja bi, nanti aku urus dia. Sebelum dia pulang, tolong kunci semua pintu rumah ya"


"Tapi non, nyonya.."


"Biarkan saja, aku tau dia membawa kunci rumah. Tolong bilang pada sekuriti kalau wanita itu membawa seorang pria lagi, tahan saja mereka berdua agar tidak masuk"


Bibi agak sedikit ragu karena takut dipecat oleh nyonya nya.


"Ta-tapi non.."


"Jangan takut, dia tak punya kuasa apapun atas dirumah ini"


Sambil memegang bahu bibinya. Tiffany lanjut naik ke tangga menuju kamarnya untuk mengistirahatkan badan.


Dan benar saja, sekitar jam 12 ibu tirinya pulang, membawa pria baru lagi yang tak dikenal dengan mobil pribadinya sendiri pemberian ayah Tiffany.


Sekuriti mengetok jendela mobil tersebut saat melewati gerbang. Ibu tirinya pun membuka jendela mobilnya.


"Dasar kalian tak sopan! Ini aku pemilik rumah, beraninya kalian berlaku begitu"


"Maaf nyonya, saya hanya mengecek dan meyakinkan bahwa bukan orang asing"


"Ya emang kenapa kalau aku bawa orang asing!"


"Nona muda melarangnya nyonya"


Ibu tiri Tiffany naik pitam dibuat sekuriti rumahnya sendiri.


"Apa katamu! Kau menghormati siapa sekarang?! Aku bahkan lebih tua disini aku yang lebih terhormat!" Ibu tirinya tancap gas mobilnya, meninggalkan sekuriti-sekuriti di depan gerbangnya.


Sampai di garasi, dia memarkirkan mobilnya didekat mobil anak tirinya.


"Wah sayang, ternyata rumahmu besar sekali" kata pria disampingnya.


"Hahaha, bukan seberapa"


Pria itu mendekatinya dan mencumbunya.


"Ayo lanjut di dalam" kata pria itu.


"Ehm, baiklah"


Mereka pun melepas ciuman itu.


Saat membuka pintu, pintunya dikunci. Ibu tirinya beruntung dia membawa kunci rumah selalu karena tau anak tirinya selalu mengunci pintu rumahnya. Ketika sudah masuk, mereka jalan masih saling mencumbu liar. Mereka terus begitu sambil masuk kedalam kamar.


Tiffany keluat dari kamar dan melihat dari atas bahwa ibu tirinya membawa pria yang tak dikenal. Lagi. Tiffany teriak dari atas.


"Hei binatang! Kalau mau bercinta jangan disini! Kalian menjijikan! Bercinta dirumah orang!"


Seketika mereka berhenti berciuman.


"Sayang, itu siapa"


"Anak suamiku dulu"


"Hahaha ternyata kau janda"


"Diam kau" gertaknya pelan pada prianya.


"Hei ******! Dengar tidak!" Lanjut Tiffany sambil menuruni tangga.


"Tiffany, ibu mohon bolehkan ibu memiliki kekasih baru"


"Ha? Ibu? Heh ******! Kalau kau masih mencintai si brengsek itu, tolong keluar dari rumahku. Kalian sampah!"


"Hei manis, aku tidak mau main kasar padamu. Tapi kau tak semestinya bicara seperti itu pada ibumu"


"Diam kau brengsek!"


"Kau.." pria itu menggeram dan mulai mendekat ke arah Tiffany berdiri.


"Sekuriti, tolong nona dalam bahaya" bisik bibinya berbicara pada walkie talkie nya.


"Baik Bi, kami datang"


Sekuriti itupun datang dengan sigap. Mereka melihat pria itu dibelakang ibu tirinya. Mereka langsung menangkap pria itu dan menarik paksa.


"Maaf tuan, tapi anda sudah membuat keributan dirumah nona"


"Hei! Yang ribut itu mereka! Bukan aku! Hei Rita! Bantu aku!"


"Tinggalkan dia sekuriti!" Perintah Rita, ibu tirinya.


"Maaf nyonya, kami tidak mau nona muda dalam bahaya"


"Kalian berengsek!"


Sekuriti-sekuriti itu menarik paksa pacar baru ibu tirinya itu keluar dari rumah Tiffany.


"Kau itu kenapa mengurus urusanku terus!" Bentak Rita pada Tiffany.


Tiffany naik ke tangga tidak mempedulikan Rita.


"Hei! Kau juga belum menikah! Ayahmu mewariskan harta hanya ketika kau menikah apa kau dengar! Kuserapah kau agar tak pernah menikah!"


"AKU TAK PEDULI! INI HARTA AYAHKU, AKU YANG AKAN MENJAGANYA. AKU TAK PEDULI BAHKAN JIKA HARTA ITU MEMANG BUKAN UNTUKKU!!!" Jawab Tiffany membentak ibu tirinya. Mukanya merah padam karena sangat geram.


"Hahhaa, dasar anak kurang ajar yang bodoh!" Tawa ibunya.


Tiffany masuk ke kamar dengan geram. Dan sedih karena ayahnya begitu bodoh membuat wasiat. Dan juga dalam memilih perempuan.


Ayah, ibu, aku benci kalian meninggalkan aku dengan wanita bodoh ini


---


Paginya, seperti biasa. Tiffany harus berangkat ke kantor dan bergegas bersiap di kamarnya. Tiba-tiba, handphone Tiffany berbunyi. Ada yang meneleponnya.


"Halo?"


"Halo, Bu maaf. Apa ibu sudah bersiap?" Tanya Rika tergesa-gesa.


"Sudah, emang kenapa?"


"Maaf Bu, saya agak telat. Saya mohon maaf Bu"


"Lah? Kenapa minta maaf? Ini kan masih jam 8 pagi. Bahkan belum jam 8 pas"


Rika agak terkejut dengan apa yang dibilang atasannya. Saat melihat HP, ternyata atasannya benar. Masih jam 07.36 pagi.


"Hehe, tadi jam dirumah saya seperti nya mati Bu. Jadi saya pikir sudah jam 9"


"Kamu ini" tawa Tiffany pelan.


"Baik bu, saya segera kerumah ibu sekarang"


Telepon pun mati.


"Untung saja jam ku yang mati. Kalau tidak, mati aku dimarahi ibu Tiffany. Hufft, jam kurang ajar" gumam Rika di mobilnya.


-


Tiffany sedang duduk di kursi tahtanya. Walau dia menjadi atasan dari karyawan-karyawan disana, sebenarnya dia belum disahkan menjadi pemilik perusahaan tersebut. Gedung itu turun temurun dari kakeknya. Peraturan disitu adalah orang yang sudah menikah yang berhak menjabat sebagai pemilik gedung itu.


Hah, aku lelah dengan kertas-kertas ini!


Dia duduk sambil tiduran di mejanya.


TOK TOK TOK


"Permisi Bu"


"Iya silahkan masuk"


Ternyata Rika.


"Ada apa Rik?"


"Gini Bu, perusahaan kan kurang office boy. Apakah kita perlu menambahkannya?"


"Kalau itu menurutmu, ya silahkan"


Rika bersyukur atas apa yang dikatakan atasannya itu.


"Kebetulan Bu, sudah ada yang berminat"


"Ha? Benarkah? Cepat sekali"


"Hehe, dia minta saya bertanya pada ibu. Ini Bu resume nya"


Tiffany tidak begitu tertarik dengan resume. Dia tak menilai orang dari pengalaman. Dia menilai orang dari apa yang dilihatnya. Begitu ia menerima resume tersebut, Tiffany hanya melihat bagian sampulnya saja yang dimana isinya hanya nama.


"Apa orangnya bisa datang hari ini? Agar dia bisa bekerja mulai hari ini juga. Pasti dia sangat butuh pekerjaan"


Wah, Bu Tiffany memang baik hati. Aku mencintaimu Bu, aku akan setia padamu demi apapun! Aku janji!


Kata hati Rika.


"Bisa Bu! Saya akan menelponnya sebentar"


"Oh ya Rik, apa ada meeting hari ini?"


"Ada Bu, 2 jam sebelum makan siang"


Ya Tuhan! Kenapa manusia-manusia ini hobi banget meeting. Aku bosan mendengarkan orang berbicara panjang.


Jerit Tiffany dalam hati


"Ya sudah, nanti saja kalau orangnya sudah datang, kamu kembali kesini. Saya mau selesaikan ini dulu semua"


"Baik,Bu! Terimakasih"


"Iya Rik"


Rika pun keluar dengan gembira, dia merasa sangat berguna bagi temannya itu. Diluar Rika gembira, kebalikan dengan atasannya yang begitu lelah dengan semua lembaran yang di depannya. Belum lagi persiapan meeting yang belum disiapkannya dengan matang.


---


Waktu makan siang Tiffany diisi dengan tidur. Dia sangat lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan orang-orang di meetingnya. Dia berpikir padahal yang ditemuinya semua orang berkualitas, kenapa masih bertanya banyak hal.


TOK TOK TOK


Tiffany tidak menjawab karena masih berlabuh dalam mimpi.


TOK TOK TOK


"Permisi Bu"


Tiffany langsung bangkit dari tidur di sofanya dan duduk dengan rapi. Ia sangat terkejut.


"I-iya silahkan"


Rika pun masuk ke kantor.


"Maaf Bu menganggu istirahatnya. Saya membawa orang yang mau bekerja disini"


"Oh, baiklah, silahkan"


Orang itu masuk ke dalam ruangan Tiffany. Badannya seperti tidak asing baginya.


"Ini Bu, orangnya"


Tiffany terkejut karena yang dilihatnya adalah pria yang bersamanya tadi malam. Pria itu pun ikut sedikit terkejut.


"Ba-baik. Rika, bisa tinggalkan saya dengan dia. Saya mau wawancara dulu"


"Baik Bu"


Rika pun meninggalkan mereka berdua dalam ruangan tersebut.


"Silahkan duduk"  kata Tiffany dengan agak gugup.


Yang mau diwawancara sebenarnya siapa, dia atau aku sih. Kok aku yang gugup.


"Jadi, Gerard Antonio?"


"Iya Bu" jawab Gerard pelan.


"Apa alasan kamu mau bekerja disini?"


"Untuk mendapat sedikit pemasukan Bu" jawabnya.


"Kamu tau apa yang akan kamu kerjakan?"


"Tentu bu"


"Apa kamu bisa bekerja dengan baik?"


"Tentu bisa Bu" jawab Gerard dengan sigap.


"Baiklah, kamu diterima"


"Terimakasih Bu" Gerard tersenyum bahagia dirinya diterima.


Setelah itu, ia mendatangi meja Tiffany untuk menyalami dan bilang terimakasih. Tiffany pun terima, dia berdiri dan salaman dengannya. Lalu Tiffany berbisik sedikit.


"Katamu namamu Gerry"


"Panggilan saya Gerry Bu, nama saya Gerard"


"Hah, kau menjijikan berbicara formal begitu"


"Disini saya panggil ibu, ibu, diluar saya panggil ibu, Fany" sambil senyum


"Terserah" jawab Tiffany dengan sikap acuh.


Tiffany kembali duduk sedangkan Gerard keluar. Tiffany jadi kepikiran, bagaimana bisa Gerard berada disitu. Ia kembali memeriksa latar belakang Gerard yang sama sekali tidak sekolah. Bahkan Gerard hanya tamat SD kelas 1. Tapi bagaimana bisa badannya sebagus itu? Dia tak tamat sekolah tapi pergi ke gym? Apa mungkin?


Tapi dia seksi juga, hihi.


Dia melamun tersenyum-senyum. Tiba-tiba ia sadar dengan lamunan anehnya.


Ah! Tidak, tidak, tidak!


Lamunan Tiffany buyar, lalu ia menutup resume Gerard tadi.


---